Serial Film Bidaah, Ingin Basmi Bid‘ah Justru Terjebak pada Bid‘ah yang Lain!

AKURAT.CO Serial drama Malaysia, Serial Film Bidaah yang kini viral di jagat media sosial, khususnya TikTok, tampaknya sedang memainkan permainan yang berbahaya dalam lanskap pemikiran keagamaan kontemporer.
Dengan narasi yang seolah ingin membongkar praktik keagamaan menyimpang dan membasmi bid‘ah, film ini justru tergelincir pada produksi bid‘ah baru: bid‘ah dalam cara pandang terhadap agama yang sempit, monolitik, dan anti-tafsir.
Secara garis besar, Bidaah menceritakan tentang tokoh Baiduri yang masuk ke dalam sebuah kelompok keagamaan eksklusif bernama Jihad Ummah yang dipimpin oleh tokoh karismatik Walid.
Sekilas, pesan moral film ini bisa dipahami sebagai kritik terhadap pemimpin agama manipulatif dan sektarian.
Namun jika ditelusuri lebih dalam, film ini secara visual dan naratif justru mengidentifikasi simbol-simbol sufisme sebagai representasi kesesatan: pemimpin spiritual berjubah, ketaatan murid terhadap guru, serta penggunaan istilah-istilah religius dalam aktivitas keseharian. Hal ini jelas mencerminkan bias ideologis yang cukup kuat terhadap satu aliran tertentu.
Baca Juga: Kritik Serial Film Bidaah: Tak Seimbang karena Hanya Tampilkan Tokoh Agama yang Eksklusif!
Kritik terhadap bid‘ah memang bukan hal yang asing dalam tradisi Islam. Namun, dalam kajian keislaman klasik, makna bid‘ah tidak sesederhana "hal baru yang tidak dilakukan Nabi." Para ulama seperti Imam al-Nawawi, al-Ghazali, hingga Imam asy-Syathibi membedakan antara bid‘ah hasanah (baik) dan bid‘ah dholalah (sesat).
Misalnya, pengumpulan mushaf Al-Qur’an di masa Abu Bakar, pembangunan sekolah madrasah, bahkan penggunaan pengeras suara di masjid—semuanya merupakan praktik baru (dalam arti teknis) yang tidak pernah dilakukan di masa Nabi, tetapi tetap diterima karena sesuai dengan maqashid syariah (tujuan-tujuan utama syariat).
Dalam hal ini, Bidaah terkesan menggunakan logika keagamaan yang bersandar hanya pada tekstualisme sempit tanpa memperhitungkan maqashid, konteks sejarah, atau pendekatan tafsir yang ilmiah.
Al-Qur’an memang merupakan petunjuk yang sempurna (QS. Al-Baqarah: 2), namun pemahaman terhadapnya harus melalui jalan ilmu, tafsir, dan pembacaan yang multidisipliner.
Sayangnya, tokoh Walid dalam film ini, meski digambarkan menyimpang, dibentuk dari konstruksi simbolik yang menyerupai pemimpin tarekat sufi, sehingga memunculkan asumsi bahwa sufisme adalah ladang subur bagi penyesatan.
Lebih ironis lagi, ketika film ini menjadikan bid‘ah sebagai musuh utama, narasi yang dibangunnya justru menjebak dirinya dalam bid‘ah jenis lain: pengabsolutan satu tafsir, penyederhanaan ajaran Islam, dan penafian terhadap pluralitas pemikiran.
Dalam ilmu ushul fiqh, pendekatan seperti ini dikenal sebagai bentuk ta’assub (fanatisme buta), yang justru dilarang dalam banyak tradisi Islam. Imam Malik sendiri pernah berkata, “Setiap orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya kecuali penghuni makam ini,” sambil menunjuk ke makam Nabi Muhammad SAW.
Film Bidaah juga tampak abai terhadap prinsip al-dinu yusr—agama itu mudah dan membawa rahmat, bukan paksaan dan ketakutan.
Dengan menggambarkan agama sebagai kekuatan yang otoriter, gelap, dan penuh jebakan sektarian, film ini tanpa sadar telah menciptakan kesan bahwa agama adalah ancaman.
Di sinilah letak bid‘ah kontemporer yang justru lahir dari proyek pembasmian bid‘ah itu sendiri: menyederhanakan agama menjadi alat politik atau simbol dominasi yang kehilangan ruh dan cinta.
Jika agama dipersempit hanya pada satu cara pandang, satu jenis tafsir, dan satu wajah tokoh, maka inilah bentuk bid‘ah epistemik yang justru jauh lebih berbahaya.
Padahal, Nabi sendiri hidup dalam keberagaman pandangan para sahabat dan tidak pernah memonopoli penafsiran. Sejumlah hadis bahkan menegaskan bahwa ikhtilaf dalam umat ini adalah rahmat, bukan musibah.
Oleh karena itu, serial Bidaah patut dikritik secara ilmiah dan etis. Bukan semata karena penyimpangan naratifnya terhadap realitas sosial-keagamaan, tetapi karena ia menciptakan dikotomi palsu: antara Islam “yang benar” (dalam logika film: literal, anti-sufi, dan keras) versus Islam “yang sesat” (yang ditampilkan melalui simbol-simbol sufistik dan tradisi lokal).
Padahal dalam kenyataannya, Islam adalah spektrum yang luas—mulai dari teologi, fiqih, hingga tasawuf, semuanya terhubung dalam harmoni intelektual yang telah dibangun sejak zaman klasik.
Baca Juga: Serial Film Bidaah: Antara Kritik Paham Keagamaan Eksklusif dan Penyudutan Agama Islam
Maka pertanyaannya: Siapa sebenarnya yang melakukan bid‘ah? Mereka yang melestarikan tradisi spiritual Islam dengan pendekatan hikmah dan kasih sayang? Ataukah mereka yang memonopoli kebenaran dengan tafsir tunggal, sembari menyebarkan ketakutan dalam balutan drama layar kaca?
Ironi film Bidaah bukan hanya pada kisahnya, tetapi pada pesan yang ditegaskannya: bahwa dalam usahanya membasmi bid‘ah, ia justru menciptakan bid‘ah baru—yakni bid‘ah dalam cara berpikir tentang Islam itu sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










