Akurat

Apa yang Boleh dan yang Tidak Boleh Dilakukan saat Terjadi Gerhana Bulan Total di Indonesia?

Fajar Rizky Ramadhan | 7 September 2025, 11:00 WIB
Apa yang Boleh dan yang Tidak Boleh Dilakukan saat Terjadi Gerhana Bulan Total di Indonesia?

AKURAT.CO Fenomena gerhana Bulan total akan kembali menghiasi langit Indonesia pada 7–8 September 2025.

Peristiwa langka ini selalu menarik perhatian, bukan hanya karena keindahan visualnya yang disebut Blood Moon, tetapi juga karena adanya tradisi, etika, serta anjuran keagamaan yang mengiringinya.

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat gerhana Bulan berlangsung?

Perspektif Astronomi: Aman Disaksikan dengan Mata Telanjang

Secara ilmiah, gerhana Bulan berbeda dengan gerhana Matahari. Menyaksikan gerhana Matahari tanpa pelindung bisa berisiko merusak retina, sementara gerhana Bulan sama sekali tidak berbahaya. Cahaya yang dipantulkan Bulan saat memasuki bayangan Bumi tidak mengandung intensitas berbahaya bagi mata manusia.

Karena itu, menyaksikan gerhana Bulan boleh dilakukan dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus. Bahkan, banyak astronom amatir justru memanfaatkan momen ini untuk mengabadikan gambar Bulan dengan teleskop atau kamera.

Yang perlu dihindari hanyalah penyebaran mitos atau informasi keliru yang sering muncul dalam masyarakat, misalnya anggapan bahwa gerhana Bulan berdampak buruk pada kesehatan atau tanda malapetaka. Hingga kini, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim semacam itu.

Baca Juga: Apakah di Arab Saudi ada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW?

Perspektif Keagamaan: Dianjurkan Shalat dan Berdzikir

Dalam Islam, gerhana Bulan menjadi momentum spiritual. Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk melaksanakan shalat khusuf (shalat gerhana Bulan), memperbanyak doa, serta berdzikir ketika fenomena ini berlangsung.

Anjuran ini bukan semata ritual, melainkan juga bentuk kesadaran bahwa peristiwa langit yang menakjubkan adalah tanda kebesaran Allah SWT.

Karena itu, yang tidak dianjurkan adalah menjadikan gerhana sekadar tontonan tanpa renungan spiritual. Tradisi Islam justru mendorong agar fenomena ini disambut dengan introspeksi, sedekah, dan doa, bukan dengan rasa takut berlebihan atau sekadar rasa kagum visual semata.

Perspektif Budaya: Antara Tradisi dan Mitos

Di sejumlah daerah di Indonesia, gerhana Bulan dahulu sering dipandang dengan berbagai mitos, misalnya dianggap sebagai pertanda buruk atau dikaitkan dengan kejadian tertentu. Beberapa tradisi bahkan memukul-mukul benda logam ketika gerhana terjadi, seolah membantu "melepaskan" Bulan dari bayangan gelap.

Dari sudut pandang ilmiah, praktik tersebut tentu tidak memiliki dasar. Namun secara antropologis, tradisi-tradisi ini menjadi bagian dari warisan budaya yang menunjukkan bagaimana masyarakat zaman dahulu menafsirkan gejala alam. Sikap yang tepat adalah menghargai nilai sejarahnya, tanpa harus terjebak pada kepercayaan keliru.

Kesimpulan: Antara Sains dan Spiritualitas

Gerhana Bulan total adalah peristiwa astronomi yang aman dan menakjubkan untuk disaksikan. Secara ilmiah, tidak ada pantangan dalam mengamatinya. Namun, dari sisi keagamaan dan budaya, ada etika dan anjuran yang patut dipertimbangkan.

Baca Juga: 50 Ucapan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H yang Islami dan Penuh Makna

Hal-hal yang boleh dilakukan antara lain: mengamati gerhana dengan mata telanjang atau teleskop, mendokumentasikannya, melaksanakan shalat gerhana, berdoa, serta menjadikannya momen refleksi spiritual.

Sebaliknya, yang sebaiknya dihindari adalah menyebarkan mitos keliru, mengaitkan gerhana dengan takhayul, atau menjadikannya tontonan tanpa makna.

Dengan menggabungkan perspektif sains, agama, dan budaya, masyarakat Indonesia bisa menyambut gerhana Bulan total September 2025 ini sebagai peristiwa yang bukan hanya indah, tetapi juga bermakna bagi kehidupan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.