Akurat

5 Peristiwa Demo Besar dalam Sejarah Islam

Lufaefi | 1 September 2025, 08:30 WIB
5 Peristiwa Demo Besar dalam Sejarah Islam

AKURAT.CO Demonstrasi atau aksi massa sering dianggap sebagai fenomena modern. Namun, dalam sejarah Islam, kita menemukan berbagai peristiwa di mana rakyat, ulama, atau kelompok tertentu berkumpul untuk menyuarakan aspirasi mereka di hadapan penguasa.

Aksi-aksi itu lahir dari keresahan sosial, ketidakadilan politik, atau penolakan terhadap kebijakan penguasa.

Meskipun konteksnya berbeda dengan demonstrasi masa kini, esensi gerakan massa tersebut menunjukkan bahwa umat Islam sejak lama mengenal tradisi kritik dan perlawanan sosial. Berikut lima peristiwa demo besar dalam sejarah Islam.

Pertama, demonstrasi rakyat Madinah terhadap Utsman bin Affan. Pada tahun-tahun terakhir kepemimpinan Khalifah Utsman, muncul kritik keras dari sebagian umat terkait kebijakan pengangkatan pejabat yang didominasi oleh kerabatnya.

Kelompok dari Mesir, Kufah, dan Basrah datang ke Madinah membawa tuntutan. Mereka mengepung rumah Khalifah hingga akhirnya terjadi tragedi besar: terbunuhnya Utsman. Peristiwa ini tercatat dalam Tarikh al-Tabari dan menjadi salah satu momen kelam yang memicu fitnah kubra dalam sejarah Islam.

Baca Juga: Doa saat Melaksanakan Demo, agar Selamat dan Sukses Menyampaikan Aspirasi

Kedua, protes massal terhadap Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Hajjaj dikenal sebagai gubernur yang keras di masa Dinasti Umayyah. Kebijakannya yang represif membuat rakyat Kufah melakukan perlawanan.

Tokoh seperti Abdullah bin al-Zubair dan kemudian tokoh-tokoh dari kalangan ulama serta masyarakat Kufah sering memimpin aksi perlawanan. Meskipun sebagian besar berakhir dengan pertumpahan darah, protes ini menunjukkan penolakan publik terhadap kediktatoran penguasa.

Ketiga, demonstrasi ulama Baghdad menolak ajaran Mu’tazilah. Pada masa Khalifah al-Ma’mun dan penerusnya, doktrin bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dipaksakan kepada ulama. Imam Ahmad bin Hanbal menjadi simbol perlawanan.

Ribuan masyarakat Baghdad turun mendukungnya, menolak pemaksaan ideologi penguasa. Aksi massa ini bukan sekadar perdebatan teologis, melainkan juga perlawanan sosial terhadap otoritarianisme intelektual.

Keempat, demo besar di Kairo pada masa Mamluk. Ibnu Taghri Bardi mencatat bahwa rakyat Kairo kerap turun ke jalan menolak pajak yang memberatkan. Salah satu yang terkenal adalah aksi protes terhadap kebijakan Sultan an-Nashir Muhammad.

Rakyat memenuhi jalan-jalan, menuntut penghapusan pungutan yang mencekik. Tekanan massa akhirnya membuat pemerintah Mamluk mencabut kebijakan tersebut. Ini menunjukkan bagaimana kekuatan rakyat mampu mengubah keputusan politik.

Kelima, demonstrasi di Baghdad abad keempat Hijriyah. Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Muntazham mencatat adanya aksi besar-besaran menuntut ditangkapnya seorang penghujat sahabat Nabi yang dilindungi kepala polisi.

Rakyat marah, keluar berbondong-bondong, dan memenuhi jalan-jalan Baghdad. Peristiwa ini mengguncang otoritas pemerintah, sekaligus menjadi bukti bahwa solidaritas keagamaan dapat menyatukan massa untuk menuntut keadilan.

Baca Juga: Penjarahan Rumah Sri Mulyani dalam Kacamata Fikih Islam

Dari lima peristiwa di atas, terlihat bahwa demonstrasi dalam sejarah Islam lahir dari rasa ketidakadilan dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Namun, sejarah juga mencatat bahwa sebagian aksi berakhir tragis karena berubah menjadi kekerasan. Islam mengajarkan agar perlawanan dilakukan dengan cara yang bermartabat, tanpa merusak, dan tetap menjunjung tinggi nilai persatuan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kritik terhadap penguasa merupakan bagian dari tradisi Islam, tetapi harus dijalankan dengan bijak.

Demonstrasi bukan sekadar melampiaskan amarah, melainkan sarana memperjuangkan keadilan, menjaga agama, dan melindungi umat dari kezhaliman.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.