Akurat

Kisah Sahabat Umar Bin Khattab yang Rela Potong Tangan Putrinya Jika Korupsi

Fajar Rizky Ramadhan | 23 Agustus 2025, 11:00 WIB
Kisah Sahabat Umar Bin Khattab yang Rela Potong Tangan Putrinya Jika Korupsi

AKURAT.CO Nama Umar bin Khattab RA dikenal luas dalam sejarah Islam sebagai sosok pemimpin yang tegas, adil, dan berwibawa. Julukan al-Faruq—sang pembeda antara yang hak dan yang batil—disematkan kepadanya karena sikapnya yang konsisten menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.

Salah satu kisah yang mengguncang nurani umat hingga kini adalah ketegasannya menyatakan bahwa ia rela memotong tangan putrinya sendiri jika terbukti melakukan korupsi atau pencurian.

Kisah ini lahir dari prinsip dasar yang dipegang Umar bin Khattab dalam menjalankan pemerintahan. Baginya, jabatan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Dengan prinsip ini, Umar tidak memberi ruang bagi penyalahgunaan jabatan, bahkan oleh keluarganya sendiri. Ia paham benar bahwa kezaliman dan korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara jauh lebih berbahaya daripada pencurian biasa. Korupsi bukan hanya merugikan individu, tetapi merampas hak banyak orang dan melemahkan tatanan sosial.

Ketegasan Umar tercermin ketika suatu kali ia mendengar isu tentang kemungkinan keluarganya melakukan pelanggaran hukum. Umar menegaskan di hadapan para sahabat bahwa hukum Allah tidak boleh dipermainkan.

Baca Juga: Tak Pernah Jadi Beban Negara, Ini Peran Penting Guru dalam Sejarah Islam

Ia menyatakan bahwa jika putrinya sendiri terbukti mencuri atau menggelapkan harta umat, maka ia tidak segan memotong tangannya sesuai dengan firman Allah dalam Surah al-Ma’idah ayat 38:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat ini tidak membedakan status sosial pelaku: apakah ia rakyat jelata atau keluarga pejabat, semuanya tunduk pada hukum yang sama. Umar bin Khattab, dengan integritasnya, ingin memastikan bahwa prinsip ini benar-benar ditegakkan. Ia menolak adanya keistimewaan hukum bagi kalangan elit.

Sikap Umar ini mengingatkan pada peringatan keras Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda:

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah mereka, apabila orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya; tetapi apabila orang lemah mencuri, mereka menegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.”

Hadis ini menjadi fondasi sikap Umar bin Khattab. Baginya, hukum Allah adalah universal dan harus ditegakkan secara adil. Tidak boleh ada nepotisme, diskriminasi, atau pengecualian.

Pelajaran dari kisah Umar bin Khattab sangat relevan dengan kondisi kita hari ini. Banyak kasus korupsi di kalangan pejabat justru berlarut-larut karena adanya perlakuan khusus bagi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi.

Hukum kerap tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Padahal, jika semangat Umar diterapkan, keadilan akan tegak dan rakyat tidak akan kehilangan kepercayaan kepada negara.

Keadilan yang ditegakkan tanpa pandang bulu inilah yang menjadikan masa kepemimpinan Umar bin Khattab dikenang sebagai era emas dalam sejarah Islam. Ia bukan hanya seorang khalifah, tetapi juga teladan moral yang mewariskan pesan abadi: integritas pemimpin adalah fondasi utama keadilan sosial.

Baca Juga: Video Sri Mulyani Soal Guru Beban Negara Adalah Hoaks, Begini Tuntunan Islam dalam Menghadapi Berita Bohong

Kisah Umar yang rela memotong tangan putrinya sendiri jika korupsi adalah simbol bahwa hukum Allah tidak boleh tunduk pada kepentingan keluarga atau kekuasaan.

Sebuah pesan keras untuk setiap pemimpin: jangan sekali-kali mengkhianati amanah, karena amanah yang dikhianati adalah awal dari kehancuran sebuah bangsa.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.