Link Video Viral Terbaru Andini Permata, Apa Dampak Negatifnya dalam Islam?

AKURAT.CO Di tengah derasnya arus informasi digital, nama Andini Permata kembali ramai diperbincangkan setelah beredarnya link video viral yang diduga memuat konten pribadi yang melanggar norma kesusilaan.
Tidak sedikit warganet yang tergoda untuk membuka tautan tersebut, bahkan ikut-ikutan membagikan link video ke grup WhatsApp, Telegram, hingga platform media sosial lain.
Sayangnya, fenomena ini tidak hanya menjadi persoalan etika digital, tetapi juga berdampak serius dalam perspektif ajaran Islam.
Melihat dan Membagikan Link, Sama-sama Berdosa
Islam tidak hanya melarang perbuatan maksiat, tetapi juga melarang siapa pun untuk membuka jalan menuju maksiat. Membagikan link video yang mengandung aurat atau perbuatan keji, termasuk dalam kategori ta’awun ‘alal itsmi (tolong-menolong dalam dosa). Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Wa lā ta‘āwanū ‘alal-itsmi wal-‘udwān, wattaqullāh, inna Allāha syadīdul-‘iqāb.
(Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.)
(QS. Al-Ma’idah [5]: 2)
Baik yang mengunggah, yang menyebarkan link, yang menonton, hingga yang mendiamkan tanpa menasihati, semua berpotensi terlibat dalam dosa berjamaah. Karena itu, Islam mengajarkan sikap proaktif untuk menghentikan rantai maksiat, bukan malah memperluas jangkauannya.
Baca Juga: Video Andini Permata Viral di Medsos, Diduga Ada Unsur Eksploitasi Anak dan Tautan Berbahaya
Dampak Negatif Spiritual dan Sosial
-
Kerusakan Hati dan Pikiran
Seseorang yang terbiasa melihat hal-hal yang diharamkan, lambat laun akan terbiasa dengan dosa. Hatinya menjadi keras, pikirannya menjadi kotor, dan hidupnya kehilangan ketenangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
Idzā adznaba al-‘abdu nukita fī qalbihi nuktatun sawdā’
(Apabila seorang hamba berbuat dosa, maka akan ditorehkan satu titik hitam dalam hatinya.)
(HR. Tirmidzi) -
Merusak Reputasi Orang Lain
Menyebarkan link video seperti itu berarti mempermalukan seseorang di hadapan publik. Padahal dalam Islam, menjaga kehormatan orang lain adalah kewajiban. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
Kullu al-muslimi ‘ala al-muslimi ḥarām: damuhu wa māluhu wa ‘irdhuhu.
(Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram [untuk dilanggar]: darahnya, hartanya, dan kehormatannya.)
(HR. Muslim) -
Menyebarkan Fitnah Digital
Media sosial adalah lahan subur bagi fitnah. Tanpa verifikasi, orang dengan mudah mengakses dan membagikan konten yang belum tentu benar konteksnya. Fitnah semacam ini bisa membunuh karakter seseorang, merusak keluarga, bahkan menciptakan kebencian di masyarakat.
Allah Ta’ala memperingatkan:
وَفِتْنَةٌ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
Wa fitnatun asyaddu minal-qatli.
(Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.)
(QS. Al-Baqarah [2]: 191)
Bahaya Dunia Akhirat
Dampak dari membuka dan menyebarkan link maksiat tidak hanya dirasakan di dunia, seperti rusaknya moral pribadi dan masyarakat, tetapi juga berimplikasi pada akhirat. Dosa-dosa digital ini terus mengalir selama link tersebut masih diakses orang lain. Inilah yang disebut dosa jariyah, dosa yang terus mengalir walaupun pelakunya sudah berhenti berbuat.
Solusi: Stop Link, Tutup Celah Dosa
Sikap bijak seorang Muslim saat menghadapi link semacam ini adalah:
-
Tidak membuka link tersebut, karena membuka berarti memberi celah masuknya dosa ke dalam hati.
-
Tidak menyebarkan ke orang lain, agar tidak memperluas dampak keburukan.
-
Menasihati orang lain agar tidak ikut terjerumus.
-
Mendoakan pelaku agar mendapat hidayah dan bertaubat kepada Allah.
Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ
Ad-dāllu ‘alal-khayri kafā‘ilihi.
(Orang yang menunjukkan kepada kebaikan, pahalanya seperti orang yang melakukannya.)
(HR. Tirmidzi)
Maka, mari kita menjadi pembawa kebaikan di tengah gempuran konten negatif yang merajalela.
Baca Juga: Pria Wafat Saat Sujud di Klaten, Dokter Tegaskan Salat Tidak Berbahaya bagi Jantung dan Otak
Fenomena link video viral Andini Permata tidak hanya menunjukkan lemahnya kontrol moral di era digital, tetapi juga memperlihatkan betapa bahayanya efek domino dari menyebarkan konten maksiat.
Dalam Islam, dampaknya bukan hanya merusak orang yang terlibat, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.
Oleh karena itu, bijaklah dalam bermedia sosial, karena setiap klik dan share akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.
Semoga Allah menjaga kita dari menjadi bagian dari penyebar fitnah digital, dan memberi kekuatan untuk menjaga kehormatan diri dan orang lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









