Akurat

Kalender Jawa Weton Kamis 17 Juli 2025, Begini Hukum Muslim Meyakininya

Fajar Rizky Ramadhan | 17 Juli 2025, 05:56 WIB
Kalender Jawa Weton Kamis 17 Juli 2025, Begini Hukum Muslim Meyakininya

AKURAT.CO Kamis, 17 Juli 2025 bertepatan dengan 21 Muharram 1447 Hijriah, menurut kalender Islam. Namun di kalangan masyarakat Jawa, tanggal ini juga dicatat sebagai 21 Suro 1959 Tahun Dal dalam kalender Jawa. Hari ini jatuh pada Kamis Kliwon, dengan wuku Manahil dan jumlah neptu sebesar 16.

Dalam tradisi Jawa, Kamis Kliwon sering dianggap sebagai weton yang memiliki energi kuat, diyakini membawa rezeki besar, karier yang baik, dan keberuntungan dalam jodoh.

Sistem kalender Jawa, khususnya perhitungan weton, masih banyak digunakan sebagian umat Islam di Indonesia untuk berbagai keperluan budaya, seperti mencari hari baik untuk menikah, membuka usaha, atau pindah rumah. Namun, sebagai seorang Muslim, bagaimana seharusnya menyikapi kepercayaan terhadap weton ini?

Weton dan Kepercayaan Tradisional: Antara Budaya dan Aqidah

Kalender Jawa sejatinya adalah produk kebudayaan lokal yang berkembang sebelum dan selama masa Islamisasi di Jawa. Perhitungan weton merupakan hasil akulturasi antara sistem penanggalan Hindu, Jawa kuno, dan pengaruh Islam.

Ia menjadi semacam “penanda spiritual” dalam kehidupan masyarakat, namun dalam pandangan Islam, keyakinan terhadap pengaruh hari atau tanggal tertentu bisa bersinggungan dengan aspek tauhid.

Baca Juga: Kalender Jawa Kamis 17 Juli 2025: Kamis Kliwon, Weton Rezeki dan Keberuntungan

Islam memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia, termasuk rezeki, jodoh, dan keselamatan, bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan kepada hari atau tanggal tertentu.

Keyakinan bahwa Kamis Kliwon membawa keberuntungan atau sebaliknya, dapat dikategorikan sebagai bentuk thiyarah atau tathayyur — yakni merasa sial atau beruntung karena pertanda tertentu, sesuatu yang dilarang dalam Islam.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ"

“Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah (menganggap sial karena sesuatu), tetapi aku menyukai optimisme.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini dengan jelas melarang umat Islam untuk mempercayai pertanda buruk dari sesuatu yang tidak memiliki dasar syar’i. Sebaliknya, Rasulullah justru mendorong umatnya untuk memiliki sikap optimis (al-fa’l) dan berpikir positif terhadap takdir Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman dalam Al-Qur’an:

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

"Dan pada sisi-Nya (Allah) lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri."
(QS. Al-An'am: 59)

Ayat ini menegaskan bahwa segala bentuk ramalan atau perhitungan nasib berdasarkan waktu atau benda tertentu berada di luar jangkauan manusia dan tidak patut dijadikan dasar keyakinan. Hanya Allah yang tahu rahasia dan takdir kehidupan seseorang.

Bolehkah Mengikuti Kalender Jawa?

Mengikuti penanggalan Jawa atau mengenal tradisi weton sebagai bagian dari warisan budaya lokal tidak serta-merta dilarang dalam Islam, selama tidak diiringi dengan keyakinan bahwa tanggal atau weton tertentu memiliki kekuatan gaib atau menentukan nasib seseorang.

Kalender ini dapat dipelajari sebagai referensi kebudayaan atau bahkan untuk kepentingan sosial, seperti mengikuti adat keluarga atau masyarakat dalam hajatan, selama tidak diyakini mengandung kekuatan takdir.

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dikaitkan dengan keberuntungan atau kesialan tanpa dalil dari syariat adalah bagian dari syirik kecil (syirkun asghar) yang dapat menyeret kepada syirik besar jika diyakini penuh dengan keyakinan hati.

Baca Juga: Sholawat Asyghil: Doa Perlindungan dari Kezaliman dan Simbol Cinta kepada Rasulullah

Kesimpulan: Bijak dalam Menyikapi Tradisi

Umat Islam diajarkan untuk senantiasa bertawakkal kepada Allah dan tidak menggantungkan harapan atau kekhawatiran kepada hari, bulan, angka, atau simbol tertentu.

Meyakini bahwa Kamis Kliwon membawa rezeki besar atau jodoh cemerlang adalah bentuk ketergelinciran akidah apabila keyakinan itu melampaui kepercayaan kepada qadha dan qadar Allah.

Tradisi Jawa bisa dilestarikan sebagai bagian dari kebudayaan, namun harus difilter dan disikapi dengan ilmu serta iman. Seorang Muslim yang memegang teguh tauhid akan menempatkan semua takdir dan keberkahan hanya dari Allah, bukan dari weton atau neptu.

Semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk untuk berjalan di atas kebenaran dan menjaga hati dari keyakinan-keyakinan yang tidak bersandar pada wahyu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.