Akurat

Libur Sekolah Selama Ramadhan, Bagaimana Tradisi Belajar di Masa Awal Peradaban Islam saat Bulan Puasa?

Lufaefi | 6 Januari 2025, 05:30 WIB
Libur Sekolah Selama Ramadhan, Bagaimana Tradisi Belajar di Masa Awal Peradaban Islam saat Bulan Puasa?

 

AKURAT.CO Wakil Menteri Agama, Romo HR Muhammad Syafi’i, mengonfirmasi adanya wacana meliburkan sekolah selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan 2025.

Ia menyebutkan bahwa pembahasan terkait kebijakan ini memang sudah muncul, meskipun belum ada diskusi mendalam di Kementerian Agama.

“Heeh (iya) sudah ada wacana (libur selama puasa). Oh kami belum bahas, tapi bacaannya kayaknya ada, tapi saya belum bahas itu,” ujar Syafi’i pada Senin, 30 Desember 2024.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar juga menyampaikan pandangannya terkait wacana ini.

Ia menjelaskan bahwa madrasah dan pondok pesantren yang berada di bawah naungan Kementerian Agama memang sudah memiliki tradisi libur selama bulan Ramadhan. Namun, untuk sekolah umum, kebijakan serupa masih dalam tahap pertimbangan.

“Ya, sebetulnya sudah warga Kementerian Agama, khususnya di pondok pesantren, itu libur,” tutur Nasaruddin di kesempatan yang sama.

Baca Juga: Libur Sekolah Satu Bulan Selama Ramadhan, Bagaimana Pandangan Islam?

Ia juga meminta masyarakat untuk bersabar menunggu keputusan resmi terkait kemungkinan libur sekolah selama bulan Ramadhan.

Kegiatan Belajar saat Ramadhan di Masa Awal Peradaban Islam

Ramadhan, bulan suci dalam Islam, telah menjadi momen istimewa sepanjang sejarah peradaban Islam.

Pada masa peradaban awal Islam atau di masa Kekhalifahan Islam, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan yang dipenuhi dengan kegiatan intelektual dan spiritual.

Namun, apakah kegiatan belajar mengajar, yang begitu penting dalam tradisi Islam, dihentikan selama bulan ini?

Dalam tradisi Islam, ilmu pengetahuan dianggap sebagai bagian dari ibadah. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim."

Dengan prinsip ini, belajar dan mengajar tidak hanya dilihat sebagai aktivitas duniawi, tetapi juga memiliki dimensi ukhrawi.

Hal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari umat Islam pada masa Kekhalifahan, ketika kegiatan ilmiah terus berlanjut, bahkan di bulan Ramadhan.

Baca Juga: Menteri Kebudayaan Fadli Zon Usulkan Museum Peradaban Islam Nusantara di Masjid Istiqlal

Sebagai contoh, di pusat-pusat intelektual Islam seperti Baghdad, Kairo, dan Cordoba, lembaga-lembaga pendidikan seperti madrasah dan Baitul Hikmah tetap aktif selama Ramadhan.

Para ulama besar seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Ghazali tetap melanjutkan kegiatan mengajar, menulis, dan berdiskusi, meskipun mereka juga melaksanakan ibadah puasa.

Namun, selama bulan ini, ada penyesuaian tertentu yang dilakukan. Waktu belajar sering kali diatur ulang agar tidak berbenturan dengan ibadah malam seperti tarawih dan qiyamul lail.

Ramadhan juga menjadi momen untuk memperkuat hubungan antara ilmu dan iman. Para ulama sering memanfaatkan bulan ini untuk mendalami kajian Al-Qur'an, memperbanyak tafsir, serta membahas ilmu-ilmu yang berkaitan langsung dengan pemahaman terhadap agama.

Diskusi-diskusi di masjid atau halaqah ilmu biasanya menjadi lebih ramai, karena banyak orang yang ingin memanfaatkan keberkahan bulan Ramadhan untuk meningkatkan pengetahuan mereka.

Namun, tidak dapat disangkal bahwa ritme kehidupan sedikit melambat selama Ramadhan. Para pelajar dan ulama mungkin mengurangi intensitas kegiatan intelektual mereka pada siang hari, menggantinya dengan aktivitas yang lebih ringan seperti membaca atau berdiskusi. Sebaliknya, malam hari menjadi waktu aktif untuk belajar, mengajar, dan mendalami ilmu.

Baca Juga: Kemenag dan Kemendikdasmen Harus Duduk Bersama Bahas Wacana Libur Sekolah Selama Ramadan

Tradisi belajar selama Ramadhan pada masa Kekhalifahan Islam menunjukkan bahwa bulan ini tidak pernah dianggap sebagai waktu untuk sepenuhnya berhenti dari aktivitas intelektual.

Sebaliknya, bulan ini menjadi kesempatan untuk mengintegrasikan ilmu dan ibadah, menguatkan spiritualitas, serta menanamkan semangat mencari ilmu sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Dengan demikian, kegiatan belajar tidak pernah benar-benar "libur" selama Ramadhan di masa Kekhalifahan Islam.

Sebaliknya, bulan ini menjadi momen refleksi dan optimalisasi, di mana ilmu pengetahuan dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual seorang Muslim.

Tradisi ini mengajarkan kita bahwa belajar adalah ibadah yang tidak mengenal batas waktu, bahkan di bulan suci Ramadhan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.