Akurat

Mitos-mitos pada Bulan Safar dan Penjelasannya dalam Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 4 Agustus 2025, 09:10 WIB
Mitos-mitos pada Bulan Safar dan Penjelasannya dalam Islam

AKURAT.CO Dalam khazanah budaya masyarakat Muslim, bulan Safar kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan kepercayaan yang berkembang turun-temurun.

Sebagian kalangan menganggap bahwa bulan Safar adalah bulan sial, bulan penuh musibah, atau waktu yang tidak baik untuk bepergian, menikah, bahkan mengadakan acara penting.

Kepercayaan semacam ini berakar dari tradisi jahiliyah sebelum Islam, dan terus berlanjut di berbagai masyarakat, meskipun Islam sendiri telah memberikan penjelasan yang bertolak belakang dengan anggapan tersebut.

Mitos-mitos yang berkaitan dengan bulan Safar perlu dikaji secara ilmiah dan teologis agar umat Islam tidak terjebak dalam keyakinan yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Berikut ini adalah beberapa mitos yang populer mengenai bulan Safar, beserta penjelasan Islam yang mendasari penolakannya.

Pertama, mitos bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Dalam masyarakat tertentu, bulan ini dipercaya sebagai waktu yang dipenuhi oleh bala dan marabahaya. Kepercayaan ini bahkan mendorong sebagian orang untuk menunda pernikahan, membatalkan perjalanan, atau menangguhkan kegiatan penting lainnya.

Padahal dalam Islam, tidak ada bulan yang dianggap membawa kesialan. Kesialan atau keberuntungan bukan ditentukan oleh waktu tertentu, melainkan oleh takdir Allah dan usaha manusia itu sendiri.

Nabi Muhammad saw secara tegas menolak keyakinan semacam itu. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

لاَ عَدْوَى، وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ، وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah (merasa sial karena tanda tertentu), tidak ada hama, dan tidak ada (kesialan karena) bulan Safar.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa anggapan tentang kesialan yang datang dari bulan Safar adalah bagian dari warisan jahiliyah yang harus ditinggalkan oleh umat Islam. Rasulullah menyebut “Safar” dalam konteks pelurusan akidah, menghapuskan pandangan takhayul yang menyandarkan sebab akibat pada waktu atau makhluk, bukan pada kehendak Allah.

Baca Juga: Berat! Ini 5 Syarat yang Harus Dipenuhi jika Indonesia Ingin Jadi Pusat Budaya Islam Dunia

Kedua, kepercayaan bahwa pada bulan Safar Allah menurunkan banyak bala dan bencana. Sebagian masyarakat meyakini bahwa setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar akan turun 320 ribu macam bala, sehingga mereka dianjurkan melakukan amalan khusus untuk menangkalnya.

Dalam praktiknya, ini sering diiringi dengan ritual yang tidak memiliki dasar dari syariat, seperti mandi safar, membuat makanan tertentu untuk tolak bala, atau membaca zikir dengan jumlah tertentu berdasarkan wirid-wirid tertentu yang tidak memiliki sanad jelas.

Klaim tentang 320 ribu bala pada hari Rabu terakhir bulan Safar tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih. Bahkan tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis utama semisal Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, atau kitab lainnya yang dikenal memiliki kredibilitas tinggi.

Secara logika ilmiah pun, tidak ada metode yang bisa membuktikan peristiwa semacam itu secara empiris, sehingga tetap berada di wilayah mitos, bukan kebenaran agama.

Ketiga, mitos tentang nikah di bulan Safar yang dianggap membawa celaka. Banyak pasangan yang menghindari akad nikah di bulan ini karena takut rumah tangganya tidak langgeng atau penuh musibah.

Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan tidak dibatasi oleh waktu atau bulan tertentu. Bahkan Rasulullah sendiri menikah dengan Sayyidah Khadijah sebelum kenabian, dan tidak ada riwayat yang menunjukkan beliau menghindari bulan-bulan tertentu untuk melaksanakan akad nikah.

Islam menekankan bahwa waktu yang baik atau buruk bukan berasal dari sifat bulan atau hari itu sendiri, melainkan dari amal perbuatan manusia. Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”
(QS. At-Taghabun: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa musibah tidak datang dari bulan tertentu seperti Safar, tetapi dari takdir dan izin Allah yang mengatur segala sesuatu dengan hikmah. Ketakutan yang berlebihan terhadap bulan Safar menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap konsep takdir dalam Islam dan membuka celah bagi masuknya syirik kecil melalui kepercayaan terhadap hal-hal yang tidak memiliki landasan syar’i.

Keempat, mitos mandi Safar sebagai ritual tolak bala. Beberapa kelompok masyarakat melakukan mandi khusus di hari tertentu dalam bulan Safar untuk menghindari penyakit, bencana, atau gangguan jin. Mereka meyakini bahwa air mandi ini bisa menangkal bala.

Sayangnya, tidak ada dasar syariat yang mendukung praktik ini, baik dalam bentuk perintah Rasulullah maupun dari para sahabat. Bahkan, amalan semacam ini bisa masuk dalam kategori bid’ah karena mengaitkan ibadah tertentu dengan waktu tertentu tanpa dasar dalil yang sahih.

Dalam ilmu fikih, kaidah penting yang sering digunakan adalah:

الأصل في العبادات التوقيف

“Asal dalam ibadah adalah larangan kecuali ada dalil yang menetapkannya.”

Artinya, setiap bentuk ibadah atau ritual yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al-Qur’an, hadis, atau praktik para sahabat. Jika tidak, maka ibadah tersebut tidak sah secara syar’i, meskipun tujuannya dianggap baik.

Mengapa mitos-mitos seperti ini bisa bertahan? Ada beberapa sebab. Pertama, karena warisan budaya turun-temurun yang tidak dikritisi. Kedua, karena kurangnya pemahaman umat terhadap ajaran Islam yang murni.

Ketiga, karena banyak tokoh atau tokoh spiritual lokal yang turut memperkuat mitos dengan berbagai klaim ghaib. Dan keempat, karena kecenderungan manusia mencari keamanan dengan cara yang instan atau ritualistik, meskipun tanpa dasar syariat.

Baca Juga: Dipakai Nama Rumah Sakit di Jawa Barat, Istilah Welas Asih Pernah Digunakan dalam Sejarah Islam Klasik

Dalam konteks pendidikan Islam, perlu ada upaya sistematis untuk mendekonstruksi mitos-mitos ini dan menggantinya dengan pemahaman tauhid yang murni. Umat Islam harus diajak kembali kepada sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis sahih, serta menjauhi takhayul, bid’ah, dan khurafat yang justru menjauhkan dari keimanan yang benar.

Rasulullah telah mengingatkan dalam hadis:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kesimpulannya, bulan Safar dalam pandangan Islam adalah seperti bulan-bulan lainnya. Tidak ada dasar dalam syariat yang menyatakan bahwa bulan ini membawa sial atau musibah lebih banyak dari bulan lain.

Mitos-mitos yang berkembang seputar bulan ini merupakan warisan budaya yang harus diluruskan dengan pemahaman agama yang benar.

Umat Islam diajak untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah dalam memahami waktu, musibah, dan amal, serta menjauhi kepercayaan yang tidak berdasar pada dalil yang sahih.

Dengan demikian, keimanan umat menjadi lebih rasional, kuat, dan selaras dengan prinsip tauhid yang sejati.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.