Jumat 18 April 2025 Hari Libur Paskah, Apakah Umat Islam Boleh Merayakan Hari Paskah?

AKURAT.CO Jumat, 18 April 2025, diperingati sebagai hari libur nasional dalam rangka memperingati Hari Raya Paskah bagi umat Kristiani.
Sebagaimana lazimnya hari-hari besar keagamaan di Indonesia, negara memberikan ruang libur nasional untuk menghormati keberagaman agama yang dianut warganya.
Namun, di tengah atmosfer perayaan Paskah, sebagian umat Islam mungkin bertanya-tanya: Apakah umat Islam boleh ikut merayakan Hari Paskah?
Pertanyaan ini bukan semata soal toleransi, tetapi menyentuh aspek teologis yang mendalam.
Islam sebagai agama tauhid yang memiliki ajaran tegas tentang akidah, menetapkan batas-batas tertentu dalam berinteraksi dengan ritual keagamaan umat lain.
Oleh karena itu, penting untuk menyikapi pertanyaan ini secara ilmiah dan proporsional, bukan emosional apalagi berdasarkan asumsi sosial belaka.
Pertama, dalam Islam terdapat prinsip yang sangat mendasar tentang eksklusivitas ibadah. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ"
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Baca Juga: Prajurit Paskhas Distribusikan Bantuan Kemanusiaan OASE KIM dan Dharma Pertiwi
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Merayakan hari besar agama lain, dalam konteks ibadah atau ritual yang mengandung unsur keyakinan tertentu, bisa termasuk dalam bentuk tasyabbuh (menyerupai) dalam akidah.
Dalam hadis Nabi SAW juga ditegaskan:
"مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ"
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis ini sering dijadikan dasar oleh para ulama dalam membatasi umat Islam agar tidak mengikuti atau menyerupai praktik ibadah umat lain, apalagi yang bersifat teologis seperti Hari Paskah.
Paskah, dalam ajaran Kristen, merupakan perayaan kebangkitan Yesus dari kematian, sebuah konsep yang secara langsung bertentangan dengan keyakinan Islam tentang Nabi Isa 'alaihis salam. Dalam Islam, Nabi Isa tidak disalib, melainkan diangkat ke langit oleh Allah.
"وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ"
“Mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 157)
Dari sini, menjadi sangat jelas bahwa umat Islam memiliki narasi tersendiri terhadap peristiwa yang diperingati dalam Paskah. Maka dari itu, mengikuti atau turut merayakan Hari Paskah dalam makna ritual atau keyakinan akan menyalahi akidah Islam.
Namun, bagaimana dengan sekadar memberikan ucapan selamat atau ikut dalam kegiatan sosial seperti makan bersama tanpa menyentuh unsur ibadah?
Para ulama kontemporer memiliki pandangan beragam. Sebagian membolehkan dalam konteks mu’amalah atau hubungan sosial, selama tidak ada unsur pembenaran terhadap akidah mereka, dan tidak terlibat dalam ritual keagamaannya. Sementara yang lain lebih ketat, karena khawatir akan mengaburkan batas akidah.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, penting bagi umat Islam untuk tetap menjunjung tinggi toleransi, tanpa harus ikut serta dalam aspek ritual agama lain. Toleransi bukan berarti sinkretisme.
Baca Juga: Tanggal 18 April 2025 Libur Hari Apa? Apakah Berkaitan dengan Hari Besar Keagamaan?
Menghormati bukan berarti mengamini. Toleransi sejati adalah ketika kita saling menghargai keyakinan masing-masing, tanpa harus mencampuradukkan batas-batas aqidah.
Kesimpulannya, merayakan Hari Paskah dalam makna peribadatan adalah tidak diperbolehkan dalam Islam karena bertentangan dengan prinsip tauhid dan akidah Islam.
Namun, bersikap ramah dan menjaga hubungan baik dengan umat Kristiani tanpa melibatkan diri dalam perayaan ritual keagamaannya adalah bentuk toleransi yang masih berada dalam koridor syar’i.
Di hari libur nasional ini, alih-alih merayakan Paskah, umat Islam bisa memanfaatkan waktu untuk memperkuat spiritualitasnya sendiri—mungkin dengan tilawah, refleksi diri, atau memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam.
Karena sejatinya, menjadi Muslim yang baik adalah dengan menjaga kemurnian akidah sembari tetap menjadi warga negara yang menghargai keragaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









