Akurat

3 Alasan Konkrit Kenapa Mendukung Gaza Palestina Disebut Jihad Fi Sabilillah

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Oktober 2025, 08:25 WIB
3 Alasan Konkrit Kenapa Mendukung Gaza Palestina Disebut Jihad Fi Sabilillah

AKURAT.CO Gaza kembali menjadi pusat perhatian dunia. Serangan yang tak kunjung reda, blokade yang mencekik, dan penderitaan rakyat yang tak berkesudahan menjadikan Palestina bukan sekadar isu politik, tapi juga panggilan kemanusiaan dan keimanan.

Ketika kelompok Hamas dan Jihad Islam Palestina (PIJ) menyatakan kesiapannya untuk berdialog demi perdamaian, banyak umat Islam di seluruh dunia tetap menegaskan satu hal: mendukung Gaza bukan sekadar solidaritas, melainkan bagian dari jihad fi sabilillah. Lalu, apa dasar konkret dari pandangan itu?

Secara etimologis, jihad fi sabilillah berarti “bersungguh-sungguh di jalan Allah”. Ia tidak selalu berarti perang fisik, melainkan segala bentuk upaya—pikiran, tenaga, harta, bahkan doa—yang dilakukan untuk menegakkan nilai-nilai Allah di muka bumi.

Dalam konteks Gaza, jihad fi sabilillah mengambil bentuk perjuangan mempertahankan tanah air, martabat, dan hak hidup sebagai bangsa merdeka di bawah penjajahan.

Pertama, secara syariat, Palestina memiliki status istimewa dalam sejarah Islam. Di sanalah berdiri Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam dan tempat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dalam banyak hadis, Rasulullah menegaskan keutamaan membela negeri para nabi itu.

Baca Juga: 50 Ucapan Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia yang Islami dan Inspiratif

Imam Ibn Taymiyyah bahkan menyebut bahwa membela tanah suci dari agresi termasuk kategori jihad paling mulia karena ia menggabungkan pembelaan agama dan kemanusiaan.

Jadi, ketika umat Islam di berbagai belahan dunia memberikan dukungan moral, finansial, dan diplomatik bagi Gaza, hal itu sejatinya adalah bentuk jihad yang sah secara teologis.

Kedua, secara kemanusiaan, rakyat Gaza berjuang mempertahankan hidup dalam situasi yang sangat tidak seimbang. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada kekuatan militer modern yang didukung teknologi canggih, sementara di sisi lain, mereka hanya memiliki semangat perlawanan dan keyakinan akan keadilan Ilahi.

Dukungan terhadap Gaza, baik berupa bantuan kemanusiaan, advokasi publik, maupun kampanye informasi, menjadi jihad dalam dimensi sosial—perlawanan terhadap ketidakadilan global yang menindas bangsa lemah.

Ketiga, dalam konteks politik global, perjuangan Palestina melawan pendudukan Israel tidak hanya soal konflik wilayah, tetapi juga simbol perlawanan terhadap kolonialisme modern. Ketika umat Islam bersuara menolak penindasan itu, mereka sejatinya sedang berjihad menjaga tatanan dunia agar lebih adil dan beradab.

Sebagaimana Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 9 menegaskan, jika dua kelompok bertikai, maka kaum beriman wajib menegakkan perdamaian yang adil—dan bila ada pihak zalim, harus dilawan sampai ia kembali pada keadilan.

Namun jihad dalam konteks ini bukan berarti kekerasan atau fanatisme. Justru, Islam menekankan jihad dengan hikmah, argumentasi, dan solidaritas.

Dalam dunia modern, jihad bisa diwujudkan dengan cara mendidik masyarakat tentang kebenaran isu Palestina, mendonasikan sebagian rezeki untuk bantuan kemanusiaan, hingga mendorong kebijakan luar negeri yang berpihak pada nilai kemanusiaan.

Dukungan dari negara-negara seperti Qatar, Turki, dan berbagai lembaga internasional yang menyerukan gencatan senjata serta pembebasan sandera menunjukkan bahwa jihad fi sabilillah hari ini dapat berwujud diplomasi dan solidaritas global.

Ini adalah bentuk perjuangan modern yang berakar pada nilai Islam: keadilan (‘adl), kasih sayang (rahmah), dan pembelaan terhadap yang tertindas (mustadh‘afin).

Mengapa hal ini penting untuk ditegaskan? Karena istilah “jihad” sering disalahpahami sebagai perang atau ekstremisme. Padahal, dalam konteks Palestina, jihad bukanlah serangan membabi buta, melainkan perjuangan untuk mempertahankan eksistensi umat yang dizalimi.

Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa jihad yang paling utama adalah “mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim”. Artinya, membela Gaza lewat suara, pena, dan media sosial sekalipun—selama diniatkan untuk menegakkan keadilan—termasuk jihad fi sabilillah.

Baca Juga: Puasa Ayyamul Bidh Oktober 2025 Jatuh pada 5–7 Oktober, Ini Niat dan Keutamaannya

Maka, mendukung Gaza hari ini bukan sekadar urusan politik Timur Tengah. Ia adalah ujian moral bagi setiap manusia: apakah kita masih punya empati terhadap penderitaan sesama, atau membiarkan kezaliman menjadi pemandangan yang biasa.

Dalam perspektif Islam, setiap bentuk pembelaan terhadap rakyat Palestina yang didasari niat ikhlas untuk menegakkan kebenaran dan menghapus penindasan adalah bagian dari jihad fi sabilillah—jihad di jalan Allah yang membawa cinta, keberanian, dan kemanusiaan.

Gaza adalah cermin bagi dunia. Di tengah reruntuhan bangunan, mereka masih bisa tersenyum dan berdoa. Di antara dentuman bom, anak-anak mereka tetap menghafal Al-Qur’an.

Dan di situlah letak jihad sejati—keteguhan hati mempertahankan iman dan martabat di tengah badai penderitaan. Siapa pun yang berdiri bersama mereka, sejatinya sedang berjalan di jalan yang sama: jalan jihad fi sabilillah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.