Tangis Pimpinan Pesantren Nurul Iman Parung Bogor Lihat Kondisi Negeri: Bangsa Indonesia Bangsa yang Sabar

AKURAT.CO Suasana haru menyelimuti ribuan santri Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, ketika pengasuhnya, Dr. Hj. Umi Waheeda, S.Ps.I., M.Si., menyampaikan pesan penuh keprihatinan atas kondisi Indonesia saat ini.
Dalam acara yang berlangsung pada Sabtu (30/8/2025) di Masjid Toha Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Umi Waheeda tak kuasa menahan tangis di hadapan belasan ribu santri.
Beliau terlihat meneteskan air mata melihat situasi bangsa yang diwarnai demonstrasi di berbagai daerah, di mana masyarakat dan mahasiswa turun ke jalan menuntut keadilan kepada pemerintah.
“Tolonglah, kita ini sesama bangsa Indonesia, sesama muslim terutama. Sayangilah satu sama lain. Berhentikan aksi anarkis dan penjarahan. Itu semua tidak akan menyelesaikan masalah apa pun,” ujarnya dengan suara bergetar.
Dalam kesempatan itu, Umi Waheeda juga menyampaikan tiga harapan besar kepada pemerintah. Pertama, agar pajak tidak terus dinaikkan. Ia menegaskan, beban pajak tidak hanya dirasakan kalangan pesantren, tetapi juga masyarakat luas.
Baca Juga: PBB Soroti Dugaan Pelanggaran HAM Demonstrasi di Indonesia, PCO: Sudah Diatensi Presiden
“Tolong, jangan naikkan pajak lagi. Kembalikanlah pajak seperti zamannya Presiden Suharto. Waktu itu, hidup terasa mudah dan ringan bagi rakyat,” katanya.
Kedua, beliau meminta agar harga kebutuhan pokok tidak terus melonjak. Menurutnya, di Singapura harga makanan justru lebih murah dan terjangkau dibandingkan Indonesia, meski kualitasnya lebih bersih dan halal.
“Harga pokok harus semurah-murahnya supaya semua orang bisa menikmatinya. Kalau bisa, diberikan subsidi,” ungkapnya.
Ketiga, Umi Waheeda menyoroti gaji pejabat tinggi negara. Ia meminta agar pemerintah tidak lagi menaikkan gaji para menteri, melainkan menekan praktik korupsi yang selama ini merugikan rakyat kecil.
“Kasihan bangsa kita yang besar tapi dirugikan oleh korupsi. Kita bisa lihat China, dulu hancur karena korupsi, tapi sekarang bangkit jadi negara yang kuat. Indonesia juga bisa jika korupsi dihapuskan,” tegasnya.
Di hadapan belasan ribu santri yang semuanya mendapat fasilitas pendidikan gratis di pesantren tersebut, Umi Waheeda menutup pesannya dengan doa agar bangsa Indonesia tetap sabar.
Baca Juga: Jakarta Kembali Normal Pasca Demo, Transjakarta hingga MRT Masih Gratis Sampai 8 September
“Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang sabar. Insya Allah kita semua akan selamat, mendapat hidayah, dan menuju jalan yang diridai Allah,” tuturnya.
Momen tangis pemimpin pesantren besar di Bogor ini meninggalkan kesan mendalam bagi para santri, sekaligus menjadi pengingat akan kondisi bangsa yang memerlukan kebersamaan, kesabaran, dan kepedulian untuk keluar dari krisis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










