Akurat

7 Kewajiban Orang Tua pada Anak di Era Digital Perspektif Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 22 Juli 2025, 09:00 WIB
7 Kewajiban Orang Tua pada Anak di Era Digital Perspektif Islam

AKURAR.CO Dalam masyarakat yang tengah mengalami transformasi digital secara masif, peran orang tua tidak hanya berkutat pada pemenuhan kebutuhan fisik dan pendidikan formal anak.

Era digital menghadirkan tantangan baru: paparan gawai sejak dini, akses informasi tanpa batas, disrupsi nilai-nilai moral, hingga krisis identitas anak.

Maka, kewajiban orang tua kini menuntut pendekatan yang lebih adaptif namun tetap berakar kuat pada prinsip Islam dan ilmu pendidikan yang kokoh.

Artikel ini akan menguraikan tujuh kewajiban mendasar orang tua terhadap anak di era digital, dengan pendekatan ilmiah dan perspektif Islam.

1. Menanamkan Tauhid Sejak Dini

Kewajiban pertama dan utama adalah memperkenalkan konsep ketuhanan dan nilai-nilai spiritual sejak usia dini. Digitalisasi seringkali membawa nilai sekuler dan relativisme moral yang mereduksi peran Tuhan dalam kehidupan. Maka, orang tua harus menjadi mu’allim pertama dalam mengenalkan Allah kepada anak.

Allah berfirman dalam QS. Luqman: 13:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”

Pendidikan tauhid ini menjadi fondasi untuk membangun filter internal dalam diri anak agar tidak terombang-ambing dalam arus konten digital.

2. Mengawal Perilaku Digital Anak

Anak-anak masa kini adalah digital natives. Namun kemampuan teknologis mereka tidak selalu diimbangi dengan literasi etika dan batasan syar’i. Orang tua memiliki kewajiban untuk mengawasi aktivitas digital anak, termasuk aplikasi yang digunakan, waktu penggunaan gawai, dan konten yang diakses.

Dalam konteks ini, pendekatan parental mediation (Valkenburg et al., 1999) sangat relevan. Orang tua bisa menerapkan mediasi aktif, seperti diskusi terbuka dan penyuluhan tentang risiko dunia maya, bukan hanya pembatasan teknis.

Baca Juga: Fenomena Tren S Line 'Pamer Aib Sendiri' dalam Perspektif Al-Qur'an

3. Mendidik dengan Hikmah dan Keteladanan

Pendidikan tidak cukup dengan instruksi. Anak belajar paling efektif melalui observasi terhadap perilaku orang tua. Maka, kehadiran orang tua sebagai teladan etika digital sangat penting. Jangan mengharapkan anak tidak kecanduan media sosial jika orang tua sendiri menghabiskan waktu berjam-jam di layar ponsel.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kepemimpinan dalam konteks ini mencakup pembentukan kebiasaan digital yang sehat dalam keluarga.

4. Menanamkan Adab sebelum Ilmu

Era digital sangat cepat dalam mentransmisikan pengetahuan, tetapi seringkali miskin dalam membentuk karakter. Di sinilah orang tua perlu menanamkan adab, seperti sopan santun dalam berkomunikasi daring, adab terhadap guru di kelas virtual, hingga kesopanan saat berselancar di dunia maya.

Imam Malik pernah berkata: "Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu." Hal ini menegaskan pentingnya pembentukan karakter sebelum mengejar pencapaian akademik, terutama di tengah banjir informasi digital yang tak tersaring.

5. Membangun Keterikatan Emosional

Dalam dunia yang makin individualistik dan terfragmentasi secara sosial akibat teknologi, keterikatan emosional dengan orang tua menjadi kebutuhan utama anak. Mereka harus merasa aman, didengar, dan dipahami.

Banyak studi psikologi perkembangan (seperti Bowlby, 1969) menunjukkan bahwa secure attachment dengan orang tua menjadi fondasi stabil untuk kesehatan mental anak di kemudian hari. Jika keterikatan ini lemah, anak cenderung mencari pelarian pada konten digital yang bersifat kompulsif dan adiktif.

6. Memberikan Pendidikan Seksualitas dan Privasi Digital

Paparan konten seksual di internet meningkat drastis. Orang tua tidak lagi bisa bersikap tabu dalam membahas isu ini. Sebaliknya, mereka harus menjadi narasumber pertama dan terpercaya bagi anak dalam memahami tubuh, batasan, dan perlindungan diri.

Al-Qur’an menekankan pentingnya menjaga aurat dan privasi sejak anak-anak:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budakmu dan anak-anakmu yang belum baligh meminta izin kepadamu dalam tiga waktu…” (QS. An-Nur: 58)

Ayat ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap privasi perlu ditanamkan sejak dini, termasuk dalam konteks digital.

Baca Juga: Viral Tren S Line dengan Pamer Aib Sendiri, Begini Hukumnya dalam Islam

7. Mendoakan Anak secara Konsisten

Di tengah segala upaya teknis dan edukatif, peran spiritual tak boleh dilupakan. Doa adalah bentuk pengasuhan ruhani yang menjadi bagian dari tanggung jawab orang tua.

Allah mengabadikan doa orang tua dalam QS. Al-Ahqaf: 15:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai dan berilah kebaikan kepadaku dalam (urusan) anak cucuku.”

Doa menjadi ikhtiar batiniah yang menyertai segala strategi parenting modern.

Era digital bukan musuh, tapi ladang baru untuk melaksanakan amanah keibubapaan. Tujuh kewajiban di atas bukanlah tugas yang mudah, tapi justru menjadi bukti kesungguhan orang tua dalam mencetak generasi yang cakap digital dan kokoh spiritual.

Di tengah arus algoritma dan notifikasi tak henti, orang tua perlu hadir sebagai kompas nilai dan penuntun makna. Tugas ini berat, tetapi akan menjadi amal jariyah yang kekal jika dijalankan dengan niat lurus dan ilmu yang tepat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.