Akurat

Asal-usul Adanya Kalender Jawa Weton, Bertentangan dengan Keyakinan Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 30 Juni 2025, 10:00 WIB
Asal-usul Adanya Kalender Jawa Weton, Bertentangan dengan Keyakinan Islam?

AKURAT.CO Kalender Jawa weton telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya masyarakat Jawa. Ia bukan sekadar sistem penanggalan, tetapi juga alat prediksi yang dipercaya bisa membaca watak, rezeki, hingga nasib jodoh seseorang berdasarkan hari lahir.

Pertanyaan mendasarnya kini: dari mana sebenarnya asal-usul sistem ini? Dan lebih penting lagi, apakah kalender weton ini bertentangan dengan keyakinan Islam?

Secara historis, kalender Jawa merupakan hasil sinkretisme budaya dan spiritualitas yang kompleks. Ia menggabungkan unsur Hindu-Buddha dari masa kerajaan kuno seperti Mataram dan Majapahit, kemudian bercampur dengan elemen Islam pasca masuknya dakwah para wali, serta sedikit pengaruh kepercayaan animisme-dinamisme lokal.

Weton sendiri terdiri dari gabungan hari dalam sepekan (Senin hingga Minggu) dan lima pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon), yang menghasilkan 35 kombinasi hari. Setiap kombinasi memiliki nilai neptu tertentu yang diyakini memengaruhi sifat dan perjalanan hidup seseorang.

Tradisi ini sangat lekat dengan ajaran-ajaran mistik Kejawen yang cenderung menekankan pada harmoni kosmis, perhitungan gaib, dan simbolisme spiritual di luar wahyu.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton vs Kalender Hijriyah: Mana yang Paling Baik untuk Umat Islam?

Masalah muncul ketika sistem weton ini tidak hanya dijadikan warisan budaya, tetapi diyakini secara mutlak sebagai alat menentukan takdir.

Dalam banyak praktiknya, orang menunda pernikahan karena hari dianggap "tidak baik", membatalkan rencana usaha karena "weton bertabrakan", bahkan menilai kepribadian hanya dari angka neptu semata. Inilah yang menjadi titik rawan dari sisi akidah Islam.

Islam dengan tegas melarang keyakinan terhadap sesuatu yang bersifat ramalan, terutama jika terkait dengan masa depan, keberuntungan, atau nasib. Allah berfirman:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.” (QS An-Naml: 65)

Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara-perkara gaib, termasuk takdir hidup seseorang. Menyandarkan keyakinan kepada sistem perhitungan manusia yang tidak bersandar pada wahyu dapat menjerumuskan pada bentuk syirik, baik yang besar maupun tersembunyi.

Nabi Muhammad SAW juga memperingatkan dalam hadis yang terkenal:

من أتى كاهنًا أو عرافًا فسأله فصدقه فقد كفر بما أنزل على محمد

“Barang siapa yang mendatangi dukun atau peramal, lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR Ahmad)

Dalam konteks ini, sistem weton yang digunakan sebagai alat peramalan nasib atau pembacaan watak tanpa dasar nash, memiliki posisi yang serupa dengan praktek ramalan yang dilarang dalam Islam.

Namun demikian, tidak semua aspek kalender Jawa weton harus ditolak mentah-mentah. Sebagai bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur, ia tetap bisa dihargai dan dilestarikan selama tidak masuk ke wilayah akidah dan keyakinan.

Jika kalender weton hanya digunakan untuk sekadar mengenang sejarah, menandai hari tradisi, atau sebagai bentuk ekspresi budaya tanpa menyandarkan takdir kepadanya, maka tidak ada larangan secara mutlak.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton 30 Juni 2025, Bolehkah Meyakini Kalender Jawa Weton dalam Islam?

Kesimpulannya, asal-usul kalender Jawa weton memang berakar pada kepercayaan pra-Islam dan tradisi sinkretik yang tidak berlandaskan wahyu.

Karena itu, ketika ia digunakan untuk mempercayai nasib, takdir, atau hasil hidup manusia, maka jelas bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam.

Umat Islam dituntut untuk bersikap selektif: membedakan antara budaya yang boleh dilestarikan dan keyakinan yang harus dijaga kemurniannya.

Maka, kalender Hijriyah tetaplah pegangan utama umat Islam, sementara kalender weton harus diposisikan sebagai catatan budaya, bukan kompas kehidupan.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.