Akurat

Asal-usul Bulan Dzulhijjah dalam Islam, Sejarah dan Hikmahnya

Lufaefi | 26 Mei 2025, 07:00 WIB
Asal-usul Bulan Dzulhijjah dalam Islam, Sejarah dan Hikmahnya

AKURAT.CO Bulan Dzulhijjah adalah bulan kedua belas dalam kalender Hijriah dan menjadi salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam.

Ia tidak hanya dikenal karena menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji dan Idul Adha, tetapi juga karena sejarah panjang dan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

Asal-usul penamaan, peristiwa sejarah yang menyertainya, dan hikmah di balik pelaksanaannya menjadi bagian penting dari pemahaman umat Islam terhadap waktu suci ini.

Secara etimologis, kata Dzulhijjah berasal dari bahasa Arab “Dzu” yang berarti memiliki, dan “Al-Hijjah” yang berarti haji. Jadi, Dzulhijjah berarti bulan yang memiliki atau berkaitan dengan ibadah haji.

Penamaan ini sudah dikenal bahkan sebelum datangnya Islam, karena masyarakat Arab pra-Islam telah menjadikan bulan ini sebagai waktu untuk menunaikan ibadah haji sesuai dengan tradisi warisan Nabi Ibrahim AS. Namun, Islam menyempurnakan ibadah haji menjadi salah satu dari lima rukun Islam.

Baca Juga: 1 Dzulhijjah 2025 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Jadwal Lengkap dan Amalan Utamanya

Dalam sejarah Islam, bulan Dzulhijjah memiliki tempat yang sangat agung. Ibadah haji, yang menjadi puncak ritual umat Islam di bulan ini, berakar dari peristiwa kehidupan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS.

Kisah pencarian air oleh Siti Hajar yang kemudian melahirkan sumur Zamzam, perintah penyembelihan Nabi Ismail AS yang digantikan dengan seekor domba oleh Allah, serta pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail adalah fondasi dari berbagai manasik haji yang dijalankan umat Islam hingga kini.

Dzulhijjah juga menjadi bulan yang sarat dengan momen spiritual dan refleksi keimanan. Di dalamnya terdapat hari-hari utama seperti hari Arafah dan Idul Adha.

Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah saat jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk berwukuf, yang dianggap sebagai puncak ibadah haji.

Sementara itu, pada tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban sebagai simbol ketaatan dan keikhlasan kepada Allah SWT.

Bulan ini juga menjadi waktu istimewa untuk memperbanyak amal ibadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada hari-hari yang amal salehnya lebih dicintai Allah dibandingkan dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan melakukan berbagai amal kebajikan lainnya.

Hikmah dari bulan Dzulhijjah tidak hanya terletak pada pelaksanaan ibadah, tetapi juga pada pesan moral dan spiritual yang dikandungnya. Dzulhijjah mengajarkan makna pengorbanan, kesabaran, kepasrahan, dan penguatan ikatan sosial.

Baca Juga: Ivan Gunawan Sujud di Kaki Ibunda Sebelum Berangkat Haji: Doa Tembus Langit Itu Doa Ibumu

Ibadah haji menyatukan umat Islam dari berbagai penjuru dunia, melampaui batas ras, bahasa, dan kebangsaan, dalam satu kesatuan umat yang tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan memahami asal-usul dan sejarah bulan Dzulhijjah, umat Islam diajak untuk memaknainya bukan hanya sebagai bulan ritual semata, tetapi juga sebagai momentum pembinaan karakter, pembaruan niat, serta peneguhan komitmen dalam menjalani hidup yang lebih bertakwa.

Dzulhijjah menjadi pengingat bahwa penghambaan kepada Allah tidak hanya melalui ibadah fisik, tetapi juga melalui tindakan yang merefleksikan nilai-nilai ketulusan, keikhlasan, dan solidaritas kemanusiaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.