AKURAT.CO Dalam sebuah peristiwa yang ramai dibicarakan, Miftah Maulana atau Gus Miftah, diduga melakukan tindakan mengolok-olok seorang penjual es.
Peristiwa ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, terutama karena sikap tersebut dinilai tidak mencerminkan akhlak yang baik.
Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi akhlak menempatkan adab (etika) sebagai pilar utama dalam kehidupan seorang Muslim. Bahkan, dalam banyak kesempatan, adab dipandang lebih penting daripada ilmu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ"
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad).
Hadis ini menegaskan bahwa salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia.
Akhlak yang mulia mencakup sikap menghormati orang lain, termasuk kepada mereka yang memiliki pekerjaan yang mungkin dianggap rendah oleh sebagian orang.
Dalam Islam, setiap profesi yang halal memiliki kehormatan, dan siapa pun yang bekerja keras untuk mencari nafkah dengan cara yang halal patut dihormati.
Baca Juga: Istana Kecewa terhadap Gus Miftah, Bertentangan dengan Prabowo yang Berpihak ke Rakyat
Adab di Atas Ilmu
Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang sangat mulia, tetapi ilmu tanpa adab dapat membawa kehancuran, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Ibnu al-Mubarak, seorang ulama terkenal, pernah berkata:
"Kami lebih membutuhkan adab daripada ilmu." Pernyataan ini mencerminkan keyakinan bahwa ilmu tanpa adab ibarat pedang tanpa kendali.
Al-Qur'an juga menekankan pentingnya berbicara dengan sopan dan penuh adab. Allah berfirman:
"وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا"
"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83).
Ayat ini menjadi pedoman agar setiap Muslim menjaga lisannya dan tidak menggunakan kata-kata yang menyakiti hati orang lain. Mengolok-olok, mencela, atau merendahkan orang lain bertentangan dengan nilai-nilai ini.
Dalam konteks Miftah Maulana, tindakan mengolok-olok penjual es bukan hanya melanggar etika sosial tetapi juga bertentangan dengan ajaran Islam yang mengutamakan penghormatan terhadap sesama.
Akibat dari Meremehkan Orang Lain
Mengolok-olok orang lain memiliki konsekuensi serius dalam Islam. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ"
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok." (QS. Al-Hujurat: 11).
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki hak untuk merendahkan orang lain karena hanya Allah yang mengetahui kedudukan setiap hamba-Nya. Seseorang yang terlihat hina di mata manusia bisa jadi memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah.
Baca Juga: Apakah Lagu Natal Boleh Dinyanyikan oleh Umat Islam? Berikut Penjelasannya menurut Al-Qur'an dan Hadis
Refleksi dan Pelajaran
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dan bertutur kata.
Setiap Muslim hendaknya selalu menjaga adab, baik dalam ucapan maupun perbuatan, karena itulah yang menjadi cerminan dari keimanan seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ"
"Seorang Muslim adalah orang yang membuat Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadis ini, jelas bahwa menjaga lisan dari perkataan yang menyakitkan adalah bagian penting dari identitas seorang Muslim.
Mengolok-olok bukan hanya menyakiti hati orang lain, tetapi juga menodai adab dan akhlak yang menjadi inti dari ajaran Islam.
Akhirnya, semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk senantiasa memperbaiki diri dan menjadikan adab sebagai landasan utama dalam menjalani kehidupan.
Ilmu yang tidak disertai dengan adab tidak akan membawa manfaat, tetapi adab yang baik akan selalu meninggikan derajat seseorang, bahkan tanpa ilmu yang banyak.