Akurat

Cara Bijak Islami Menyikapi Harga Emas Antam Logam Mulia yang Naik Turun Secara Fluktuatif

Fajar Rizky Ramadhan | 9 Mei 2025, 08:30 WIB
Cara Bijak Islami Menyikapi Harga Emas Antam Logam Mulia yang Naik Turun Secara Fluktuatif

AKURAT.CO Fenomena naik turunnya harga emas, termasuk emas Antam logam mulia, telah menjadi perhatian masyarakat luas, terutama mereka yang menjadikan emas sebagai salah satu bentuk investasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, harga emas mengalami fluktuasi yang cukup tajam, dipengaruhi oleh berbagai faktor global seperti geopolitik, inflasi, suku bunga, hingga nilai tukar dolar Amerika.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana seorang Muslim seharusnya menyikapi gejolak harga emas secara bijak dan Islami?

Islam sebagai agama yang sempurna memberikan panduan yang holistik dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam urusan harta dan ekonomi.

Dalam menyikapi fluktuasi harga emas, ada beberapa prinsip syariah yang patut direnungi agar tidak terjebak dalam spekulasi atau tindakan emosional yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Pertama, Islam menekankan pentingnya tawakkal setelah ikhtiar dalam segala urusan, termasuk urusan ekonomi. Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. At-Talaq: 3)

Baca Juga: Sejak Kapan Maxime Bouttier Mualaf? Cara Wudhunya Pernah Jadi Sorotan

Dalam konteks fluktuasi harga emas, tawakkal berarti tidak panik ketika harga turun drastis atau terlalu euforia saat harga melonjak tinggi.

Seorang Muslim tetap tenang, bijak, dan menyandarkan keputusannya pada pertimbangan yang rasional serta keyakinan bahwa rezeki telah ditentukan oleh Allah.

Kedua, prinsip larangan gharar (ketidakjelasan) dan maysir (spekulasi) dalam Islam mengajarkan bahwa transaksi yang dilakukan harus berdasarkan pada pengetahuan dan kejelasan.

Membeli emas dengan niat investasi jangka panjang diperbolehkan, selama tidak ada unsur spekulasi yang berlebihan atau harapan untung instan yang penuh ketidakpastian. Rasulullah ﷺ bersabda:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah melarang jual beli yang mengandung ketidakjelasan.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, umat Islam disarankan untuk memahami terlebih dahulu mekanisme pasar, membaca indikator ekonomi, dan tidak sekadar ikut-ikutan tren dalam membeli atau menjual emas. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian dan kecerdasan finansial dalam bingkai nilai-nilai syariah.

Ketiga, Islam juga mendorong prinsip keseimbangan antara dunia dan akhirat. Mengejar keuntungan duniawi seperti berinvestasi dalam emas bukanlah hal yang dilarang, namun harus tetap seimbang dengan tujuan hidup sebagai hamba Allah. Allah ﷻ berfirman:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini mengingatkan bahwa investasi duniawi, seperti membeli emas logam mulia, hendaknya dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan semata untuk menumpuk kekayaan.

Misalnya, emas yang dimiliki bisa menjadi tabungan untuk membiayai pendidikan anak, membantu orang tua, atau sebagai dana darurat ketika musibah datang.

Keempat, jangan lupakan kewajiban zakat emas. Banyak orang lupa bahwa menyimpan emas dalam jumlah tertentu juga memiliki konsekuensi syariah, yakni zakat 2,5% setiap tahun jika mencapai nishab (85 gram) dan telah tersimpan selama satu tahun. Allah ﷻ memperingatkan:

وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34).

Baca Juga: 7 Teks Naskah Khutbah Jumat Bulan Dzulqa’dah

Dengan demikian, fluktuasi harga emas bukan hanya urusan ekonomi, melainkan juga ujian keimanan dan kecerdasan spiritual. Seorang Muslim dituntut untuk bersikap seimbang: cermat dalam strategi finansial, tenang dalam menghadapi gejolak pasar, dan selalu menjadikan syariah sebagai landasan dalam setiap keputusan.

Akhirnya, bijak menyikapi naik turunnya harga emas bukan hanya soal mencari momen beli murah dan jual mahal, melainkan tentang memahami bahwa rezeki telah diatur, dan bahwa emas sejati seorang Muslim bukan logam mulia, melainkan amal saleh yang tak ternilai harganya di sisi Allah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.