Begini Tradisi Orang Arab Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

AKURAT.CO Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw adalah salah satu tradisi keagamaan yang berkembang luas di dunia Islam. Akan tetapi, jika menoleh ke Jazirah Arab, tradisinya tampak berbeda dari negara-negara Muslim lain.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan mazhab, kultur, dan cara pandang keagamaan yang cukup beragam di wilayah tersebut. Di Arab Saudi, misalnya, perayaan Maulid Nabi tidak dijadikan sebagai agenda resmi negara.
Hal ini dipengaruhi oleh pandangan keagamaan mayoritas ulama di sana yang menganggap bahwa memperingati hari kelahiran Nabi tidak memiliki dasar syariat yang kuat.
Walau demikian, masyarakat tetap mengekspresikan kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW dengan cara lain, seperti memperbanyak shalawat, mengkaji sirah Nabawiyah, dan menghidupkan majelis ilmu di masjid-masjid.
Suasana cinta kepada Nabi sangat terasa, meski tidak dikemas dalam bentuk perayaan seremonial sebagaimana di negara lain.
Baca Juga: Bulan Rabiulawal dan Keistimewaan di Dalamnya, Banyak Muslim Tidak Tahu!
Berbeda halnya dengan Mesir. Negeri yang dikenal sebagai pusat peradaban Islam ini merayakan Maulid Nabi dengan penuh semarak. Sejak berabad-abad lalu, masyarakat Mesir menggelar perayaan besar di jalan-jalan, dihiasi dengan lampu warna-warni, pasar rakyat, hingga pertunjukan budaya.
Anak-anak biasanya diberi hadiah berupa mainan khas Maulid, sementara para ulama mengadakan pengajian dan pembacaan maulid di masjid-masjid. Tradisi ini mengakar kuat dan menjadi bagian dari identitas kultural masyarakat Mesir.
Di Sudan, Suriah, dan Yaman, tradisi Maulid Nabi juga cukup meriah. Di Yaman, misalnya, masyarakat berkumpul di masjid besar untuk membaca Al-Barzanji atau Al-Diba’i, kitab-kitab maulid yang berisi riwayat hidup dan pujian kepada Nabi.
Mereka memperbanyak doa dan zikir bersama, sembari meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sementara di Suriah, dahulu sebelum konflik berkepanjangan, Damaskus selalu ramai dengan perayaan Maulid berupa pawai, nyanyian kasidah, dan pembacaan sirah di ruang-ruang publik.
Maroko pun memiliki tradisi khas. Perayaan Maulid Nabi dijadikan momentum untuk menggelar doa bersama keluarga kerajaan, menghidupkan majelis zikir, serta berbagi makanan kepada fakir miskin.
Di beberapa kota, masyarakat mengadakan perayaan budaya dengan musik religius, qasidah, dan tarian sufi yang menjadi warisan spiritual mereka.
Keanekaragaman tradisi ini menunjukkan bahwa meski sama-sama berada di kawasan Arab, cara umat Islam merayakan Maulid Nabi berbeda-beda.
Baca Juga: Tak Pernah Jadi Beban Negara, Ini Peran Penting Guru dalam Sejarah Islam
Ada yang sederhana dengan memperbanyak ibadah pribadi, ada pula yang menjadikannya sebagai festival besar. Semuanya berpulang pada cara masing-masing masyarakat memahami ajaran Islam dan menghidupkan cinta kepada Rasulullah SAW.
Namun, terlepas dari bentuk perayaannya, inti dari Maulid Nabi tetap sama: mengingat kembali lahirnya sosok agung yang membawa risalah Islam dan menjadi teladan sepanjang zaman.
Tradisi orang Arab dalam merayakan Maulid Nabi adalah cermin keragaman ekspresi, tetapi semuanya bermuara pada rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









