Jadwal Puasa Asyura NU Kapan? Apakah Sama dengan Muhammadiyah?

AKURAT.CO Puasa Asyura merupakan salah satu amalan sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan diperingati setiap tanggal 10 Muharam dalam kalender Hijriah. Ibadah ini memiliki keutamaan besar karena dipercaya dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya.
Namun, sebagaimana penetapan awal bulan Hijriah lainnya, tanggal pelaksanaan puasa Asyura bisa berbeda antara organisasi keagamaan yang ada di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Perbedaan ini tidak terletak pada niat atau tujuan ibadah, melainkan pada metode penentuan awal bulan Muharam.
NU, yang merujuk pada keputusan pemerintah melalui Kementerian Agama RI, menetapkan awal bulan Hijriah berdasarkan rukyatul hilal, yaitu pengamatan bulan sabit secara langsung di lapangan.
Sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni perhitungan secara astronomis tanpa harus menunggu terlihatnya bulan sabit.
Untuk tahun 2025, pemerintah dan NU menetapkan bahwa 1 Muharam 1447 H jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025. Dengan demikian, tanggal 10 Muharam—yang menjadi hari pelaksanaan puasa Asyura—jatuh pada Minggu, 6 Juli 2025.
Baca Juga: Jadwal Puasa Asyura Pemerintah dan Muhammadiyah Sama atau Tidak?
Berbeda dengan itu, Muhammadiyah menetapkan 1 Muharam 1447 H lebih awal, yaitu pada Kamis, 26 Juni 2025. Oleh karena itu, menurut kalender hisab Muhammadiyah, puasa Asyura jatuh pada Sabtu, 5 Juli 2025.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jadwal puasa Asyura versi NU dan Muhammadiyah tidak sama. NU menetapkan hari Asyura pada 6 Juli 2025, sementara Muhammadiyah menetapkannya pada 5 Juli 2025, berbeda satu hari.
Perbedaan ini sejatinya bukan hal baru dalam kehidupan umat Islam Indonesia. Sejak lama, perbedaan penetapan awal bulan Hijriah telah menjadi dinamika yang wajar dalam masyarakat yang majemuk.
Selama dilakukan berdasarkan metode yang valid dan niat yang tulus, semua bentuk pelaksanaan ibadah tetap sah dan insya Allah berpahala.
Lebih penting dari tanggal yang berbeda adalah semangat untuk menjalankan sunnah Rasulullah SAW dengan penuh keikhlasan. Dalam hadits sahih riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.
Ini menjadi motivasi spiritual yang besar bagi umat Islam, baik yang mengikuti kalender NU maupun Muhammadiyah.
Baca Juga: Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2025: Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah
Dengan demikian, tidak perlu ada pertentangan atau perdebatan berkepanjangan mengenai perbedaan tanggal puasa Asyura.
Justru, ini menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa perbedaan dalam hal ijtihadiyah bisa menjadi ruang untuk saling menghargai dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Umat Islam tetap bisa melaksanakan puasa dengan khusyuk sesuai dengan keyakinan dan pedoman yang diikutinya, selama tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menghidupkan sunnah Nabi.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










