Gencatan Senjata Israel dan Gaza, Apakah Tanda Kiamat Sudah Dekat?

AKURAT.CO Setelah bertahun-tahun dunia menyaksikan konflik yang tiada henti di tanah suci Palestina, kabar gencatan senjata antara Israel dan Gaza akhirnya datang dari KTT Perdamaian di Mesir.
Perjanjian yang dihadiri para pemimpin dunia, termasuk Presiden Prabowo Subianto, Presiden AS Donald Trump, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, disambut dengan lega — tapi juga dengan rasa waswas.
Di tengah gegap gempita deklarasi perdamaian itu, muncul pertanyaan yang menggema di hati banyak umat Islam: apakah ini pertanda kiamat sudah dekat? Apakah perdamaian di Tanah Palestina justru bagian dari skenario besar akhir zaman yang telah disinggung dalam hadis-hadis Rasulullah ﷺ?
Fenomena ini menarik untuk ditelaah, bukan dengan sensasi, tapi dengan pendekatan ilmiah dan teologis yang rasional.
1. Palestina: Pusat Konflik yang Dikisahkan Sejak Zaman Nabi
Tanah Palestina bukan sekadar wilayah geopolitik biasa. Dalam sejarah kenabian, wilayah ini adalah saksi dari pergulatan panjang antara kebenaran dan kebatilan. Di sinilah para nabi diutus, dari Ibrahim hingga Isa ‘alaihissalam, dan di sinilah pula konflik spiritual dan politik dunia berulang kali berpuncak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ »
“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran, tidak akan memudaratkan mereka orang-orang yang menentangnya, hingga datang ketetapan Allah dan mereka tetap seperti itu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa kelompok ini berada di sekitar Baitul Maqdis (Yerusalem). Artinya, perlawanan dan perjuangan di bumi Palestina bukan sekadar konflik politik, tetapi juga bagian dari narasi kenabian yang akan terus berlangsung hingga mendekati akhir zaman.
2. Gencatan Senjata: Damai Sementara atau Bagian dari Ujian Akhir Zaman?
Jika kita menilik dari sisi teologis, perdamaian sementara di wilayah yang sejak lama menjadi titik api dunia justru bisa menjadi momentum ujian besar bagi manusia.
Dalam beberapa tafsir hadis akhir zaman, disebutkan bahwa sebelum munculnya Dajjal, akan ada masa-masa damai semu — saat manusia mengira semua persoalan dunia telah selesai, padahal sesungguhnya tengah disiapkan babak baru yang lebih besar.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang perjanjian antara kaum Muslimin dan bangsa Romawi (Barat):
« سَتُصَالِحُونَ الرُّومَ صُلْحًا آمِنًا، ثُمَّ تَغْزُونَ أَنْتُمْ وَهُمْ عَدُوًّا مِنْ وَرَائِكُمْ »
“Kalian akan mengadakan perjanjian damai yang aman dengan bangsa Romawi, kemudian kalian dan mereka akan memerangi musuh bersama di belakang kalian.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini sering dikaitkan oleh para ulama dengan situasi global di mana bangsa-bangsa besar mengadakan kesepakatan damai, lalu bersekutu menghadapi ancaman lain.
Maka, bisa jadi perdamaian Gaza ini adalah bagian dari dinamika besar dunia menuju tatanan global yang baru — bukan akhir dari segalanya, tetapi justru pembuka babak baru dalam sejarah kemanusiaan.
Baca Juga: MPR: Kehadiran Prabowo Bukti Pengakuan Dunia terhadap Peran Indonesia untuk Perdamaian Palestina
3. Palestina dalam Peta Eschatologi Islam
Dalam literatur hadis, Palestina disebut sebagai wilayah yang kelak akan menjadi pusat peristiwa akhir zaman. Di sinilah Dajjal akan turun, di sinilah Nabi Isa ‘alaihissalam akan membunuhnya, dan di sinilah pasukan kebenaran akan bertempur melawan pasukan kezaliman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« يَنْزِلُ عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِيَّ دِمَشْقَ »
“Isa bin Maryam akan turun di menara putih sebelah timur Damaskus.” (HR. Muslim)
Damaskus — yang hanya berjarak ratusan kilometer dari Gaza — menjadi simbol wilayah Syam yang meliputi Suriah, Lebanon, Yordania, dan Palestina. Maka, setiap perubahan besar di kawasan ini, baik perang maupun perdamaian, selalu memiliki resonansi eskatologis dalam pandangan Islam.
Namun, penting dicatat bahwa Rasulullah ﷺ juga melarang umatnya untuk menebak-nebak kapan kiamat datang. Dalam hadis sahih disebutkan:
« مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ »
“Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya (tentang waktu kiamat).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, meski tanda-tanda bisa kita baca, tetapi waktu pastinya hanya Allah yang tahu.
4. Hikmah Spiritual di Balik Gencatan Senjata
Kabar damai di Gaza semestinya bukan membuat kita lalai, tetapi justru menumbuhkan kesadaran spiritual. Perdamaian sejati tidak mungkin lahir tanpa keadilan.
Maka, selama Palestina belum benar-benar merdeka dan berdaulat, umat Islam tetap punya tanggung jawab moral dan politik untuk terus mendukung mereka.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih).”
Gencatan senjata bisa jadi adalah ruang yang Allah berikan agar manusia memperbaiki diri, memperkuat solidaritas, dan mengembalikan orientasi perjuangan kepada nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan.
5. Tanda Kiamat yang Sebenarnya: Hilangnya Rasa Keadilan
Dalam banyak riwayat, tanda-tanda kecil kiamat bukan hanya bencana alam atau perang besar, tetapi juga ketika manusia mulai abai terhadap nilai-nilai kebenaran. Rasulullah ﷺ bersabda:
« إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ »
“Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah datangnya kiamat.” (HR. Bukhari)
Ketika dunia lebih sibuk dengan politik daripada kemanusiaan, ketika perdamaian dijadikan komoditas diplomasi, dan ketika penderitaan rakyat Gaza dianggap sekadar statistik — mungkin itulah tanda-tanda kecil bahwa akhir zaman memang semakin dekat.
Baca Juga: Mengenal Mediasi dalam Islam: Apa yang Boleh dan yang Tidak Boleh dalam Perdamaian
Gencatan senjata antara Israel dan Gaza patut disyukuri, tapi juga harus disikapi dengan kewaspadaan spiritual. Islam tidak mengajarkan pesimisme, melainkan kesadaran.
Kita tidak tahu apakah ini pertanda kiamat atau bukan, tetapi yang pasti: setiap kejadian besar di dunia adalah panggilan untuk memperbaiki diri dan memperkuat iman.
Karena sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 187:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: kapan terjadinya? Katakanlah: sesungguhnya pengetahuan tentang itu hanya di sisi Tuhanku.”
Maka tugas kita bukan menebak waktu, tetapi menyiapkan diri. Perdamaian boleh terjadi di Gaza, tapi peperangan terbesar — melawan hawa nafsu dan kelalaian hati — justru ada di dalam diri kita masing-masing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










