Hadis Nabi Singgung Dekatnya Kiamat saat Sungai Eufrat Keluarkan Emas, Ini Cara Menyikapinya!

AKURAT.CO Di tengah kekeringan yang melanda Timur Tengah, muncul kembali perhatian terhadap sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang sejak lama menjadi perbincangan para ulama dan pencari tanda-tanda akhir zaman.
Hadis ini menyebut bahwa salah satu tanda besar menjelang hari kiamat adalah munculnya gunung emas dari Sungai Eufrat, sungai besar yang melintasi wilayah Turki, Suriah, dan Irak.
Dalam beberapa bulan terakhir, kekeringan ekstrem menyebabkan permukaan Sungai Eufrat menyusut secara drastis, dan laporan mengenai munculnya mineral bercahaya dari dasar sungai kembali menggemparkan publik.
Rasulullah SAW bersabda:
يُوشِكُ الفُرَاتُ أَنْ يُحْسَرَ عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا
"Hampir saja Sungai Eufrat akan surut airnya sehingga tampaklah dari bawahnya sebuah gunung emas. Maka barang siapa yang menyaksikannya, janganlah ia mengambil sedikit pun darinya."
(HR. Bukhari no. 7119, Muslim no. 2894)
Hadis ini menunjukkan bahwa akan datang masa ketika Sungai Eufrat menyingkapkan harta karun berupa emas yang luar biasa besar hingga disebut sebagai "gunung". Namun, alih-alih disambut dengan kegembiraan, Rasulullah justru memperingatkan umatnya agar tidak mengambilnya sama sekali. Mengapa demikian?
Baca Juga: Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Agustus 2025 Sesuai Kalender Hijriah
Para ulama memberikan beberapa penafsiran terhadap makna hadis ini. Sebagian memahaminya secara literal bahwa akan benar-benar muncul emas fisik dari dasar sungai, yang akan menjadi perebutan dan menyebabkan pertumpahan darah.
Sebagian lagi menafsirkannya secara simbolik bahwa "emas" tersebut adalah bentuk lain dari kekayaan atau sumber daya alam yang akan menjadi sumber konflik global.
Apa pun bentuknya, inti dari peringatan Nabi adalah ajakan untuk tidak terperangkap dalam keserakahan dunia. Hadis ini membawa pelajaran penting bahwa di balik limpahan materi, selalu ada potensi fitnah dan kehancuran moral jika manusia tidak mampu mengendalikan nafsunya.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، فَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو
"Tidak akan terjadi kiamat hingga Sungai Eufrat menyingkapkan gunung emas yang akan diperebutkan manusia. Maka akan terbunuh dari setiap seratus orang, sembilan puluh sembilan. Dan setiap orang berkata, 'Mudah-mudahan akulah yang selamat.'"
(HR. Muslim no. 2894)
Riwayat ini menegaskan bahwa perebutan kekayaan tersebut tidak hanya memicu konflik skala kecil, melainkan peperangan besar yang menelan banyak korban. Maka larangan Nabi untuk tidak mengambil emas itu bukan sekadar himbauan moral, tetapi juga langkah preventif agar tidak terseret dalam pusaran kehancuran.
Lantas, bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi fenomena ini?
Pertama, penting untuk menyadari bahwa tanda-tanda kiamat sejatinya adalah peringatan bagi manusia agar memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah. Islam tidak menganjurkan sikap sensasional dalam menafsirkan setiap fenomena alam sebagai bukti mutlak kedekatan kiamat. Justru sikap yang dianjurkan adalah introspeksi, memperkuat akhlak, serta mempererat solidaritas sosial.
Kedua, larangan Nabi untuk mengambil emas tersebut menegaskan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi harta yang belum jelas kehalalannya. Dalam konteks modern, ini juga dapat diterjemahkan sebagai ajakan untuk tidak mengejar kekayaan dengan cara-cara yang menciptakan kerusakan, konflik, atau melanggar hukum.
Ketiga, umat Islam perlu bijak membedakan antara fenomena geologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan nubuat agama. Kekeringan Sungai Eufrat misalnya, secara ilmiah merupakan akibat dari perubahan iklim, pembangunan bendungan di hulu, serta eksploitasi air secara berlebihan. Namun demikian, agama tetap memiliki peran untuk memberi makna spiritual di balik peristiwa tersebut.
Baca Juga: Profesor Australia Kritik Negara Arab-Islam: Terlalu Banyak Bicara, Minim Tindakan untuk Gaza
Akhirnya, hadis ini bukan sekadar kabar tentang masa depan, tetapi juga refleksi mendalam tentang bagaimana manusia memperlakukan dunia. Jika emas adalah ujian, maka iman adalah jawabannya. Jika kekayaan adalah fitnah, maka kesederhanaan dan takwa adalah jalan keselamatannya.
Sungai Eufrat boleh jadi benar-benar akan menyingkap gunung emas. Namun pertanyaannya, apakah umat manusia telah siap menghadapinya? Bukan dengan sekop dan saringan, tetapi dengan hati yang bersih dan niat yang lurus. Karena pada akhirnya, yang tersisa bukanlah emas yang menggunung, melainkan amal yang menjulang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









