AKURAT.CO Bercanda merupakan bagian dari interaksi manusia yang wajar dan sering kali menjadi sarana untuk menciptakan suasana hangat dan akrab.
Dalam Islam, bercanda bukanlah hal yang dilarang, selama memenuhi adab dan kaedah yang telah ditetapkan.
Rasulullah SAW sendiri, dalam beberapa riwayat, juga dikenal suka bercanda dengan para sahabatnya. Namun, canda beliau selalu diliputi kejujuran, tidak melukai perasaan, dan tetap dalam batas-batas syariat.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan itu lebih baik dari mereka yang mengolok." (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini mengingatkan kita untuk menjaga lisan, bahkan ketika bercanda. Bercanda yang mengandung hinaan, ejekan, atau menyinggung perasaan orang lain jelas dilarang. Hal ini mencerminkan betapa Islam mengutamakan kehormatan dan martabat setiap individu.
Baca Juga: Gus Miftah Kepleset Lidah Sebut Penjual Es Gobl*k? Begini Resep Islam Agar Tidak Kepleset Lidah
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ
"Celakalah orang yang berbicara untuk membuat orang lain tertawa, namun dia berbohong. Celakalah dia, celakalah dia." (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan pentingnya kejujuran dalam bercanda. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa berbohong demi membuat orang lain tertawa adalah perbuatan tercela. Bercanda boleh, tetapi harus tetap berdasarkan kebenaran.
Rasulullah ﷺ juga pernah bercanda dengan seorang wanita tua yang bertanya apakah dia bisa masuk surga. Beliau menjawab, "Wanita tua tidak akan masuk surga."
Wanita itu pun sedih, namun Rasulullah ﷺ segera menjelaskan bahwa di surga, tidak ada wanita tua, karena Allah akan mengubah mereka menjadi muda kembali.
Candaan ini menghibur, namun tetap mengandung kebenaran dan tidak menyakiti hati orang lain.
Dalam bercanda, penting pula untuk menjaga keseimbangan. Allah ﷻ mengingatkan dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ
"Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan dalam bersenang-senang." (QS. Al-Qashash: 76).
Baca Juga: Petisi Copot Gus Miftah dari Utusan Khusus Presiden Menguat Usai Dinilai Telah Menghina Penjual Es Teh
Ayat ini menjadi pengingat agar canda tidak menjadi dominasi dalam hidup kita, sehingga melalaikan ibadah atau kewajiban lain. Bercanda yang berlebihan juga dapat merusak keseriusan seseorang dalam menjalani kehidupan.
Dari paparan di atas, jelas bahwa Islam tidak melarang bercanda, tetapi memberikan panduan agar canda tersebut tetap dalam koridor syariat.
Kejujuran, penghormatan terhadap sesama, serta tidak berlebihan menjadi inti dari bercanda yang dibenarkan dalam Islam.
Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan sempurna, bahwa bercanda bisa menjadi bagian dari dakwah, asal disampaikan dengan hikmah dan akhlak mulia.