Bukan Beban Negara, Ini 5 Kemuliaan Guru dalam Al-Qur’an

AKURAT.CO Belakangan ini, muncul berbagai perdebatan tentang posisi guru di tengah dinamika ekonomi dan politik bangsa. Ada yang secara sempit melihat guru hanya sebagai “beban negara” karena menerima gaji dan tunjangan dari APBN.
Namun, bila kita menengok lebih dalam ke dalam ajaran Islam, khususnya melalui Al-Qur’an, guru justru adalah salah satu pilar peradaban.
Tanpa guru, tak akan ada cendekiawan, ulama, pemimpin, maupun ilmuwan yang menjadi fondasi kemajuan bangsa.
Dalam pandangan Al-Qur’an, guru tidak pernah dianggap sebagai beban, melainkan sebagai pembawa cahaya ilmu dan peradaban.
Berikut adalah lima kemuliaan guru dalam Al-Qur’an yang menegaskan betapa mulianya peran mereka.
1. Guru sebagai Pewaris Misi Ilmu (QS. Al-Baqarah: 31–32)
Allah berfirman tentang bagaimana Nabi Adam AS diajarkan nama-nama oleh Allah, sementara malaikat mengakui keterbatasan ilmu mereka. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya…” (QS. Al-Baqarah: 31).
Dari ayat ini, kita memahami bahwa proses pengajaran adalah sunnatullah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Guru adalah pihak yang melanjutkan misi tersebut—mengajarkan ilmu, menyingkap ketidaktahuan, dan membimbing akal manusia agar berkembang.
Baca Juga: 5 Doa Ampuh agar Selamat dari Gempa Bumi
2. Guru adalah Cahaya di Tengah Kegelapan (QS. Az-Zumar: 9)
“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9). Ayat ini menjadi bukti bahwa ilmu adalah cahaya, dan guru adalah lentera yang menyalakan cahaya itu di hati muridnya.
Mereka membebaskan manusia dari kegelapan kebodohan menuju pencerahan pengetahuan. Tanpa guru, manusia hanya akan berjalan dalam kegelapan, sekalipun memiliki harta berlimpah.
3. Guru Memiliki Derajat Tinggi (QS. Al-Mujadilah: 11)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat ini menegaskan bahwa derajat orang berilmu sangat mulia di sisi Allah.
Karena guru adalah pengajar ilmu, maka kemuliaan itu melekat pada profesinya. Mereka bukan sekadar pekerja yang digaji, tetapi penjaga peradaban yang mendapatkan kedudukan mulia dari Allah.
4. Guru adalah Jalan Menuju Takwa (QS. Al-Baqarah: 282)
Dalam ayat tentang pencatatan utang, Allah menyinggung pentingnya pengetahuan dan profesi penulis atau pencatat. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan penyampaian ilmu adalah ibadah.
Guru adalah pengantar manusia menuju kesadaran dan ketakwaan. Mereka bukan sekadar mengajarkan ilmu duniawi, tetapi juga membuka jalan agar ilmu itu membawa manfaat dan keberkahan.
Baca Juga: Gempa Hantam Bekasi, Ini Doa agar Tidak Ada Korban
5. Guru sebagai Teladan Amal Jariyah (QS. An-Nahl: 125)
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125). Ayat ini menegaskan tugas guru untuk mendidik dengan hikmah dan keteladanan.
Setiap ilmu yang diajarkan guru akan terus mengalir sebagai amal jariyah, bahkan setelah ia wafat. Itulah mengapa guru bukan beban, melainkan investasi abadi bangsa dan agama.
Guru adalah Penopang Bangsa, Bukan Beban
Jika kita memahami ayat-ayat Al-Qur’an ini, jelaslah bahwa guru sama sekali bukan beban negara. Mereka adalah anugerah Allah yang melahirkan generasi cerdas, beriman, dan berakhlak mulia.
Setiap rupiah yang diberikan kepada guru bukanlah pengeluaran sia-sia, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun bangsa yang berilmu dan beradab.
Dalam Islam, menghormati guru sama artinya dengan menghormati ilmu, dan menghormati ilmu berarti meninggikan ajaran Allah.
Maka, sudah selayaknya kita tidak terjebak dalam narasi yang mengecilkan peran guru, tetapi justru terus menguatkan mereka sebagai garda terdepan pendidikan dan peradaban umat.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









