Akurat

Serial Film Bidaah, Ingin Kritik Paham Keagamaan yang Sesat, tapi Terjebak pada Kesesatan yang Lain!

Fajar Rizky Ramadhan | 13 April 2025, 11:00 WIB
Serial Film Bidaah, Ingin Kritik Paham Keagamaan yang Sesat, tapi Terjebak pada Kesesatan yang Lain!

AKURAT.CO Serial film Bidaah memang sedang jadi buah bibir di media sosial, terutama TikTok. Bukan hanya karena jalan ceritanya yang intens dan penuh misteri, tetapi juga karena keberaniannya mengangkat tema sensitif: penyimpangan dalam kelompok keagamaan.

Lewat tokoh Baiduri yang dipaksa masuk ke dalam sekte Jihad Ummah pimpinan Walid Muhammad, film ini ingin menyingkap tabir gelap praktik manipulatif yang dibungkus dengan simbol-simbol agama.

Tapi justru di sinilah letak masalahnya—film ini mencoba mengkritik kesesatan, namun terjebak pada bentuk kesesatan lain: penyederhanaan, stereotip, dan pengaburan kompleksitas ajaran Islam.

Jika dibedah secara ilmiah, niat mengkritik kelompok keagamaan yang menyeleweng tentu sah-sah saja. Bahkan itu merupakan bagian dari tanggung jawab etis umat Islam.

Dalam QS. Ali Imran: 104, Allah memerintahkan agar selalu ada sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Namun, ayat ini tidak memandatkan pendekatan yang reduktif atau menyudutkan kelompok tertentu hanya berdasarkan simbol, bahasa, atau cara berpakaian.

Film Bidaah sayangnya terjebak dalam jebakan visual dan naratif yang menjadikan pakaian keagamaan, istilah tasawuf, serta praktik spiritual sebagai indikator utama kesesatan. Tokoh Walid digambarkan berjubah, memiliki banyak pengikut, dan kerap menggunakan dalil-dalil agama untuk mengontrol mereka.

Ini jelas menggiring opini publik bahwa semua bentuk keberagamaan yang spiritualistik, khususnya yang mengandung unsur tasawuf, adalah berbahaya dan mudah melenceng. Ini merupakan generalisasi yang tidak hanya keliru, tetapi juga bertentangan dengan tradisi keilmuan Islam sendiri.

Baca Juga: Kritik Serial Film Bidaah: Tak Seimbang karena Hanya Tampilkan Tokoh Agama yang Eksklusif!

Sejak zaman klasik, Islam telah memiliki perangkat metodologis untuk memfilter mana praktik keagamaan yang sah dan mana yang tidak.

Dalam dunia tasawuf, misalnya, tokoh seperti Imam al-Ghazali secara gamblang menulis dalam Ihya Ulumuddin tentang pentingnya ilmu dan syariat sebagai fondasi dalam menempuh jalan spiritual.

Sufisme bukanlah sekte, melainkan dimensi batin dari Islam yang justru mengakar kuat dalam teks dan tradisi.

Dalam tafsir modern pun, seperti yang dikembangkan oleh Fazlur Rahman, pendekatan terhadap teks suci haruslah kontekstual dan rasional, bukan literal semata.

Ironisnya, Bidaah menggunakan argumen-argumen tekstual yang justru mirip dengan yang digunakan oleh kelompok yang hendak dikritiknya: absolutis, tanpa ruang untuk takwil, dan mencurigai semua yang tidak sesuai dengan kerangka literal.

Padahal, dalam ilmu tafsir, tidak semua ayat bersifat qat’i (pasti). Banyak yang zanni (multiinterpretatif), sehingga pemahaman terhadapnya memerlukan ilmu, bukan sekadar niat.

Selain itu, penyajian film ini seolah meniadakan peran tokoh agama yang moderat, padahal dalam kenyataan sosial, tokoh-tokoh seperti itu hadir dan aktif dalam membimbing masyarakat. Kritik terhadap satu aliran tidak serta-merta membenarkan pengaburan terhadap eksistensi yang lain.

Jika Bidaah ingin menjadi kritik yang ilmiah dan adil, seharusnya ia juga menampilkan perlawanan intelektual dari tokoh-tokoh agama yang lurus dan arif, bukan hanya dari pihak “korban” yang awam atau tokoh “penyesat” yang karismatik.

Hal ini berbahaya karena membentuk opini publik yang menyamakan agama dengan kontrol, simbol dengan kekuasaan, dan praktik spiritual dengan kebodohan. Ini merupakan bentuk kesesatan epistemik, yaitu kesalahan dalam cara berpikir tentang agama. Ia membingkai agama dari satu sisi ekstrem saja, tanpa ruang untuk nuansa atau kompleksitas.

Dalam pendekatan hermeneutika agama kontemporer, seperti yang dijelaskan Nasr Hamid Abu Zayd, teks agama tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan historisnya. Mengesampingkan pendekatan ini akan menjadikan agama sebagai proyek ideologis, bukan sebagai sumber kebijaksanaan universal.

Baca Juga: Serial Film Bidaah: Antara Kritik Paham Keagamaan Eksklusif dan Penyudutan Agama Islam

Dengan kata lain, Bidaah berambisi meluruskan apa yang dianggap menyimpang, tapi justru membelokkan makna agama menjadi sesuatu yang menakutkan dan penuh manipulasi. Ia ingin menguliti bid‘ah, tapi justru menciptakan bid‘ah naratif: agama dipersempit, distereotipkan, dan dimanipulasi secara sinematik.

Pertanyaannya, siapa yang sesungguhnya menyimpang? Apakah kelompok ekstremis dalam cerita, atau cara film ini menarasikan keberagamaan sebagai arena kegelapan?

Jika kesesatan adalah penyimpangan dari nilai-nilai substansial agama—seperti keadilan, kasih sayang, ilmu, dan moderasi—maka Bidaah tidak sedang menjernihkan masalah, melainkan mengaburkannya lebih jauh.

Dengan demikian, film ini harus dipandang secara kritis, bukan sebagai representasi otoritatif dari perlawanan terhadap bid‘ah, tapi sebagai refleksi dari satu narasi ideologis yang perlu ditantang dengan akal sehat, ilmu, dan keberanian berpikir lebih dalam tentang makna agama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.