Akurat

Mengenal Bulan Rabiulawal dan Peristiwa Bersejarah di Dalamnya

Fajar Rizky Ramadhan | 25 Agustus 2025, 09:00 WIB
Mengenal Bulan Rabiulawal dan Peristiwa Bersejarah di Dalamnya

AKURAT.CO Setiap bulan dalam kalender hijriah memiliki nilai dan makna tersendiri, tetapi Rabiulawal menempati tempat istimewa dalam hati umat Islam.

Bukan semata karena ia menjadi bulan ketiga dalam perhitungan qamariyah, melainkan karena pada bulan inilah lahir sosok manusia agung yang kelahirannya mengubah wajah sejarah peradaban manusia: Nabi Muhammad SAW.

Nama Rabiulawal sendiri bermakna “musim semi pertama” dalam bahasa Arab. Pada masa awal, penamaan bulan hijriah memang banyak dikaitkan dengan kondisi alam di Jazirah Arab.

Rabiulawal menandai datangnya musim semi, saat tanah tandus mulai ditumbuhi rerumputan dan kehidupan kembali terasa segar.

Dari makna bahasa ini, umat Islam bisa mengambil simbol bahwa bulan Rabiulawal adalah bulan “kehidupan baru”, bulan datangnya rahmat, dan bulan lahirnya cahaya hidayah bagi seluruh umat manusia.

Baca Juga: Bulan Rabiulawal dan Keistimewaan di Dalamnya, Banyak Muslim Tidak Tahu!

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Peristiwa terbesar dalam Rabiulawal adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menurut mayoritas ulama dan tradisi yang berkembang, beliau lahir pada 12 Rabiulawal Tahun Gajah, bertepatan dengan sekitar tahun 570 Masehi.

Tahun itu disebut “Tahun Gajah” karena bertepatan dengan peristiwa tentara bergajah yang dipimpin Abrahah hendak menghancurkan Ka‘bah, tetapi gagal karena dihentikan oleh pasukan burung ababil sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Fil.

Kelahiran Nabi SAW tidak hanya disambut oleh keluarganya, tetapi juga oleh alam semesta. Riwayat-riwayat klasik menyebutkan bahwa cahaya terang memancar dari beliau hingga istana-istana Persia terlihat terang, sementara berhala-berhala di Ka‘bah roboh dengan sendirinya. Semua itu menjadi tanda bahwa seorang utusan terakhir telah lahir untuk membawa risalah kebenaran.

Hijrah Nabi Muhammad SAW

Selain kelahiran, bulan Rabiulawal juga menjadi saksi peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah. Perjalanan monumental ini menandai babak baru sejarah Islam: dari fase dakwah yang penuh tekanan di Makkah menuju fase pembangunan masyarakat Islami di Madinah.

Ketika hijrah, Rasulullah SAW ditemani Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mereka bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari, hingga akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Madinah.

Saat tiba di Madinah pada Rabiulawal tahun ke-13 kenabian, umat Islam menyambut dengan penuh gembira. Anak-anak Madinah menyanyikan syair legendaris Thala‘a al-Badru ‘Alaina sebagai ungkapan cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Peristiwa lain yang membuat Rabiulawal begitu sarat makna adalah wafatnya Rasulullah SAW. Beliau meninggal dunia pada 12 Rabiulawal 11 H, tepat di usia 63 tahun. Wafatnya Nabi meninggalkan kesedihan mendalam bagi para sahabat, bahkan Umar bin Khattab sempat tidak percaya hingga Abu Bakar menegaskan dengan ayat Al-Qur’an:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul…” (QS. Ali Imran: 144).

Ayat ini menegaskan bahwa meski Nabi wafat, risalah Islam akan tetap abadi sepanjang zaman.

Baca Juga: Doa Guru untuk Muridnya itu Mustajab, Ini Dalilnya dalam Islam

Pelajaran dari Rabiulawal

Bulan Rabiulawal bukan hanya pengingat sejarah, tetapi juga momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dari kelahiran beliau, kita belajar tentang rahmat dan harapan baru.

Dari hijrah beliau, kita belajar tentang pengorbanan dan strategi membangun peradaban. Dari wafatnya beliau, kita belajar tentang keteguhan iman bahwa Islam adalah agama yang akan terus hidup walau ditinggalkan sosok teladan agungnya.

Karena itu, mengingat Rabiulawal berarti mengingat perjalanan spiritual Islam dari awal hingga tegaknya sebuah peradaban besar.

Tradisi memperingati Maulid Nabi yang tumbuh di berbagai belahan dunia bukan sekadar ritual, melainkan sarana untuk terus menyalakan cinta, memperkuat akidah, dan menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.