Akurat

Viral Tren S Line dengan Pamer Aib Sendiri, Tanda Kiamat Sudah Dekat?

Fajar Rizky Ramadhan | 22 Juli 2025, 08:00 WIB
Viral Tren S Line dengan Pamer Aib Sendiri, Tanda Kiamat Sudah Dekat?

AKURAT.CO Media sosial, khususnya TikTok, kembali diramaikan oleh sebuah fenomena yang membuat sebagian orang mengernyitkan dahi, dan sebagian lainnya justru menertawakannya: Tren S Line.

Tren ini berasal dari drama Korea yang memperlihatkan seseorang bisa melihat “garis merah” di atas kepala orang lain—simbol dari jumlah hubungan seksual yang telah dilakukan.

Yang mencengangkan, tren ini diadopsi secara bebas oleh pengguna TikTok, termasuk anak-anak muda Indonesia, bahkan yang beridentitas Muslim.

Dengan bangga, sebagian dari mereka menampilkan garis merah digital di atas kepala mereka, seolah menunjukkan atau pura-pura menunjukkan aib diri sendiri di hadapan publik.

Fenomena ini membuat kita bertanya-tanya: apakah ini sekadar tren sesaat, atau justru gejala yang lebih dalam—tanda-tanda akhir zaman sebagaimana yang disebutkan dalam nash-nash agama?

Membuka Aib Sendiri: Fenomena yang Dinormalisasi

Dalam Islam, aib adalah sesuatu yang diperintahkan untuk ditutupi, bukan dipertontonkan. Aib—terlebih yang berkaitan dengan dosa besar seperti zina—bukan untuk dibanggakan, apalagi dijadikan konten. Nabi Muhammad ﷺ telah memperingatkan:

كل أمتي معافى إلا المجاهرين

“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tren S Line adalah bentuk nyata dari mujāhara—terang-terangan dalam dosa. Ini bukan sekadar lelucon digital, melainkan sebuah bentuk pergeseran nilai yang berbahaya: orang merasa bangga terhadap hal yang seharusnya membuatnya malu.

Baca Juga: Viral Tren S Line dengan Pamer Aib Sendiri, Begini Hukumnya dalam Islam

Normalisasi Maksiat dan Prediksi Akhir Zaman

Ulama dan hadits Nabi telah mengingatkan bahwa menjelang hari kiamat, akan muncul fenomena sosial yang mencerminkan kerusakan moral masif.

Salah satunya adalah hilangnya rasa malu, dan orang-orang akan terang-terangan berbuat dosa tanpa beban. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا لم تستحي فاصنع ما شئت

“Jika kamu tidak lagi punya rasa malu, maka lakukanlah sesukamu.” (HR. Ibn Majah)

Hadis ini bukan perintah, melainkan sindiran tajam bahwa hilangnya rasa malu adalah tanda hilangnya kontrol moral. Dalam konteks tren S Line, apa yang dulu dianggap tabu dan memalukan, kini dijadikan hiburan massal.

Dalam hadis lain, Nabi ﷺ bersabda:

من أشراط الساعة أن يُرْفَعَ الحياءُ، وتكثر الفواحش، وتُفْتَحَ الزنا

“Di antara tanda-tanda kiamat adalah hilangnya rasa malu, meluasnya perbuatan keji, dan terbukanya praktik zina.” (HR. Thabrani)

Jika dulu aib disembunyikan karena malu dan takut kepada Allah, kini justru dipamerkan dengan bangga demi eksistensi digital. Ini bukan hanya soal moral pribadi, tapi mencerminkan fenomena sosial yang disebut Rasulullah sebagai bagian dari fitnah akhir zaman.

Media Sosial: Arena Pamer Dosa?

Faktanya, media sosial bukan lagi tempat berbagi ilmu dan kebaikan saja. Ia telah menjadi panggung pamer gaya hidup, termasuk gaya hidup dosa. Tren S Line hanyalah satu contoh dari betapa jauhnya sebagian manusia dari fitrah kesucian dirinya.

Banyak pengguna media sosial rela menjual kehormatan demi viralitas. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam riwayat Ahmad:

سيأتي على الناس سنوات خداعات، يُصدّق فيها الكاذب، ويُكذّب فيها الصادق، ويُؤتمن فيها الخائن، ويُخوّن فيها الأمين، وينطق فيها الرويبضة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya, di mana pendusta dipercaya, yang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, orang amanah dianggap berkhianat, dan orang bodoh berbicara dalam urusan umum.”
(HR. Ahmad)

Tidakkah ini mirip dengan zaman kita? Saat konten tidak lagi diukur dari nilai kebenaran, melainkan dari seberapa banyak views dan likes yang diraih?

Haruskah Kita Takut?

Tentu, melihat tanda-tanda kiamat bukan berarti kita berhenti hidup atau menjadi panik. Tapi justru menjadi pengingat untuk kembali ke jalan yang lurus. Setiap fenomena sosial harus dijadikan cermin: apakah kita sedang mengikuti kebenaran, atau sedang terjebak dalam arus penyimpangan massal?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; orang yang sesat tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Ma’idah: 105)

Pesan ini sangat relevan: di tengah kerusakan moral publik, tugas utama seorang Muslim adalah menjaga dirinya sendiri dan orang-orang terdekat dari fitnah akhir zaman.

Baca Juga: 5 Fakta Mengejutkan dari Hakim Sidang Tom Lembong: Profil Singkat Dennie Arsan Fatrika

Waspada, Jangan Ikut Terseret

Tren S Line dengan memamerkan aib pribadi bukan sekadar tren absurd. Ia adalah refleksi dari dekadensi nilai, hilangnya rasa malu, dan normalisasi dosa—yang semua itu pernah disebut dalam hadis-hadis akhir zaman.

Pertanyaannya: apakah ini tanda bahwa kiamat sudah dekat? Wallāhu a‘lam. Hanya Allah yang tahu waktunya. Tapi yang pasti, fenomena ini adalah panggilan keras agar umat Islam—terutama generasi muda—bangun dari kelengahan, kembali pada adab, malu, dan iman.

Gunakan media sosial bukan untuk pamer dosa, tapi untuk menyebarkan cahaya. Karena di zaman yang gelap, satu lentera pun bisa menjadi penyelamat. Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.