Benarkah Muhammadiyah Pemilik Pesantren Terbanyak di Indonesia? Ini Faktanya

AKURAT.CO Selama ini publik sering mengaitkan pesantren dengan Nahdlatul Ulama (NU), karena tradisi keilmuannya yang berakar pada kitab kuning, sistem sorogan, dan kehadiran kiai sebagai figur sentral.
Namun, di sisi lain, Muhammadiyah juga memiliki jaringan pendidikan Islam yang tidak bisa diremehkan.
Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, muncul anggapan bahwa Muhammadiyah kini memiliki pesantren lebih banyak dibandingkan NU. Benarkah demikian?
Untuk menjawabnya, kita perlu memahami lebih dulu bahwa konsep pesantren di dua ormas besar ini memiliki karakteristik yang berbeda secara historis maupun ideologis.
Pesantren NU tumbuh dari tradisi keulamaan lokal yang berorientasi pada pendalaman ilmu agama klasik—fiqih, tafsir, tasawuf, dan hadis—yang diajarkan secara talaqqi.
Sementara pesantren Muhammadiyah muncul sebagai bentuk integrasi antara pendidikan formal modern dan nilai-nilai keislaman yang disiplin, rasional, serta progresif.
Jika kita meninjau sejarahnya, NU sudah mendirikan ribuan pesantren sejak abad ke-19, jauh sebelum organisasi ini resmi berdiri pada 1926. Pesantren menjadi identitas sosial dan kultural bagi warga nahdliyyin.
Hampir di setiap daerah—terutama di Jawa dan Madura—ada lembaga pendidikan berbasis NU yang lahir dari inisiatif kiai dan masyarakat.
Dalam konteks ini, NU bukan hanya memiliki banyak pesantren, tetapi juga “melahirkan” budaya kepesantrenan yang menyatu dengan kehidupan rakyat kecil.
Baca Juga: Hukum Menggunakan Aplikasi Kencan dalam Islam
Berbeda dengan itu, Muhammadiyah pada masa awal berdirinya lebih menekankan pendidikan modern berbasis sekolah. Fokusnya adalah pembaruan sistem pendidikan Islam agar mampu bersaing dengan pendidikan Barat.
Namun, seiring perkembangan zaman, terutama sejak tahun 1980-an, Muhammadiyah mulai mendirikan pesantren-pesantren modern untuk menyeimbangkan spiritualitas dan intelektualitas.
Lahirnya lembaga seperti Pondok Pesantren Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran (Solo), Darul Arqam (Garut), dan banyak lainnya menunjukkan bahwa Muhammadiyah tak lagi menempatkan pesantren sebagai “pelengkap”, melainkan sebagai pusat kaderisasi ideologis.
Dari sisi kuantitas, NU masih mendominasi jumlah pesantren di Indonesia. Sebagian besar lembaga pendidikan Islam tradisional di bawah koordinasi Kementerian Agama terafiliasi secara kultural dengan NU. Angkanya mencapai puluhan ribu pesantren.
Sementara pesantren Muhammadiyah jumlahnya jauh lebih sedikit, sekitar beberapa ratus hingga seribuan unit di seluruh Indonesia. Meski begitu, dari segi manajemen dan integrasi kurikulum, pesantren Muhammadiyah dikenal tertata, disiplin, dan berorientasi akademik.
Namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah “terbanyak” berarti “terbaik”? Di titik ini, klaim jumlah bukan lagi hal utama. Baik NU maupun Muhammadiyah memiliki peran strategis masing-masing dalam mencetak generasi Islam yang moderat, rasional, dan berakhlak.
Pesantren NU kuat dalam tradisi sanad keilmuan, sedangkan pesantren Muhammadiyah unggul dalam pengelolaan modern dan pembentukan karakter sosial.
Baca Juga: Pagar Nusa Gelar Aksi di Depan KPI dan Komdigi, Desak Pencabutan Hak Siar Trans7
Dengan kata lain, pesantren di kedua ormas besar ini bukan untuk dipertandingkan, melainkan disinergikan. Indonesia memerlukan dua sayap pendidikan Islam ini untuk terbang lebih tinggi: satu menjaga akar tradisi, satu lagi menggerakkan inovasi.
Pada akhirnya, yang menentukan bukan siapa yang terbanyak, tetapi siapa yang paling berkontribusi dalam melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman. Dan di titik itulah, baik NU maupun Muhammadiyah berdiri sejajar sebagai penjaga moral bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










