15 Bukti Konkrit Bahwa Guru Bukan Merupakan Beban Negara

AKURAT.CO Belakangan ini, ada pernyataan yang menyinggung bahwa guru adalah beban negara. Ucapan semacam ini jelas tidak berdasar, bahkan menunjukkan betapa dangkalnya cara pandang terhadap profesi pendidik.
Faktanya, guru adalah investasi terbesar bagi bangsa. Mereka bukan sekadar pengajar, melainkan penggerak peradaban. Berikut 15 bukti konkrit yang menegaskan bahwa guru bukanlah beban negara.
Pertama, guru adalah pencetak generasi penerus bangsa. Tanpa mereka, mustahil lahir pemimpin, pejabat, dokter, insinyur, maupun ilmuwan. Semua profesi besar lahir dari didikan seorang guru.
Kedua, guru menanamkan nilai moral dan karakter. Di tengah krisis akhlak yang melanda generasi muda, guru hadir menjadi benteng nilai, bukan sekadar penyampai teori.
Ketiga, guru memajukan kualitas sumber daya manusia. Negara yang maju bukanlah negara dengan kekayaan alam berlimpah, melainkan dengan SDM unggul. SDM itu dibentuk oleh guru.
Keempat, guru mendidik dengan cinta dan pengorbanan. Banyak guru yang tetap mengajar meski dengan gaji minim. Jika negara memberi mereka upah layak, itu bukan beban, melainkan hak yang sudah seharusnya diberikan.
Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Guru Beban Negara, Ini Nasib Negara Jika Tanpa Guru Menurut Islam
Kelima, guru menjadi agen perubahan sosial. Mereka menumbuhkan kesadaran kritis, menanamkan toleransi, serta melawan kebodohan yang merupakan akar kemiskinan dan konflik.
Keenam, guru adalah garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa. Konstitusi melalui UUD 1945 jelas menegaskan hak atas pendidikan. Artinya, negara memang wajib membiayai dan melindungi guru.
Ketujuh, guru turut berperan dalam pembangunan ekonomi. Negara yang masyarakatnya terdidik akan memiliki daya saing tinggi, dan itu bermula dari kerja keras para guru di kelas-kelas sederhana.
Kedelapan, guru mengawal moderasi beragama. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan sikap beragama yang inklusif dan toleran, sehingga tercipta harmoni sosial.
Kesembilan, guru menjaga warisan budaya dan ilmu pengetahuan. Mereka menjadi perantara transfer pengetahuan dari generasi ke generasi.
Kesepuluh, guru adalah inspirasi. Banyak tokoh besar, dari ulama, pemimpin bangsa, hingga ilmuwan dunia, selalu menyebut jasa gurunya sebagai pendorong utama kesuksesan mereka.
Kesebelas, guru bekerja di tempat-tempat paling sulit. Di pelosok terpencil, di desa yang jauh dari pusat kota, guru tetap hadir demi anak-anak bangsa, meski fasilitas minim.
Kedua belas, guru menjaga stabilitas bangsa. Pendidikan yang baik melahirkan masyarakat yang cerdas, kritis, dan damai, sehingga mengurangi konflik sosial dan politik.
Ketiga belas, guru mendukung program pembangunan pemerintah. Kurikulum, literasi, digitalisasi pendidikan, hingga moderasi beragama, semuanya dijalankan oleh guru sebagai ujung tombak.
Keempat belas, guru adalah teladan pengabdian. Mereka membuktikan bahwa mengabdi demi anak-anak bangsa jauh lebih besar nilainya dibanding sekadar kepentingan materi.
Baca Juga: Piala Kemerdekaan: Kalah 1-2 dari Mali di Laga Penutup, Timnas Indonesia U-17 Gagal Juara
Kelima belas, guru adalah ladang amal jariyah. Setiap ilmu yang mereka ajarkan akan terus mengalirkan pahala, bahkan setelah mereka wafat. Bukankah negara justru beruntung memiliki pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa seperti ini?
Jadi, jelas bahwa guru bukanlah beban negara. Justru sebaliknya, negara yang tidak memuliakan guru akan runtuh martabatnya.
Ucapan yang menyebut guru sebagai beban hanyalah bentuk ketidakpahaman terhadap hakikat pendidikan. Sudah saatnya kita semua, terutama pejabat publik, menghargai guru sebagai pilar utama kemajuan bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









