AKURAT.CO Dalam Islam, memiliki anak, baik laki-laki maupun perempuan, adalah karunia dari Allah SWT.
Tidak ada keutamaan satu jenis kelamin atas yang lain dalam hal keberkahan, karena keduanya adalah amanah dari-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ
"Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak-anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS. Asy-Syura: 49)
Namun, dalam tradisi Islam, ada beberapa anjuran yang sering dilakukan oleh pasangan yang mendambakan anak laki-laki.
Anjuran ini dilakukan dengan tetap berpegang pada keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang menentukan jenis kelamin anak.
Berikut adalah pandangan Islam mengenai usaha ini berdasarkan dalil dan praktik sunnah.
1. Doa dan Niat yang Ikhlas
Dalam Islam, doa adalah senjata orang beriman. Pasangan yang mendambakan anak laki-laki dianjurkan untuk berdoa dengan tulus kepada Allah SWT.
Doa ini menunjukkan ketergantungan penuh kepada Allah. Salah satu doa yang dicontohkan adalah dari Nabi Zakaria AS, ketika beliau memohon keturunan:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
"Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa." (QS. Ali Imran: 38).
Baca Juga: Kenaikan Gaji Guru Honorer Disebut Tidak Menjadi Prioritas Pemerintah, Islam Tekankan Keadilan Pemerintah dalam Mensejahterakan Semua Guru
Berdoa dengan niat yang ikhlas juga harus disertai dengan rasa syukur dan penerimaan atas keputusan Allah, karena kehamilan dan jenis kelamin anak sepenuhnya berada dalam kuasa-Nya.
2. Memperhatikan Waktu dan Posisi Hubungan Suami Istri
Beberapa ulama menganjurkan pasangan untuk memperhatikan waktu dan posisi saat berhubungan suami istri, merujuk pada hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan pentingnya niat dan doa sebelum melakukan hubungan. Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
"Jika salah seorang di antara kalian hendak menggauli istrinya, hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillah, Allahumma jannibna asy-syaithan wa jannib asy-syaithan ma razaqtana.’ Jika ditakdirkan lahir anak dari hubungan itu, maka setan tidak akan membahayakannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Beberapa pakar kesehatan juga menyebutkan bahwa waktu ovulasi dapat memengaruhi jenis kelamin anak. Namun, dalam Islam, usaha ini tetap dikembalikan kepada takdir Allah.
3. Konsumsi Makanan Tertentu
Dalam beberapa tradisi Islam, ada anjuran untuk mengonsumsi makanan tertentu yang diyakini dapat membantu mendapatkan anak laki-laki.
Walaupun anjuran ini tidak memiliki dalil langsung dari Al-Qur’an atau Hadits, sebagian ulama menganggapnya sebagai bagian dari ikhtiar yang tidak bertentangan dengan syariat.
Misalnya, mengonsumsi makanan yang tinggi kalium dan natrium seperti daging, pisang, dan kurma diyakini dapat memengaruhi lingkungan rahim, meskipun hal ini lebih kepada aspek kesehatan daripada tuntunan syar’i.
Baca Juga: Film Naik Ranjang Episode 194 Full Episode Trending, Ini 5 Prinsip Islam dalam Melihat Tontonan
4. Tawakal kepada Allah SWT
Setelah melakukan berbagai usaha, Islam mengajarkan untuk berserah diri kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman-Nya:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216).
Program untuk memiliki anak laki-laki dalam Islam bukanlah sesuatu yang mutlak, tetapi merupakan bentuk ikhtiar yang tetap berada dalam batas syariat.
Pada akhirnya, yang terpenting adalah keikhlasan dalam menerima apa pun yang Allah berikan, karena setiap anak adalah anugerah dan amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.