Sebagian Jemaah Haji Jalan Kaki dari Muzdalifah ke Mina, Jaraknya Bikin Kaget!

AKURAT.CO Perjalanan haji dari Muzdalifah ke Mina menjadi tantangan berat bagi sebagian jemaah haji tahun ini. Akibat keterlambatan armada bus, sejumlah jemaah terpaksa menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 5 hingga 7 kilometer di tengah padatnya arus perpindahan dan cuaca panas yang menyengat.
Seorang jemaah bernama Aini Kusuma, menyeburkan pada Kamis (5/6/2025) malam hingga Jumat pagi, perpindahan jemaah dari Muzdalifah ke Mina berlangsung sangat padat. Banyak jemaah, termasuk dirinya, harus berjalan kaki karena antrean panjang dan lambatnya kedatangan bus.
“Awalnya saya ikut jalan kaki bersama teman-teman sejauh hampir tiga kilometer. Tapi karena sudah tidak kuat menahan panas dan kelelahan, akhirnya kami naik ke bus yang sedang terjebak macet,” tutur Aini dalam laporannya, Jumat (6/6/2025).
Secara geografis, jarak antara Muzdalifah dan Mina memang tidak terlalu jauh jika dilihat di peta—sekitar 5,6 kilometer. Namun dalam praktiknya, jarak ini terasa sangat melelahkan karena jemaah harus berjalan sambil membawa perlengkapan pribadi, di tengah suhu yang bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
Sistem pengangkutan yang dikelola oleh syarikah atau perusahaan penyedia layanan haji lokal Arab Saudi, menjadi salah satu penyebab tidak lancarnya perpindahan ini. Aini menyebutkan, rombongannya yang berada di bawah syarikah MCDC mengalami keterlambatan layanan transportasi.
Kondisi serupa juga dialami Teguh Adi, jemaah asal Indonesia lainnya yang menceritakan bagaimana ia dan rombongannya menunggu bus hingga semalaman. “Seharusnya kami pindah ke Mina mulai pukul 23.00 malam, tapi baru bisa naik bus pukul 07.00 pagi. Macet total, sempat frustasi karena tidak ada kejelasan,” ungkapnya.
Teguh menambahkan bahwa syarikah yang menangani kloternya, yaitu RHL, sulit dihubungi dan membuat jemaah harus mengandalkan inisiatif pribadi. “Tidak ada yang bisa dihubungi. Kami harus mandiri, berjuang sendiri. Banyak yang kehausan karena logistik terbatas,” keluhnya.
Dalam situasi sulit tersebut, banyak jemaah tetap berusaha menjaga semangat dan kebersihan. Makanan yang tersisa dikumpulkan dan ditempatkan di tempat yang layak agar bisa dimanfaatkan jemaah lain. “Kami ini semua adalah tamu. Jadi apapun yang Allah kehendaki, kami terima. Tidak boleh marah, harus sabar,” kata Aini.
Baca Juga: Iduladha 1446 H, Pelindo Salurkan 924 Hewan Kurban untuk Masyarakat
Perjalanan dari Muzdalifah ke Mina adalah bagian dari prosesi puncak ibadah haji yang dimulai dengan wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah, dilanjutkan dengan mabit (bermalam) di Muzdalifah, lalu menuju Mina untuk melaksanakan lontar jumrah.
Meskipun lelah dan logistik terbatas, keteguhan hati para jemaah haji menunjukkan semangat ibadah yang luar biasa. Mereka tetap berjalan, tetap bersabar, dan tetap yakin bahwa ini semua adalah bagian dari ujian spiritual yang harus dijalani dengan ikhlas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










