Akurat

Bolehkah Muslim Memberi Ucapan Hari Kenaikan "Tuhan" Yesus Kristus?

Lufaefi | 29 Mei 2025, 20:36 WIB
Bolehkah Muslim Memberi Ucapan Hari Kenaikan "Tuhan" Yesus Kristus?

AKURAT.CO Setiap tahun, sebagian umat Kristen memperingati hari kenaikan Yesus Kristus ke langit. Dalam kalender liturgi Kristen, ini dikenal sebagai Ascension Day, sebuah momentum penting yang diyakini sebagai hari ketika Yesus—yang mereka anggap sebagai Tuhan dan Anak Allah—naik ke surga setelah penyaliban dan kebangkitannya.

Di tengah realitas kehidupan sosial yang plural, muncul pertanyaan dari kalangan Muslim: bolehkah seorang Muslim mengucapkan selamat atas perayaan itu?

Pertanyaan ini bukan soal toleransi semata. Ini menyentuh titik sensitif antara akidah dan interaksi sosial. Dalam Islam, keyakinan akan keesaan Allah dan penolakan terhadap konsep ketuhanan selain Allah adalah pilar yang tak tergantikan. Dalam surah al-Ikhlas, Allah menegaskan:

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Ayat ini adalah penegasan keras bahwa Tuhan dalam Islam tidak lahir dan tidak dilahirkan. Maka, ketika ada keyakinan bahwa Yesus (Isa) adalah Tuhan, dalam perspektif Islam itu adalah bentuk syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya.

Baca Juga: Islam Moderat sebagai Jalan Menghadirkan Syariat dalam Konteks Bhineka Tunggal Ika

Lalu, apakah dengan mengucapkan selamat atas hari kenaikan Yesus Kristus, seorang Muslim ikut mengafirmasi kepercayaan tersebut?

Dalam kaidah fikih, terdapat prinsip bahwa ridha bi al-kufr kufrun — “meridhai kekufuran adalah kekufuran itu sendiri.” Ulama seperti Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahl al-Dzimmah menyatakan bahwa mengucapkan selamat atas hari besar keagamaan non-Muslim yang berhubungan dengan akidah, seperti Natal atau hari kenaikan Yesus, termasuk perbuatan yang dilarang karena itu bentuk pengakuan terhadap kebatilan akidah mereka.

Namun, ini tidak serta-merta bermakna kita harus bersikap kasar atau intoleran. Islam mengajarkan adab dan rahmat dalam perbedaan. Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya: "Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)

Ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial, seorang Muslim tetap wajib menjunjung tinggi akhlak mulia, berkata sopan, dan menjaga kerukunan. Tetapi, tetap harus ada batas ketika menyangkut prinsip akidah. Menghormati orang bukan berarti ikut membenarkan keyakinannya.

Seorang Muslim dapat menunjukkan toleransi dalam bentuk tidak mengganggu ibadah mereka, memberi ruang untuk hidup berdampingan, atau menyampaikan salam umum seperti "semoga harimu menyenangkan", tanpa menyebut ucapan yang menyiratkan persetujuan terhadap keyakinan teologis yang bertentangan dengan Islam.

Hal ini sangat berbeda dengan misalnya ucapan selamat ulang tahun atau keberhasilan pendidikan, yang bersifat duniawi dan tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Adapun hari kenaikan Yesus Kristus, secara eksplisit merupakan peringatan terhadap keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan yang naik ke surga. Maka, mengucapkan selamat atas hari tersebut dianggap menyetujui bagian dari doktrin ketuhanan Yesus, dan ini bertentangan dengan prinsip utama dalam Islam.

Baca Juga: 20 Link Twibbon Kenaikan Yesus Kristus 2025 Terbaru Secara Gratis, Cocok untuk Profil Foto Media Sosial!

Jadi, dalam kesimpulan yang tenang dan hati-hati, seorang Muslim sebaiknya tidak memberi ucapan selamat atas hari kenaikan Yesus Kristus dalam format yang mengafirmasi keyakinan Kristen tentang ketuhanannya. Namun demikian, tetaplah ramah, santun, dan hormat dalam berinteraksi.

Toleransi tidak selalu berarti menyetujui semua hal, tetapi mampu hidup bersama tanpa saling menyakiti keyakinan masing-masing. Islam mengajarkan rahmat, tapi juga konsistensi dalam akidah. Maka dari itu, berhati-hatilah dalam ucapan, sebab dari lisan bisa tergelincir ke ranah yang tidak kita sadari.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.