AKURAT.CO Menikahi janda merupakan salah satu perbuatan mulia dalam Islam. Rasulullah ﷺ mencontohkan tindakan ini dengan menikahi beberapa perempuan yang pernah menikah sebelumnya, kecuali Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Perintah dan anjuran dalam menikahi janda tidak hanya sebatas bentuk kasih sayang, tetapi juga mengandung hikmah sosial dan spiritual yang besar.
Berikut ini beberapa keutamaan menikahi janda dalam Islam, yang didasari dengan dalil-dalil Al-Qur'an dan hadits.
Pertama, menikahi janda adalah bentuk nyata dari rahmat dan ihsan (kebaikan). Banyak janda yang mungkin mengalami kesulitan setelah kehilangan suami, baik secara finansial maupun emosional.
Dengan menikahi mereka, seseorang telah berperan dalam mengangkat derajat dan menjaga kehormatannya. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 195:
وَأَحْسِنُوا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195).
Baca Juga: Suswono Sarankan Janda Kaya Nikahi Pemuda Pengangguran: Ini Cara Islam Memuliakan Janda
Menikahi janda juga menjadi wujud kepedulian sosial dalam Islam. Rasulullah ﷺ menekankan bahwa sebaik-baik orang adalah yang memperlakukan keluarganya dengan baik. Hal ini relevan terutama ketika seorang lelaki menikahi seorang janda yang mungkin memiliki anak. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku." (HR. Tirmidzi)
Lebih jauh lagi, menikahi janda dapat menghapus dosa dan mendatangkan pahala besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Orang yang berusaha membantu janda dan orang miskin bagaikan seorang mujahid di jalan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ mengibaratkan pahala membantu seorang janda dengan pahala berjihad, menunjukkan betapa tinggi derajat amal tersebut.
Di sisi lain, kisah kehidupan Rasulullah ﷺ sendiri memberikan contoh terbaik dalam hal ini. Beliau ﷺ menikahi beberapa janda, seperti Khadijah radhiyallahu 'anha dan Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, bukan semata karena kebutuhan duniawi, melainkan juga untuk mengangkat kedudukan mereka dan menyatukan umat.
Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa pernikahan dengan janda bukanlah sesuatu yang patut direndahkan, melainkan justru merupakan teladan yang penuh keberkahan.
Selain itu, menikahi janda membuka kesempatan bagi seseorang untuk mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.
Baca Juga: Peringati Hari Sumpah Pemuda, Ini Pemudah yang Ideal dalam Islam
Kehidupan rumah tangga yang dibangun dengan niat ikhlas karena Allah akan mendatangkan sakinah (ketenangan), mawaddah (kasih sayang), dan rahmah (kasih sayang Ilahi), seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
Dengan demikian, menikahi janda bukan hanya tindakan mulia di mata Allah, tetapi juga menjadi sarana untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Lelaki yang menikahi janda dengan niat untuk memuliakan dan melindunginya akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah.
Keutamaan ini menunjukkan bahwa dalam Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan fisik atau sosial, melainkan ibadah yang harus dijalani dengan niat yang lurus dan penuh kebaikan.