Akurat

Belajar Toleransi dari Nabi Muhammad SAW saat Tiba Perayaan Natal

Lufaefi | 23 Desember 2024, 12:00 WIB
Belajar Toleransi dari Nabi Muhammad SAW saat Tiba Perayaan Natal

AKURAT.CO Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok pemimpin yang tidak hanya membawa ajaran tauhid tetapi juga menanamkan nilai-nilai toleransi antarumat beragama.

Salah satu pelajaran penting yang dapat kita ambil darinya adalah bagaimana beliau memperlakukan umat lain, khususnya Ahli Kitab, dengan penuh penghormatan dan kasih sayang.

Dalam konteks modern, nilai-nilai toleransi ini relevan untuk diterapkan, terutama saat menghadapi perayaan-perayaan agama lain, seperti Natal.

Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW hidup berdampingan dengan berbagai komunitas agama di Madinah, termasuk Yahudi dan Nasrani.

Piagam Madinah, yang disusun oleh Rasulullah SAW, menjadi bukti nyata dari komitmen beliau untuk menciptakan kerukunan antarumat.

Piagam ini memberikan hak penuh kepada seluruh komunitas untuk menjalankan ibadah dan tradisi masing-masing tanpa gangguan.

Dalam piagam tersebut, Rasulullah menegaskan bahwa umat Islam dan non-Muslim adalah satu kesatuan dalam menjaga perdamaian di kota Madinah.

Allah SWT juga menegaskan dalam Al-Qur'an, Surah Al-Mumtahanah ayat 8:

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

Baca Juga: 7 Ucapan Selamat Hari Ibu dalam Bahasa Arab dan Artinya

Ayat ini menjadi landasan penting bagi umat Islam untuk menjalin hubungan yang baik dengan umat lain selama mereka tidak menunjukkan permusuhan.

Dalam konteks perayaan Natal, meskipun tidak ada riwayat langsung yang menunjukkan Nabi Muhammad SAW menghadiri perayaan agama lain, sikap beliau terhadap Ahli Kitab dapat menjadi pedoman.

Rasulullah SAW sering kali menunjukkan penghormatan terhadap tradisi keagamaan mereka.

Salah satu contohnya adalah ketika delegasi Nasrani dari Najran datang ke Madinah untuk berdialog dengan Rasulullah.

Mereka diberi kebebasan untuk beribadah di masjid Nabawi tanpa halangan apa pun.

Tindakan ini menggambarkan rasa hormat Rasulullah terhadap keyakinan mereka, meskipun berbeda dengan ajaran Islam.

Para ulama kontemporer juga sering merujuk pada kisah ini untuk mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan sosial.

Dalam pandangan Islam, menghormati perayaan agama lain bukan berarti menyetujui keyakinannya, melainkan bentuk penghormatan terhadap hak-hak mereka sebagai manusia.

Hal ini juga sejalan dengan konsep rahmatan lil alamin yang menjadi misi utama Rasulullah SAW.

Namun, toleransi ini harus tetap didasarkan pada prinsip-prinsip syariat. Ulama seperti Syekh Yusuf Al-Qaradawi menjelaskan bahwa umat Islam dapat mengucapkan selamat kepada umat Nasrani yang merayakan Natal selama tidak melibatkan unsur-unsur akidah yang bertentangan dengan Islam.

Baca Juga: Hukum Orang Muslim Ikut Merayakan Natal, Bolehkah? Ini Jawabannya Menurut Islam

Dalam pandangan ini, ucapan selamat adalah bentuk keramahan sosial, bukan pengakuan terhadap keyakinan tertentu.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari Nabi Muhammad SAW adalah bahwa toleransi bukanlah kompromi terhadap keyakinan, melainkan penghormatan terhadap keberagaman.

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk menjaga hubungan baik dengan siapa pun, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip keimanan.

Dalam momen seperti perayaan Natal, kita dapat menunjukkan sikap yang mencerminkan kasih sayang dan rahmat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Toleransi bukan sekadar konsep modern, melainkan bagian dari warisan agung Islam yang telah diteladankan oleh Rasulullah SAW 1.400 tahun yang lalu.

Semoga kita mampu menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi duta perdamaian di tengah keberagaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.