Akurat

Mengenal Guru Spiritual dalam Kajian Ilmu Tasawuf

Fajar Rizky Ramadhan | 23 Januari 2025, 05:25 WIB
Mengenal Guru Spiritual dalam Kajian Ilmu Tasawuf

AKURAT.CO Dalam tradisi tasawuf, guru spiritual atau sering disebut sebagai mursyid, memiliki peranan yang sangat penting dalam membimbing murid menuju jalan kesucian jiwa dan kedekatan kepada Allah.

Konsep guru dalam tasawuf tidak hanya terkait dengan transfer ilmu, tetapi juga dengan pembentukan karakter dan pengembangan ruhani.

Tasawuf menekankan pentingnya seorang guru yang dapat membimbing seorang murid dengan hikmah dan pengalaman langsung menuju jalan Allah yang benar.

Al-Qur'an memberikan isyarat akan pentingnya kehadiran seorang pembimbing dalam perjalanan spiritual. Dalam surah Al-Kahfi, Allah berfirman mengenai kisah Nabi Musa dan Khidr:

"فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا ءَاتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا"

"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahfi: 65).

Baca Juga: Hukum Menggunakan 'Orang Dalam' saat Melamar Pekerjaan, Apakah Haram dalam Islam?

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam perjalanan spiritual, seorang pembimbing yang memiliki ilmu dari Allah adalah sosok yang sangat diperlukan.

Kisah Nabi Musa yang belajar kepada Khidr mengajarkan kita bahwa seorang guru memiliki peran untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, bahkan terhadap sesuatu yang mungkin tidak dapat dijangkau oleh akal biasa.

Dalam konteks tasawuf, guru spiritual adalah sosok yang telah mencapai maqam tertentu dalam kedekatan dengan Allah, sehingga ia memiliki kemampuan untuk membimbing orang lain.

Rasulullah ﷺ sendiri adalah guru spiritual pertama bagi para sahabat. Beliau tidak hanya mengajarkan syariat, tetapi juga membimbing mereka dalam menyucikan jiwa. Allah berfirman:

"هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ"

"Dialah yang telah mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah." (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa tugas Rasulullah ﷺ tidak hanya sebagai penyampai wahyu, tetapi juga sebagai pembimbing ruhani yang menyucikan jiwa umatnya. Dalam tradisi tasawuf, fungsi ini diteruskan oleh para wali dan ulama yang memiliki keahlian dalam ilmu batin.

Ibnu Atha'illah As-Sakandari, seorang ulama besar tasawuf, dalam kitab Al-Hikam, mengungkapkan pentingnya seorang guru spiritual:

"Janganlah engkau bersahabat dengan seseorang yang perilakunya tidak membangkitkan semangatmu untuk menuju Allah, dan ucapannya tidak menunjukkanmu kepada Allah."

Pernyataan ini menggambarkan bahwa seorang guru haruslah sosok yang memiliki pengaruh positif terhadap ruhani murid, baik melalui keteladanan maupun nasihat.

Adapun dalil dari hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

"إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا"

"Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pengajar." (HR. Ahmad)

Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu misi utama Rasulullah ﷺ adalah memberikan bimbingan, baik dalam hal ilmu maupun spiritualitas.

Baca Juga: Benarkah Tali Pocong Lupa Dilepas Bikin Arwah Gentayangan? Ini Jawaban Islam

Dalam praktiknya, hubungan antara guru dan murid dalam tasawuf sering diibaratkan seperti hubungan antara seorang dokter dengan pasiennya.

Guru adalah sosok yang memahami penyakit hati muridnya dan memberikan terapi ruhani yang sesuai.

Namun, seorang murid juga dituntut untuk memiliki adab yang tinggi terhadap gurunya, sebagaimana Imam Syafi’i pernah berkata, "Aku membuka lembaran kitab di hadapan Imam Malik dengan sangat pelan karena rasa hormatku kepadanya."

Dengan demikian, guru spiritual dalam tasawuf bukanlah sekadar pengajar, tetapi juga seorang pembimbing ruhani yang membawa muridnya lebih dekat kepada Allah.

Kehadirannya menjadi jalan bagi para pencari kebenaran untuk menemukan makna sejati dari kehidupan, yakni pengabdian kepada Allah dengan hati yang suci.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.