Akurat

Nasaruddin Umar Jadi Menteri Agama, Ini Sederet Prestasinya soal Toleransi Beragama

Fajar Rizky Ramadhan | 21 Oktober 2024, 09:00 WIB
Nasaruddin Umar Jadi Menteri Agama, Ini Sederet Prestasinya soal Toleransi Beragama

AKURAT.CO Nasaruddin Umar resmi diangkat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran.

Sosok yang dikenal sebagai ulama dan intelektual ini memiliki rekam jejak luar biasa dalam memperjuangkan toleransi dan kerukunan antarumat beragama, baik di Indonesia maupun di kancah internasional.

Nasaruddin diharapkan mampu membawa angin segar bagi kebijakan keagamaan dan memperkuat persatuan di tengah masyarakat plural Indonesia.

Berikut ini beberapa prestasi Nasaruddin Umar di bidang toleransi beragama.

Imam Besar Masjid Istiqlal

Nasaruddin dikenal luas sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, masjid terbesar di Asia Tenggara.

Di bawah kepemimpinannya, Istiqlal tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga menjadi simbol toleransi beragama.

Nasaruddin kerap menyelenggarakan dialog lintas agama dan membuka ruang bagi pertemuan tokoh-tokoh dari berbagai keyakinan.

Baca Juga: Profil Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal yang Ditunjuk Menjadi Menteri Agama

Memperjuangkan Moderasi Beragama

Sebagai seorang ulama progresif, Nasaruddin aktif mempromosikan konsep moderasi beragama.

Ia meyakini bahwa agama harus menjadi sumber perdamaian, bukan konflik.

Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya menghindari ekstremisme dan mengembangkan pemahaman agama yang inklusif.

Ia juga banyak berperan dalam program moderasi beragama Kementerian Agama selama beberapa tahun terakhir.

Aktif dalam Forum Internasional

Nasaruddin tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga diakui secara global. Ia sering diundang ke forum-forum internasional, seperti pertemuan Dewan Kepausan di Vatikan dan Dialog Perdamaian PBB, untuk menyuarakan pentingnya kerja sama antarumat beragama dalam menciptakan dunia yang lebih damai.

Keberadaannya di kancah global memperkuat citra Indonesia sebagai negara dengan masyarakat muslim moderat.

Penerbitan Buku dan Kajian tentang Islam Inklusif

Nasaruddin telah menulis banyak buku dan artikel yang mengupas tentang Islam inklusif, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia dalam perspektif Islam.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah "Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur'an."

Melalui karya-karyanya, Nasaruddin ingin membangun kesadaran bahwa ajaran agama dapat mendukung toleransi dan keadilan sosial.

Pendekatan Sosial dan Budaya untuk Kerukunan Umat Beragama

Nasaruddin kerap menggunakan pendekatan sosial dan budaya dalam membangun kerukunan umat beragama.

Ia sering menghadiri acara-acara budaya lintas agama dan terlibat dalam komunitas akar rumput untuk menguatkan harmoni sosial.

Upaya ini menjadi penting dalam menjaga keberagaman di masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan adat istiadat.

Baca Juga: Tangan Nasaruddin Umar Dicium Paus Fransiskus, Siapa Sosok Imam Besar Masjid Istiqlal Itu?

Harapan untuk Kepemimpinannya di Kementerian Agama

Dengan rekam jejaknya yang panjang dalam memperjuangkan kerukunan dan toleransi, Nasaruddin Umar diharapkan dapat memperkuat program-program pemerintah dalam bidang moderasi beragama.

Tantangan seperti peningkatan intoleransi, polarisasi sosial, dan maraknya disinformasi berbasis agama akan menjadi fokus utamanya.

Selain itu, peran Kementerian Agama dalam memastikan kebebasan beragama dan harmonisasi kebijakan lintas agama diharapkan semakin kuat di bawah kepemimpinannya.

Pengangkatan Nasaruddin Umar sebagai Menteri Agama menjadi momentum penting dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan menjaga persatuan dalam keberagaman.

Kehadirannya di posisi strategis ini diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat Indonesia dan memperkuat peran Indonesia sebagai model toleransi beragama di dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.