Akurat

Belajar Agama Menggunakan ChatGPT, Bolehkah?

Fajar Rizky Ramadhan | 12 Desember 2024, 11:30 WIB
Belajar Agama Menggunakan ChatGPT, Bolehkah?

AKURAT.CO Kemajuan teknologi membawa banyak perubahan dalam kehidupan, termasuk cara umat Islam mendalami agama.

Salah satu teknologi yang semakin populer adalah kecerdasan buatan, seperti ChatGPT, yang mampu menjawab berbagai pertanyaan, termasuk tentang Islam.

Namun, apakah boleh belajar agama menggunakan alat seperti ini? Pertanyaan ini penting untuk dijawab agar umat tidak keliru dalam memahami ajaran Islam.

Dalam Islam, belajar agama merupakan kewajiban. Rasulullah ﷺ bersabda:

"طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ"

Artinya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim" (HR. Ibnu Majah).

Hadis ini menunjukkan pentingnya mencari ilmu, termasuk ilmu agama, dengan cara yang benar dan bertanggung jawab.

ChatGPT dapat menjadi salah satu sarana untuk mencari informasi. Namun, perlu diingat bahwa teknologi seperti ini hanyalah alat dan tidak menggantikan peran ulama atau guru yang memiliki sanad keilmuan.

Baca Juga: Ki Dalang Warseno Slank Tutup Usia, Duka Mendalam Dunia Seni Wayang

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:

"فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ"

Artinya: "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui" (QS. An-Nahl: 43).

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika kita tidak tahu, kita harus bertanya kepada ahli ilmu, yaitu mereka yang benar-benar mendalami ajaran agama dan memiliki otoritas dalam menyampaikan ilmu syar’i.

ChatGPT, meskipun mampu menyampaikan informasi dengan cepat, tidak bisa dianggap sebagai Ahludz-Dzikr.

Kecerdasannya berasal dari data yang telah diprogram oleh manusia, yang bisa saja mengandung kesalahan atau bias.

Selain itu, teknologi ini tidak memiliki pemahaman spiritual, tidak memiliki sanad keilmuan, dan tidak bisa menggantikan hikmah yang diperoleh dari berguru kepada ulama langsung.

Namun, ChatGPT dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memperkaya wawasan, misalnya mencari rujukan ayat atau hadis, menjelaskan istilah dalam bahasa sederhana, atau memberikan gambaran umum tentang suatu topik.

Pengguna harus tetap berhati-hati dan selalu memverifikasi informasi yang diperoleh dari teknologi ini. Imam Malik pernah berkata:

"العِلْمُ يُؤْخَذُ مِنْ أَفْوَاهِ العُلَمَاءِ"

Artinya: "Ilmu itu diambil dari lisan para ulama."
Pernyataan ini mengingatkan kita akan pentingnya mempelajari agama melalui jalur tradisional yang bersanad.

Baca Juga: OpenAI Keluarkan Paket Langganan ChatGPT Pro, Bayar Rp3,1 Juta Bisa Dapat Akses Tak Terbatas

Jika seseorang bertanya, "Apakah menggunakan ChatGPT untuk belajar agama termasuk perbuatan tercela?" Jawabannya bergantung pada niat dan cara penggunaannya.

Jika digunakan dengan penuh kehati-hatian, sebagai sarana tambahan, dan bukan sumber utama, maka itu tidak masalah. Rasulullah ﷺ bersabda:

"إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ"

Artinya: "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesimpulannya, belajar agama dengan menggunakan ChatGPT boleh, tetapi dengan catatan. Jadikan teknologi ini sebagai pelengkap, bukan pengganti ulama.

Tetaplah mendahulukan rujukan langsung kepada para ahli ilmu dan perkuat hubungan dengan ulama untuk mendapatkan bimbingan yang benar. Wallahu a'lam bish-shawab.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.