Akurat

Tradisi Pesantren Santri Patuh Kiai Bukan Perbudakan, Tapi Taat pada Guru dan Ilmu

Lufaefi | 7 Oktober 2025, 09:00 WIB
Tradisi Pesantren Santri Patuh Kiai Bukan Perbudakan, Tapi Taat pada Guru dan Ilmu

AKURAT.CO Di tengah derasnya arus modernisasi dan individualisme, tradisi pesantren yang menekankan kepatuhan santri kepada kiai kerap disalahpahami. Tidak jarang muncul komentar sinis yang menyebut ketaatan santri sebagai bentuk “perbudakan intelektual”, seolah santri kehilangan kebebasan berpikir dan bertindak.

Padahal, dalam perspektif keilmuan Islam, ketaatan santri kepada kiai bukanlah bentuk ketundukan buta, melainkan ekspresi adab terhadap ilmu dan guru—sebuah nilai luhur yang justru menjadi fondasi keberkahan dalam belajar.

Pesantren sejak awal berdiri bukan hanya tempat transmisi pengetahuan, tetapi juga laboratorium pembentukan karakter. Kiai berperan bukan sekadar pengajar, tetapi murabbi (pendidik ruhani) yang membimbing santri memahami ilmu sekaligus menghidupkannya dalam amal.

Oleh sebab itu, hubungan santri dan kiai bukanlah hubungan formal antara dosen dan mahasiswa, melainkan hubungan spiritual yang dibangun atas dasar ta’dzim (penghormatan).

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua kami, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengenal hak ulama kami.” (HR. Ahmad).

Baca Juga: Kisah Rafi, Santri yang Wafat dalam Sujud di Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny

Hadis ini menjadi landasan moral tradisi penghormatan kepada guru. Dalam pandangan Islam, seorang guru memiliki hak untuk ditaati selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Ketaatan itu bukan karena figur individunya, tetapi karena kedudukannya sebagai penjaga ilmu.

Para ulama klasik menjelaskan, menghormati guru berarti menghormati ilmu yang dibawanya, dan memuliakan ilmu berarti memuliakan Allah yang menjadi sumbernya.

Tradisi pesantren menanamkan prinsip man laa yahtaramu asy-syaikha, laa yantafi‘u bi ‘ilmihi — “Barang siapa tidak menghormati gurunya, maka ilmunya tidak akan bermanfaat.”

Prinsip ini bukan dogma, melainkan hasil pengalaman spiritual para ulama terdahulu yang menemukan bahwa keberkahan ilmu lahir dari adab.

Imam Malik, misalnya, dikenal sangat memuliakan gurunya, Imam Ja‘far ash-Shadiq, hingga beliau tidak berani duduk di hadapan gurunya tanpa izin.

Imam Syafi‘i juga berkata, “Aku membuka lembaran kitab di hadapan guruku dengan perlahan, karena aku takut halaman kitab itu mengeluarkan suara yang mengganggunya.”

Kepatuhan santri kepada kiai juga memiliki dimensi psikologis dan sosial yang penting. Dalam pendidikan karakter, ketaatan melatih disiplin batin, mengikis ego, dan membentuk kesabaran. Santri belajar untuk tidak menuhankan kehendak diri, tapi menundukkannya demi kebenaran dan adab.

Nilai-nilai ini justru sangat relevan di era sekarang, ketika kebebasan sering disalahartikan sebagai kebolehan untuk menentang segala bentuk otoritas.

Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan pentingnya ketaatan kepada pemimpin dan pembimbing selama dalam kebaikan:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

“Barang siapa taat kepadaku, maka ia telah taat kepada Allah. Barang siapa durhaka kepadaku, maka ia telah durhaka kepada Allah. Barang siapa taat kepada pemimpinnya, maka ia telah taat kepadaku, dan barang siapa durhaka kepadanya, maka ia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Santri Al-Khoziny yang Wafat dalam Tragedi Robohnya Mushala Pesantren Layak Disebut Syahid

Dalam konteks pesantren, kiai adalah amir dalam lingkup pendidikan—pemimpin moral dan spiritual yang mengarahkan santri agar selamat dalam perjalanan menuntut ilmu. Maka ketika santri tunduk kepada arahan kiai, ia sesungguhnya sedang melatih dirinya untuk taat kepada nilai-nilai Islam, bukan kepada manusia semata.

Kritik yang menyamakan ketaatan santri dengan perbudakan kerap muncul dari pandangan luar yang tidak memahami konteks spiritual pendidikan pesantren. Ketaatan di pesantren tidak mematikan daya kritis; justru ia menumbuhkannya melalui disiplin batin.

Santri yang sudah matang dalam adab akan mampu berpikir kritis tanpa kehilangan sopan santun. Inilah yang membedakan pesantren dari sistem pendidikan yang sekadar berorientasi pada intelektualisme kering.

Selain itu, hubungan kiai dan santri bersifat timbal balik. Kiai mendidik dengan kasih sayang, mendoakan murid-muridnya setiap malam, dan memikul tanggung jawab moral atas kemajuan mereka.

Sementara santri menaruh hormat dan kepatuhan sebagai bentuk keikhlasan menerima ilmu. Hubungan spiritual ini menjadikan pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga rumah ruhani yang membentuk karakter bangsa.

Dalam sejarah Islam, tradisi menghormati guru telah melahirkan para ulama besar yang berakhlak luhur. Imam Nawawi, Al-Ghazali, hingga Ibnu Hajar Al-Asqalani tumbuh dari kultur taat dan ta’dzim terhadap guru. Mereka tidak merasa direndahkan, justru merasa dimuliakan karena mendapat kesempatan menimba ilmu dari orang yang lebih alim.

Oleh karena itu, ketika santri menunduk di hadapan kiai, mencium tangan, atau mengikuti arahan dengan penuh hormat, itu bukanlah simbol perbudakan, melainkan simbol adab. Karena dalam Islam, adab lebih tinggi daripada ilmu. Imam Malik pernah berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Pesantren mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kebodohan yang tersamar. Dan adab tanpa ilmu adalah kekosongan tanpa arah. Maka keseimbangan antara keduanya menjadi ruh pendidikan pesantren. Taat kepada guru adalah jalan menuju kebijaksanaan, dan hormat kepada ilmu adalah kunci keberkahan hidup.

Tradisi kepatuhan santri kepada kiai bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi nilai yang justru paling dibutuhkan zaman ini—ketika manusia semakin pandai berdebat namun semakin miskin adab. Pesantren ingin mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak boleh mencabut akar etika.

Karena di ujung setiap perjalanan intelektual, selalu ada satu nilai yang tak lekang oleh waktu: taatlah kepada guru, karena dari ketaatan itulah ilmu menjadi cahaya, bukan sekadar pengetahuan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.