Akurat

Kurikulum Cinta, Konsep yang Esensinya Bukan Barang Baru Lagi di Kemenag

Fajar Rizky Ramadhan | 10 Agustus 2025, 11:00 WIB
Kurikulum Cinta, Konsep yang Esensinya Bukan Barang Baru Lagi di Kemenag

AKURAT.CO Kementerian Agama Republik Indonesia baru-baru ini memperkenalkan gagasan “Kurikulum Cinta” sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter, khususnya dalam pendidikan agama dan keagamaan.

Dikutip dari laman resmi Kemenag RI, Minggu (10/8/2025), Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menjelaskan bahwa kurikulum ini diarahkan untuk menanamkan rasa cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa sejak usia dini.

Secara konsep, empat pilar yang menjadi penekanan dalam kurikulum ini bukanlah hal baru di dunia pendidikan Islam. Cinta kepada Tuhan (Hablum Minallah), sesama manusia (Hablum Minannas), kepedulian lingkungan (Hablum Bi’ah), dan kecintaan terhadap tanah air (Hubbul Wathan) telah lama menjadi bagian dari ajaran dan materi pendidikan, meski sering kali hanya muncul di tataran normatif.

Baca Juga: ASN Kemenag Aceh Ditangkap Densus 88, Kemenag: Tak Ada Toleransi untuk Terorisme

Amien Suyitno menekankan bahwa anak-anak perlu dibiasakan untuk hidup dalam keberagaman dan menjaga bumi. Ia juga mengingatkan bahwa banyak pelajar yang menempuh pendidikan di luar negeri justru kehilangan keterikatan pada budaya dan bangsa.

Pernyataan ini menyoroti kegelisahan yang sebenarnya sudah menjadi catatan lama dalam pendidikan nasional: bagaimana menanamkan nilai-nilai itu agar tidak berhenti pada hafalan, tetapi mewujud nyata dalam sikap dan perilaku.

Yang membedakan Kurikulum Cinta dengan konsep sebelumnya adalah pendekatan integratifnya. Nilai-nilai tersebut tidak akan diajarkan sebagai mata pelajaran baru, melainkan diinsersikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada.

Kementerian Agama bahkan telah menyiapkan buku panduan dan strategi implementasi sesuai jenjang pendidikan, dari RA/PAUD dengan metode bermain hingga perguruan tinggi melalui pendekatan reflektif.

Namun, di sinilah letak pertanyaan kritisnya: apakah perubahan nama dan pembingkaian ulang konsep cukup untuk mengatasi masalah lama?

Fenomena intoleransi di kalangan pelajar, lemahnya kesadaran lingkungan, dan tipisnya rasa kebangsaan bukan hanya persoalan kurikulum di atas kertas.

Tantangan terbesar terletak pada kualitas guru, konsistensi pembiasaan di sekolah, dan dukungan lingkungan sosial yang sejalan dengan nilai-nilai tersebut.

Baca Juga: Kunci Jawaban Lesson Study 3.4 Pintar Kemenag, Dijamin Benar!

Kurikulum Cinta, dengan semua idealismenya, berpotensi menjadi sekadar jargon jika tidak diiringi mekanisme evaluasi yang ketat dan berkelanjutan. Pendidikan karakter membutuhkan teladan nyata, bukan hanya modul atau panduan.

Sejauh ini, Kemenag berjanji menyiapkan pendampingan bagi para pendidik dan instrumen penilaian yang dapat memantau perubahan perilaku siswa.

Jika janji ini diwujudkan secara konsisten, Kurikulum Cinta bisa menjadi langkah maju yang signifikan. Tetapi bila tidak, ia hanya akan menjadi rebranding dari prinsip lama yang sudah lama diakui, namun belum sepenuhnya dijalankan secara serius di lapangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.