Akurat

Cuaca Panas di Indonesia, Sejauh Mana Bandingnya dengan Panasnya Api Neraka?

Lufaefi | 16 Oktober 2025, 09:00 WIB
Cuaca Panas di Indonesia, Sejauh Mana Bandingnya dengan Panasnya Api Neraka?

AKURAT.CO Cuaca panas ekstrem beberapa pekan terakhir membuat masyarakat Indonesia merasa seolah hidup di bawah tungku raksasa. Suhu udara di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Denpasar mencapai 36 hingga 37 derajat Celsius.

Bahkan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini disebabkan oleh pergeseran posisi semu matahari ke arah selatan yang membuat sinar matahari lebih tegak lurus terhadap wilayah Indonesia bagian tengah.

Namun, di tengah keluhan masyarakat tentang panas yang menyengat, Islam mengajarkan agar fenomena ini dijadikan bahan renungan. Panas dunia, betapapun tinggi suhunya, sejatinya hanyalah bayangan kecil dari panas yang jauh lebih dahsyat: panasnya api neraka.

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan umatnya bahwa panas di dunia ini hanyalah bagian yang sangat kecil dari panas di akhirat kelak.

1. Panas Dunia Hanya Satu Bagian dari Panas Neraka

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ نَارَكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ»

Artinya: “Sesungguhnya api kalian di dunia ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka Jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa perbandingan ini bukan sekadar angka matematis, tetapi gambaran simbolik tentang betapa dahsyatnya panas api neraka. Jika panas 37 derajat Celsius saja sudah membuat manusia tak nyaman, maka panas neraka — yang dikalikan 70 kali lipat — jelas berada di luar batas kemampuan makhluk untuk menahannya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menulis bahwa perbandingan itu tidak hanya menunjukkan kuantitas panas, tetapi juga kualitasnya. Panas dunia masih bisa dirasakan di kulit dan dapat dihindari dengan berteduh atau air, sedangkan panas neraka membakar sampai ke hati dan jiwa, tidak bisa dilawan oleh apapun kecuali rahmat Allah.

2. Api Neraka Bukan Sekadar Panas, Tapi Penderitaan yang Menyeluruh

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ ۝ كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ

Artinya: “Sesungguhnya (api neraka itu) melemparkan bunga api sebesar dan setinggi istana, warnanya seperti unta yang kuning keemasan.” (QS. Al-Mursalat: 32–33)

Ayat ini menggambarkan bahwa api neraka bukan sekadar suhu tinggi, tetapi juga disertai dengan kedahsyatan visual dan kekuatan destruktif yang tak terbayangkan. Api dunia hanya membakar benda fisik, sedangkan api neraka membakar jasad sekaligus menimbulkan rasa yang berulang tanpa kematian.

Allah juga berfirman:

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

Artinya: “Setiap kali kulit mereka hangus terbakar, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain agar mereka merasakan azab.” (QS. An-Nisa: 56)

Dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa penderitaan neraka bersifat kontinu. Sementara panas di dunia bersifat sementara dan bisa mereda, panas di neraka adalah siksaan yang diperbarui terus-menerus.

Baca Juga: 10 Negara Teraman di Dunia bagi Perempuan: Dari Islandia hingga Belanda

3. Mengingat Neraka dari Panas Dunia: Bentuk Pendidikan Spiritual

Islam mendorong umatnya untuk menjadikan fenomena alam sebagai sarana tazakkur (merenung). Ketika merasakan panas yang ekstrem, seseorang diingatkan agar memikirkan nasib dirinya kelak jika tidak memperbaiki amal dan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketika seseorang merasa kepanasan, maka hendaklah ia berdoa:

اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنْ حَرِّ نَارِكَ

Allāhumma ajirnī min ḥarri nārik

Artinya: “Ya Allah, lindungilah aku dari panasnya api neraka-Mu.”

Doa ini bukan hanya permohonan agar cuaca menjadi sejuk, tetapi latihan spiritual untuk menjaga kesadaran akan kehidupan akhirat. Panas dunia menjadi pengingat kecil agar manusia tidak tertipu dengan kesejukan sementara dan melupakan keselamatan yang hakiki di akhirat.

4. Fenomena Panas Dunia sebagai Bukti Kekuasaan Allah

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa panas dan dingin adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan keseimbangan alam. Dalam QS. Al-Furqan ayat 48–49 Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا ۝ لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا

Artinya: “Dan Dialah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih agar Kami hidupkan dengannya negeri yang mati.”

Ayat ini menunjukkan bahwa setelah panas yang menyengat, Allah pasti menghadirkan kesejukan melalui hujan. Fenomena pergantian cuaca menjadi pelajaran tentang keadilan dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.

5. Menjadikan Cuaca Panas Sebagai Momentum Taat dan Bersyukur

Panas dunia dapat menjadi pengingat sekaligus peluang ibadah. Ketika manusia bersabar menghadapi panas, tidak mengeluh berlebihan, dan tetap berbuat baik, maka ia sedang mengumpulkan pahala. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, panas ekstrem bisa menjadi ladang penghapusan dosa, asalkan dihadapi dengan sabar dan syukur. Bagi orang beriman, setiap tetes keringat di bawah panas matahari yang disertai keikhlasan menjadi saksi kesungguhan dirinya dalam berjuang di jalan Allah.

Baca Juga: Cuaca Panas Melanda Indonesia, Ini Doa agar Selamat

Cuaca panas di Indonesia hanyalah secuil dari kekuatan yang Allah ciptakan. Jika panas dunia saja sudah membuat manusia tak kuasa, bagaimana dengan panas neraka yang tujuh puluh kali lipat lebih dahsyat?

Maka setiap kali tubuh terasa terbakar matahari, jadikan itu pengingat untuk lebih mendekat kepada Allah, memperbanyak istighfar, dan memohon perlindungan dari azab akhirat. Karena kesejukan sejati tidak datang dari angin atau hujan, melainkan dari hati yang dekat dengan Tuhan dan jiwa yang dilindungi rahmat-Nya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.