5 Kesesatan Sekte Jihad Ummah dalam Serial Bidaah

AKURAT.CO Drama Malaysia Bidaah yang tayang di platform Viu bukan sekadar tontonan, melainkan kritik sosial-agama yang menggelitik kesadaran.
Serial ini menyajikan potret mengerikan tentang sebuah sekte keagamaan fiktif bernama Jihad Ummah, yang berkamuflase sebagai gerakan spiritual, namun di dalamnya penuh dengan manipulasi, penyesatan, dan kekerasan simbolik.
Dipimpin oleh tokoh karismatik bernama Walid Muhammad, sekte Jihad Ummah merekrut pengikutnya dengan doktrin yang terdengar agamis tapi menyimpang.
Serial ini secara halus tapi tajam membongkar bagaimana penyimpangan agama bisa dikemas dalam balutan retorika suci. Berikut lima bentuk kesesatan dalam sekte Jihad Ummah yang ditampilkan dalam Bidaah:
1. Kultus Individu dan Pengkultusan Pemimpin
Salah satu kesesatan utama Jihad Ummah adalah menjadikan Walid Muhammad sebagai figur setengah ilahi. Perkataannya tak boleh dibantah, tindakannya dianggap wahyu, dan pengikutnya memujanya lebih dari kewajaran manusia biasa. Kultus semacam ini melenceng jauh dari prinsip tauhid dalam Islam yang menegaskan bahwa hanya Allah yang patut ditaati mutlak.
Baca Juga: Viral Serial Bidaah, Apa Saja Hikmah yang Bisa Diambil?
2. Penyimpangan Tafsir dan Ajaran Agama
Dalam serial Bidaah, Walid memelintir ayat-ayat suci untuk mendukung agenda pribadi dan kontrolnya atas anggota sekte. Ia mencomot potongan ayat dan hadits tanpa konteks, menciptakan logika spiritual baru yang membuat para pengikutnya bingung namun pasrah. Ini adalah bentuk tafsir menyimpang yang sering digunakan oleh pemimpin sekte dalam dunia nyata.
3. Isolasi Sosial dan Pemutusan dari Keluarga
Salah satu strategi sektarian klasik adalah memutuskan hubungan anggota dengan dunia luar—termasuk keluarga dan masyarakat. Dalam Bidaah, Baiduri dipaksa meninggalkan keluarganya dan tinggal di lingkungan tertutup, di mana informasi dikontrol dan identitas diri dibentuk ulang. Teknik ini digunakan untuk menghapus kritik dan membangun ketergantungan total pada kelompok.
4. Kekerasan Psikologis dan Penindasan Gender
Drama ini menampilkan bagaimana perempuan dalam sekte Jihad Ummah dijadikan objek kendali. Baiduri dan perempuan lainnya diatur cara berpakaian, bicara, bahkan pikirannya. Penindasan ini dibungkus dalam klaim “kesucian” dan “ketaatan,” padahal secara nyata adalah bentuk patriarki toksik yang merusak otonomi individu.
Baca Juga: Link Nonton Serial Bidaah yang Sedang Trending di Tiktok
5. Penggiringan Menuju Fanatisme dan Anti-Kemanusiaan
Kesesatan terakhir yang mencolok adalah bagaimana Jihad Ummah menggiring anggotanya untuk menjadi eksklusif, fanatik, dan bahkan merasa lebih suci dari umat lain. Mereka diajarkan membenci orang luar, menganggap dunia kafir, dan menolak dialog. Ideologi semacam ini bukan hanya sesat, tetapi juga berpotensi melahirkan radikalisme dan kekerasan nyata.
Serial Bidaah adalah peringatan keras yang dikemas dalam bentuk drama: bahwa sekte sesat tak selalu muncul dengan wajah menyeramkan.
Justru seringkali mereka datang dengan senyum manis, bahasa religius, dan janji keselamatan yang menyesatkan.
Melalui tokoh Baiduri, penonton diajak untuk berpikir ulang—bahwa iman bukan soal ketaatan buta, tapi pencarian sadar yang berpijak pada akal, ilmu, dan hati nurani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









