Kalender Jawa Weton Hari Ini dalam Perspektif Islam

AKURAT.CO Dalam tradisi masyarakat Jawa, sistem penanggalan Jawa dan konsep weton masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang masih menggunakan weton untuk menentukan hari baik, memperingati kelahiran, hingga mencari kecocokan dalam pernikahan.
Misalnya, pada Rabu, 22 Oktober 2025, menurut kalender Jawa bertepatan dengan 29 Bakda Mulud 1959, dengan pasaran Pahing. Maka wetonnya adalah Rabu Pahing, yang oleh masyarakat Jawa dipercaya memiliki watak tegas, tekun, dan berpotensi sukses besar.
Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap praktik mempercayai weton dan perhitungan hari baik semacam ini?
Dalam perspektif Islam, pengetahuan tentang waktu, bulan, dan peredaran langit memang memiliki dasar ilmiah dan syar‘i. Islam juga mengenal sistem penanggalan lunar (qamariyah), sebagaimana firman Allah dalam surah Yunus ayat 5:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menetapkan bagi keduanya manzilah-manzilah (tempat-tempat peredaran) agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memang menurunkan sistem peredaran bulan dan matahari agar manusia bisa menghitung waktu dan mengatur kehidupan. Artinya, penggunaan kalender — baik Hijriah, Masehi, atau Jawa — tidaklah dilarang selama tujuannya untuk kemaslahatan, bukan untuk ramalan nasib atau takhayul.
Baca Juga: Kado Hari Santri, Gubernur Ahmad Luthfi Luncurkan Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren
Masalah muncul ketika weton dianggap dapat menentukan keberuntungan, jodoh, rezeki, atau nasib seseorang. Pandangan semacam ini tidak sesuai dengan akidah Islam, karena hanya Allah-lah yang mengetahui dan menetapkan takdir makhluk-Nya. Nabi Muhammad SAW dengan tegas melarang keyakinan semacam itu, sebagaimana sabdanya:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Artinya: “Barang siapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Hadis ini menjadi peringatan bahwa mempercayai ramalan yang bersumber dari perhitungan weton termasuk dalam kategori tathayyur (percaya pada pertanda), yang bisa menjerumuskan kepada syirik kecil. Rasulullah SAW juga bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
Artinya: “Percaya pada pertanda (tathayyur) itu termasuk syirik, percaya pada pertanda itu termasuk syirik.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Maka, dalam pandangan Islam, kalender Jawa dan weton bisa dihormati sebagai bagian dari tradisi dan kearifan lokal, sejauh tidak dijadikan dasar keyakinan spiritual atau penentu takdir. Islam menghargai budaya selama tidak bertentangan dengan tauhid. Rasulullah SAW sendiri bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Dari sinilah, umat Islam diajak untuk bersikap bijak dan proporsional terhadap budaya lokal seperti weton. Jika digunakan sebagai bagian dari penanggalan, pelestarian adat, atau sarana mengenang nilai historis budaya Jawa, maka hal itu boleh dan bahkan bernilai positif.
Tetapi jika dipakai untuk menilai nasib, mengatur keputusan hidup berdasarkan ramalan, atau menentukan “hari sial dan hari mujur,” maka hal itu bertentangan dengan prinsip tauhid.
Islam mengajarkan bahwa nasib baik dan buruk tidak ditentukan oleh tanggal, arah angin, atau perhitungan hari, melainkan oleh amal saleh dan doa seorang hamba. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Baca Juga: 10 Bahaya yang Menghantui Indonesia Jika Tidak Ada Kiai dan Pesantren
Dengan demikian, memahami weton dari sudut budaya boleh saja, selama tidak menyinggung akidah dan tidak dijadikan sandaran keyakinan. Yang paling penting, setiap Muslim hendaknya meyakini bahwa semua keputusan hidup berada di tangan Allah, bukan di tangan angka, hari, atau hitungan manusia.
Maka, jika seseorang lahir pada Rabu Pahing atau hari lainnya, itu hanyalah takdir waktu yang Allah pilihkan — bukan penentu nasib, tetapi peluang untuk beramal saleh. Islam mengajarkan bukan mencari “hari baik”, melainkan menjadikan setiap hari sebagai hari yang baik dengan kebaikan amal dan doa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









