Akurat

Hukum Memutus Hubungan Pertemanan yang Toxic menurut Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 13 November 2024, 15:00 WIB
Hukum Memutus Hubungan Pertemanan yang Toxic menurut Islam

AKURAT.CO Dalam Islam, menjaga hubungan baik dengan sesama adalah ajaran yang sangat ditekankan, namun agama juga memberikan kebijaksanaan dalam menghadapi hubungan pertemanan yang tidak sehat atau toxic.

Dalam konteks ini, "hubungan pertemanan yang toxic" merujuk pada persahabatan yang membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat, di mana satu pihak atau keduanya merasa tersakiti, terbebani, atau terhalang dalam perkembangan spiritual dan emosionalnya.

Islam mengajarkan bahwa memilih teman yang baik merupakan bagian dari kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan yang saleh. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ"

Artinya: "Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dijadikannya teman." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Hadits ini menegaskan bahwa hubungan pertemanan yang kita jalin dapat memengaruhi keyakinan dan perilaku kita.

Baca Juga: Viral Video Pelajar Dipaksa Pria untuk Sujud dan Menggonggong di Depannya, Begini Respons Islam!

Seorang teman yang baik akan mendorong kita menuju kebaikan dan mendukung kita dalam menjalankan perintah Allah, sementara teman yang buruk bisa membawa kita pada hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Dalam Al-Qur'an, Allah juga memberikan petunjuk mengenai pentingnya memilih teman yang baik. Allah berfirman dalam Surah Al-Furqan, ayat 27-29:

"وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ۝ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ۝ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا"

Artinya: "Dan (ingatlah) pada hari ketika orang yang zalim menggigit dua tangannya (menyesali perbuatannya), seraya berkata, 'Aduhai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai celaka aku! Sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan sebagai teman dekatku. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Allah) setelah (peringatan itu) datang kepadaku.' Dan setan memang selalu ingin mengecewakan manusia." (QS. Al-Furqan: 27-29).

Ayat ini memperingatkan kita bahwa memilih teman yang salah dapat membawa penyesalan di akhirat nanti.

Teman yang buruk dapat menjerumuskan kita ke dalam kesesatan, bahkan bisa menjauhkan kita dari jalan yang benar setelah kita berusaha mendekat kepada Allah.

Namun, bagaimana Islam memandang keputusan untuk memutuskan hubungan pertemanan yang toxic?

Islam memberi kebebasan bagi setiap individu untuk menghindari pertemanan yang memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental, spiritual, dan emosionalnya.

Prinsip ini sejalan dengan kaidah fiqih yang mengatakan, "لا ضرر ولا ضرار" (La dharara wa la dhirara) yang artinya "tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan."

Kaidah ini sering digunakan untuk menetapkan bahwa seseorang tidak boleh membiarkan dirinya dalam situasi yang merugikan atau berbahaya, termasuk dalam konteks pertemanan.

Selain itu, dalam Surah Luqman ayat 19, Allah berfirman:

"وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ"

Artinya: "Dan rendahkanlah suaramu; sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai." (QS. Luqman: 19).

Baca Juga: Kapolsek Baito Dicopot Diduga Minta Uang Damai 2 Juta dalam Kasus Guru Supriyani, Ini Dosa Pungli dalam Islam

Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga sikap baik dan rendah hati, termasuk dalam cara kita berkomunikasi. Islam mengajarkan bahwa jika kita harus mengakhiri hubungan pertemanan karena dampak negatifnya, hendaknya dilakukan dengan cara yang tidak melukai, tetap santun, dan tanpa menimbulkan permusuhan.

Seorang Muslim tidak boleh membiarkan dirinya berada dalam lingkaran pertemanan yang merusak kesehatannya atau mengganggu ibadahnya, namun dalam mengambil tindakan tersebut tetap harus memperhatikan akhlak dan etika.

Dari ayat dan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam membolehkan seseorang memutuskan hubungan pertemanan yang membawa dampak buruk.

Namun, keputusan ini hendaknya dilakukan dengan penuh kebijaksanaan, tidak dilandasi kebencian, dan tetap menjaga adab serta akhlak.

Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak membiarkan dirinya terjerat dalam hubungan yang merugikan dan menghindarkan dirinya dari hal-hal yang bisa menghambat kebaikan dan kedekatannya kepada Allah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.