5 Agustus Jadi Hari Terpendek, Bagaimana Menurut Pandangan Islam?

AKURAT.CO Pada 5 Agustus 2025, dunia sains mencatat satu fenomena unik: hari tersebut menjadi salah satu hari terpendek dalam sejarah pencatatan waktu modern.
Menurut International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS), durasi rotasi bumi pada tanggal itu lebih cepat sekitar 1,25 milidetik dibandingkan panjang hari normal, yaitu 86.400 detik atau 24 jam.
Meski perubahan ini hampir tak terasa dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini mengundang pertanyaan reflektif, termasuk dari sudut pandang spiritual dan keislaman: bagaimana Islam memaknai pergeseran waktu seperti ini?
Waktu dalam Perspektif Islam
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan waktu. Al-Qur’an dan Hadis berkali-kali menyebut pentingnya waktu, baik dalam konteks ibadah, sejarah, maupun peringatan moral. Allah SWT bersumpah dengan waktu dalam banyak ayat, seperti dalam Surah Al-‘Asr: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian...” Ini menunjukkan bahwa waktu bukan sekadar satuan hitung, melainkan juga entitas yang penuh nilai dan pelajaran.
Perubahan durasi waktu, seperti percepatan rotasi bumi, sebenarnya tidak secara eksplisit dibahas dalam teks-teks Islam klasik. Namun, Islam membuka ruang yang luas untuk pemahaman semesta melalui ilmu pengetahuan. Dalam banyak ayat, umat Islam justru didorong untuk merenungi alam dan fenomena di dalamnya. Seperti dalam Surah Ali 'Imran ayat 190:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
Dengan demikian, perubahan panjang hari atau kecepatan rotasi bumi dapat dilihat sebagai ayat kauniyah, yakni tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Fenomena ini bukan untuk ditakuti, tetapi untuk direnungi. Ia mengingatkan manusia akan keterbatasannya dalam mengendalikan alam dan pentingnya sikap tawadhu’ terhadap ciptaan Tuhan.
Baca Juga: 5 Agustus 2025 Jadi Hari Terpendek, Ini Penjelasan Fenomenanya
Perubahan Waktu dan Hari Kiamat
Dalam khazanah eskatologi Islam (ilmu tentang hari akhir), perubahan waktu dan rotasi bumi juga menjadi isyarat yang kerap dikaitkan dengan tanda-tanda kiamat. Salah satu hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan:
"Tidak akan terjadi kiamat sehingga waktu terasa semakin pendek. Maka setahun terasa seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari, dan sehari seperti satu jam.”
Hadis ini menggambarkan fenomena psikologis, bahwa waktu di akhir zaman akan terasa berjalan sangat cepat. Namun menariknya, kini sains mencatat bahwa waktu memang mengalami pergeseran, walaupun sangat kecil. Apakah ini bagian dari isyarat tersebut? Wallahu a’lam.
Islam tidak meminta umatnya untuk berspekulasi secara berlebihan, melainkan mendorong agar setiap fenomena menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki amal.
Sains dan Islam: Bukan Dua Kutub yang Berseberangan
Pandangan Islam tentang fenomena alam sangat rasional dan terbuka. Ulama besar seperti Ibn Khaldun, Al-Biruni, dan Al-Ghazali telah lama mendialogkan ilmu pengetahuan dengan iman. Dalam kerangka ini, percepatan rotasi bumi dapat dimaknai sebagai bagian dari sunnatullah, yakni hukum tetap Allah di alam semesta yang dapat dikaji dan dipahami oleh manusia.
Fenomena 5 Agustus sebagai hari terpendek bukan ancaman, melainkan undangan untuk kembali merenung. Bahwa waktu terus bergerak tanpa bisa diulang. Maka setiap detik—bahkan milidetik—menjadi sangat berarti. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
"Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim).
Baca Juga: 30 Ide Lomba 17 Agustus Paling Seru dan Antimainstream, Cek di Sini!
Renungan dalam Milidetik
Fenomena hari terpendek pada 5 Agustus 2025, menurut Islam, bisa dimaknai sebagai pengingat halus bahwa segala sesuatu di dunia ini fana, termasuk waktu. Meski hanya bergeser satu koma sekian milidetik, itu cukup untuk mengingatkan manusia bahwa waktu terus berjalan tanpa kompromi.
Islam tidak mengajak umatnya larut dalam kecemasan atas perubahan waktu, tapi justru mendorong untuk mengisi setiap momen dengan amal yang baik. Karena dalam setiap detik yang berjalan, ada pertanggungjawaban yang menanti.
Maka jangan tunggu waktu terasa makin singkat untuk menjadi manusia yang lebih baik. Sebab bisa jadi, bukan harinya yang makin pendek, tetapi kesempatan kita yang kian menyempit.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









