Akurat

Niat Puasa Sunnah Bulan Syawal dan Tata Cara Pelaksanaannya

Lufaefi | 8 April 2025, 08:00 WIB
Niat Puasa Sunnah Bulan Syawal dan Tata Cara Pelaksanaannya

AKUTAT.CO Berikut ini adalah bacaan niat puasa Sunnah bulan Syawal dan tata cara pelaksanaannya.

Setelah umat Islam menunaikan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan, datanglah bulan Syawal yang membawa berkah lanjutan dalam bentuk peluang meraih keutamaan puasa sunnah.

Di antara amalan istimewa yang dianjurkan di bulan ini adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam memberikan motivasi luar biasa bagi siapa pun yang ingin melanjutkan semangat Ramadhan ke bulan Syawal.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda:

من صام رمضان ثم أتبعه ستًا من شوال كان كصيام الدهر

Artinya: "Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim no. 1164)

Hadis ini menjadi dasar utama dianjurkannya puasa enam hari Syawal. Menariknya, Rasulullah menggunakan bentuk tasybih (perumpamaan), "seperti berpuasa sepanjang tahun".

Dalam ilmu balaghah, ini bukan sekadar pengandaian kosong, melainkan motivasi yang disampaikan dalam bentuk retorika spiritual, mengajak umat Islam untuk tidak berhenti pada Ramadhan saja.

Baca Juga: Niat Puasa Qadha Ramadhan Bagaimana? Ini Opsi Bacaan-bacaannya!

Dalam fikih, niat merupakan syarat sah puasa. Imam Nawawi dalam al-Majmū’ menyebutkan bahwa niat untuk puasa sunnah boleh dilakukan sejak malam hari hingga sebelum tergelincir matahari, asalkan belum makan atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Namun, niat tetap merupakan perkara hati; melafalkannya hanya sebagai sarana bantu untuk menghadirkan kesadaran niat dalam batin.

Adapun redaksi niat puasa sunnah Syawal dalam bahasa Arab yang lazim dilafalkan adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سُنَّةِ شَوَّالٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah Ta‘ala."

Secara teknis, lafaz tersebut bukan berasal dari hadis Nabi, melainkan formulasi ulama yang digunakan untuk membantu umat menguatkan intensi hati.

Dalam hal ini, penting untuk dicatat bahwa niat bukan pada lafaz, melainkan pada keikhlasan dan kesengajaan ibadah di dalam hati.

Jadi, meskipun seseorang tidak melafalkan dengan mulut, selama ia di pagi hari belum makan dan berniat di dalam hati untuk puasa Syawal, maka puasanya sah.

Tata Cara Pelaksanaan Puasa Syawal

Puasa sunnah enam hari Syawal dapat dilakukan dengan cara berurutan atau terpisah. Tidak ada dalil khusus yang mengharuskan puasa itu dilakukan secara berturut-turut, sehingga kebebasan ini merupakan bentuk kemurahan Islam dalam memberi ruang fleksibilitas bagi umat.

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menegaskan bahwa baik dilakukan secara beruntun maupun terpisah-pisah, keduanya sama-sama sah dan mendapat pahala yang dijanjikan dalam hadis.

Namun, ada satu prinsip penting dalam pelaksanaannya: puasa Syawal hanya bisa dikerjakan oleh mereka yang telah menyempurnakan puasa Ramadhan.

Jika seseorang memiliki utang puasa Ramadhan karena sakit atau haid, maka mendahulukan qadha adalah prioritas sebelum melakukan puasa sunnah.

Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama, termasuk dalam mazhab Syafi’i. Ini berdasarkan kaidah: ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب — “Sesuatu yang tidak sempurna pelaksanaan kewajiban kecuali dengan dia, maka dia menjadi wajib pula.”

Maka, seseorang yang masih punya utang puasa Ramadhan sebaiknya menunaikan dulu qadha, lalu melanjutkan puasa Syawal.

Beberapa ulama membolehkan menggabungkan niat qadha dan puasa Syawal, tetapi ini masuk ranah khilafiyah yang memerlukan pertimbangan dan niat yang benar-benar cermat.

Baca Juga: Niat Puasa Syawal Bisa Dilakukan di Siang Hari, Ini Sejumlah Dalilnya!

Mengapa puasa Syawal begitu dianjurkan? Sebagian ulama menyatakan bahwa enam hari ini berfungsi sebagai “pelatihan lanjutan” setelah Ramadhan.

Dalam kacamata spiritualitas, Syawal menguji konsistensi seseorang setelah euforia ibadah Ramadhan selesai. Puasa enam hari ini seolah menjadi “evaluasi lanjutan”, apakah kita hanya taat musiman, atau benar-benar ingin menjadikan taqwa sebagai gaya hidup.

Lebih jauh lagi, jika Ramadhan membakar dosa, maka Syawal adalah momentum untuk memurnikan niat dan memperkuat tekad ibadah di luar bulan suci. Sebagaimana dalam dunia kebugaran ada masa “maintenance” setelah diet ketat, begitu pula ibadah memerlukan kesinambungan agar ruhani tetap stabil.

Akhirnya, melaksanakan puasa Syawal memang ringan secara teknis, hanya enam hari dari sebulan. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga semangat di tengah kondisi pasca-Ramadhan yang mulai melonggar.

Justru di sinilah nilai ibadah itu diuji: mampukah kita menjadi Muslim yang tetap istiqamah ketika suasana sudah tidak semeriah bulan puasa?

Puasa Syawal adalah amalan kecil dengan dampak besar. Bukan hanya soal jumlah hari, tapi juga tentang menjaga ritme spiritualitas agar tidak turun drastis. Ini bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi penanda bahwa seseorang tidak kembali ke titik nol setelah Ramadhan, melainkan terus naik meniti tangga taqwa.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.