Akurat

10 Bahaya yang Menghantui Indonesia Jika Tidak Ada Kiai dan Pesantren

Lufaefi | 22 Oktober 2025, 08:46 WIB
10 Bahaya yang Menghantui Indonesia Jika Tidak Ada Kiai dan Pesantren

AKURAT.CO Dalam sejarah panjang Indonesia, kiai dan pesantren bukan hanya lembaga keagamaan, tetapi juga pilar kebudayaan, pendidikan, dan penjaga moral bangsa.

Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era digital hari ini, peran pesantren dan para kiai terbukti krusial dalam menjaga keutuhan sosial serta arah moral masyarakat.

Tapi pernahkah kita berpikir, apa yang akan terjadi jika suatu hari Indonesia kehilangan para kiai dan pesantrennya?

Ketiadaan dua elemen ini bukan sekadar hilangnya lembaga pendidikan agama, melainkan potensi krisis multidimensi — spiritual, sosial, hingga politik.

Berikut sepuluh bahaya besar yang bisa menghantui Indonesia jika pesantren dan kiai tidak lagi hadir di tengah masyarakat.

Baca Juga: Sejarah Hari Santri Nasional, Bermula dari Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari

  1. Hilangnya Penjaga Moral Bangsa
    Kiai berfungsi sebagai penjaga akhlak publik. Tanpa mereka, masyarakat kehilangan figur teladan yang menanamkan nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab. Akibatnya, etika sosial bisa menurun drastis dan korupsi moral akan makin marak.

  2. Runtuhnya Tradisi Keilmuan Islam di Indonesia
    Pesantren selama berabad-abad menjadi pusat transmisi ilmu keislaman — dari tafsir, fikih, hingga tasawuf. Jika pesantren hilang, mata rantai keilmuan klasik Islam akan terputus. Generasi muda Muslim akan kehilangan akses terhadap pemahaman agama yang mendalam dan berimbang.

  3. Meningkatnya Radikalisme dan Fanatisme Buta
    Pesantren tradisional dikenal dengan corak Islam moderatnya. Ketiadaan mereka akan membuka ruang bagi paham ekstrem yang tumbuh tanpa kendali. “Kiai dan pesantren adalah tembok terakhir penangkal radikalisme,” kata pengamat Islam moderat, Dr. Ahmad Zaini.

  4. Hilangnya Pusat Moderasi Beragama
    Moderasi bukan teori, tapi praktik keseharian di pesantren. Santri dilatih berpikir toleran dan menghormati perbedaan. Jika pesantren tidak ada, moderasi bisa digantikan oleh polarisasi, di mana agama dijadikan alat politik dan sumber perpecahan.

  5. Krisis Keteladanan Sosial dan Spiritual
    Kiai adalah figur moral yang dihormati lintas golongan. Mereka menjadi panutan bukan karena kekuasaan, tetapi karena integritas dan keikhlasan. Tanpa sosok seperti mereka, masyarakat berisiko kehilangan orientasi moral dalam kehidupan sosial dan beragama.

  6. Pudarnya Kearifan Lokal dan Tradisi Islam Nusantara
    Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tapi juga pusat budaya. Di sana tersimpan khazanah Islam Nusantara — dari kesenian religi, kitab kuning, hingga tradisi selametan. Hilangnya pesantren berarti musnahnya warisan intelektual dan spiritual bangsa yang unik.

  7. Generasi Muda Kehilangan Arah Spiritual
    Pesantren menjadi tempat pembinaan generasi muda agar cerdas intelektual dan bersih spiritual. Tanpa pembimbing seperti kiai, anak muda bisa mudah terseret arus hedonisme, materialisme, dan krisis eksistensial. “Santri itu bukan sekadar pelajar agama, tapi penjaga masa depan bangsa,” ujar seorang pengasuh pesantren di Cirebon.

  8. Kehilangan Sumber Dakwah yang Santun dan Mencerahkan
    Dakwah para kiai selalu berangkat dari hati, penuh hikmah, dan jauh dari ujaran kebencian. Tanpa mereka, ruang dakwah bisa dikuasai oleh figur yang kurang memahami adab, sehingga Islam ditampilkan secara kasar dan menakutkan.

  9. Menurunnya Ketahanan Sosial dan Kemanusiaan
    Pesantren selama ini berperan besar dalam kegiatan sosial — dari bantuan bencana hingga pendidikan gratis bagi masyarakat miskin. Jika pesantren hilang, fungsi sosial ini akan kosong, meninggalkan kesenjangan yang lebar antara kelompok kaya dan miskin.

  10. Hancurnya Jaringan Spiritualitas Kolektif Bangsa
    Kiai dan pesantren menjadi simpul spiritual masyarakat. Di sana ada majelis zikir, pengajian, dan tradisi keagamaan yang menumbuhkan kebersamaan. Tanpa itu, masyarakat bisa terjebak dalam individualisme ekstrem dan kehilangan rasa persaudaraan.

Baca Juga: Selangkah Lagi, Ditjen Pesantren Akan Diresmikan Jadi Kado Hari Santri Nasional 2025

Sejarah membuktikan bahwa pesantren dan kiai bukan sekadar penjaga agama, melainkan juga benteng peradaban bangsa. Mereka membentuk karakter kebangsaan yang religius, beradab, dan berkeadilan.

Karena itu, menjaga keberadaan pesantren bukan hanya tugas pemerintah atau umat Islam, tetapi kewajiban seluruh anak bangsa. Sebab jika kiai dan pesantren hilang, Indonesia bukan hanya kehilangan tempat belajar agama — tetapi juga kehilangan jiwanya sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.