Akurat

Islam Nusantara Dilirik Dunia, Inggris dan AS Minta Ustad dari Indonesia

Fajar Rizky Ramadhan | 31 Juli 2025, 08:00 WIB
Islam Nusantara Dilirik Dunia, Inggris dan AS Minta Ustad dari Indonesia

AKURAT.CO Islam Indonesia yang dikenal dengan karakter damai, moderat, dan toleran kini semakin mendapat pengakuan dunia internasional.

Dalam sebuah pernyataan penting, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkap bahwa pemerintah Inggris dan Amerika Serikat (AS) telah meminta Indonesia untuk mengirimkan para ustad guna melatih dan membimbing imam-imam di negara mereka.

Hal itu disampaikan Nasaruddin saat menghadiri Halaqah Musyawarah Kerja Nasional dan Pelantikan Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) di Jakarta, Rabu (30/7/2025).

Menurutnya, pemahaman Islam di Indonesia terbukti kompatibel dengan realitas multikultural di berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara dengan minoritas Muslim.

“United Kingdom (UK) meminta training imam dari Indonesia,” kata Nasaruddin. Permintaan tersebut, menurutnya, disampaikan secara resmi saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Inggris beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Benarkah KHGT Solusi Masalah Terbesar Umat Islam Dunia?

Pemerintah Indonesia pun merespons dengan mengirimkan ustad, imam, maupun mubaligh sebagai mentor bagi para pemuka agama Islam di sana.

Tak hanya Inggris, Amerika Serikat juga menunjukkan minat serupa. Dengan populasi Muslim yang terus bertambah, kebutuhan akan imam yang berkompeten di negara tersebut ikut meningkat.

“Pemerintah AS juga meminta pengiriman ustad atau ulama untuk mengajari agama imam-imam di sana,” lanjut Nasaruddin.

Fenomena ini dinilai selaras dengan tren global di mana komunitas Muslim berkembang pesat di negara-negara Barat. Seiring dengan itu, jumlah masjid dan aktivitas keagamaan juga meningkat, menuntut hadirnya pemuka agama yang mampu menyampaikan pesan Islam dengan pendekatan damai dan kontekstual.

Menurut Nasaruddin, Islam Indonesia memiliki keunikan tersendiri karena lahir dan berkembang di tengah budaya kepulauan yang ramah dan terbuka.

Berbeda dengan Islam yang tumbuh di wilayah kontinental seperti Timur Tengah yang cenderung memiliki budaya keras, Islam Nusantara menawarkan corak keberagamaan yang santun dan bersahabat.

“Kenapa mereka tidak meminta imam-imam dari Mesir atau Turki, tetapi memilih dari Indonesia?” ujarnya retoris. Ia kemudian menambahkan, “Indonesia cocok dengan budaya manapun. Baik itu di barat yang cenderung sekuler maupun di Timur Tengah.”

Mantan Wakil Menteri Agama itu bahkan menyampaikan sebuah pernyataan yang disambut gelak tawa hadirin, “Oleh karena itu, Nabi-Nabi diturunkan di negara-negara kontinental. Kalau di Indonesia (sebagai negara maritim) tidak perlu nabi, cukup ustad.”

Dalam acara tersebut, Nasaruddin juga menyampaikan bahwa negara-negara Timur Tengah seperti Qatar dan Uni Emirat Arab turut mengajukan permintaan kepada Indonesia untuk mengirimkan para imam. “Jumlahnya bahkan cukup besar, mencapai sekitar 250 orang,” ungkapnya.

Di tengah kondisi politik dan keamanan yang tidak stabil di banyak negara Timur Tengah, Nasaruddin mendorong agar Indonesia menjadi pusat studi Islam dunia.

Ia meyakini bahwa belajar Islam di Indonesia menawarkan suasana yang lebih damai dan kondusif bagi para pelajar internasional.

Pesan ini diperkuat oleh Ketua Umum ISNU, Kamaruddin Amin, yang menegaskan komitmen organisasinya untuk bersinergi dengan pemerintah dalam penguatan pendidikan, terutama di bidang Islam.

Kamaruddin menyoroti rendahnya angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia yang masih berada di angka 40 persen. Padahal, untuk menjadi negara maju, APK harus menyentuh angka minimal 60 persen.

Baca Juga: Cerita Mualaf Kristian: Hidayah Bermula dari Suara Nissa Sabyan

Kolaborasi antara negara dan organisasi keilmuan seperti ISNU dinilai penting untuk mendorong transformasi peran Indonesia dalam kancah global, khususnya dalam membumikan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin.

Fenomena “ekspor ustad” ini bukan sekadar prestise diplomatik, melainkan juga cerminan bahwa Islam Indonesia bukan hanya milik bangsa ini, tetapi kini menjadi model yang patut diteladani oleh dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.