Akurat

Ciri-ciri Pemahaman Islam yang Konservatif, Apakah Bertentangan dengan Visi Moderasi Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 9 Oktober 2024, 14:14 WIB
Ciri-ciri Pemahaman Islam yang Konservatif, Apakah Bertentangan dengan Visi Moderasi Islam?

AKURAT.CO Pemahaman Islam konservatif dan visi moderasi Islam adalah dua pendekatan yang sering diperdebatkan dalam wacana keagamaan, khususnya di dunia Muslim.

Kedua pendekatan ini memiliki basis interpretasi yang berbeda terhadap ajaran Islam dan sering kali dihadapkan dalam diskusi mengenai bagaimana agama harus diterapkan dalam konteks sosial modern.

Ciri-ciri Pemahaman Islam yang Konservatif

1. Kaku dalam Penafsiran

Pemahaman konservatif seringkali ditandai dengan penafsiran literal terhadap teks-teks agama, baik Al-Quran maupun Hadis.
 
Mereka cenderung menolak tafsir kontekstual yang memperhitungkan perubahan sosial dan budaya, dengan keyakinan bahwa ajaran-ajaran agama bersifat abadi dan tidak boleh disesuaikan dengan zaman.

 

2. Penolakan terhadap Perubahan Sosial

Kelompok konservatif sering menolak perubahan yang mereka anggap bertentangan dengan tradisi Islam, termasuk perubahan dalam hukum keluarga, peran gender, dan hubungan sosial lainnya.

Misalnya, mereka mungkin menolak upaya-upaya untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam hukum waris atau pernikahan.

 

3. Penekanan pada Hukuman Fisik (Hudud)

Ciri khas lain dari pemahaman Islam konservatif adalah dukungan terhadap penerapan hukum hudud atau bentuk hukuman fisik, seperti potong tangan untuk pencurian atau rajam bagi perzinahan, yang dianggap sebagai bagian dari syariah yang tidak dapat diubah.

Baca Juga: Dosa Besar Melakukan Perampokan dalam Islam

 

4. Anti-Pluralisme

Pandangan konservatif sering kali eksklusif, menolak pluralisme baik dalam bentuk perbedaan sekte dalam Islam maupun hubungan dengan agama lain.

Mereka cenderung melihat Islam sebagai satu-satunya jalan yang benar dan memandang sinis terhadap dialog antaragama.

 

5. Kontrol Ketat terhadap Peran Perempuan

Dalam masyarakat yang menganut pemahaman konservatif, peran perempuan sering dibatasi, baik dalam ruang publik maupun privat.

Mereka percaya bahwa tugas utama perempuan adalah di rumah, dan partisipasi dalam politik atau pekerjaan di luar rumah dianggap bertentangan dengan fitrah perempuan dalam Islam.

Apakah Pemahaman Konservatif Bertentangan dengan Visi Moderasi Islam?

Moderasi Islam atau wasatiyyah adalah visi yang didukung oleh banyak negara Muslim, termasuk Indonesia, sebagai respons terhadap tantangan globalisasi dan radikalisme.

Moderasi Islam menekankan keseimbangan antara menjalankan ajaran agama secara ketat tanpa harus mengabaikan tuntutan zaman dan perubahan sosial.

Berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan di atas, pemahaman konservatif dalam beberapa aspek dapat dilihat sebagai bertentangan dengan visi moderasi Islam, karena:

1. Penafsiran yang Fleksibel

Visi moderasi Islam mendorong penafsiran yang kontekstual, yang memungkinkan ajaran-ajaran agama diterapkan dalam berbagai situasi yang berbeda. Ini bertolak belakang dengan pendekatan konservatif yang kaku dan menolak penyesuaian.

 

2. Keterbukaan terhadap Dialog dan Pluralisme

Moderasi Islam mengakui pluralisme, baik dalam keragaman internal umat Islam (seperti Sunni dan Syiah) maupun dalam interaksi dengan agama lain.

Sikap anti-pluralisme dari kelompok konservatif dapat menghambat upaya dialog dan kerjasama lintas agama yang dipandang penting dalam visi moderasi.

 

3. Peran Perempuan

Dalam moderasi Islam, perempuan diberikan ruang yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, selaras dengan hak-hak yang diakui dalam Al-Quran.

Pembatasan peran perempuan dalam masyarakat konservatif bisa dianggap bertentangan dengan nilai-nilai kesetaraan yang diperjuangkan dalam moderasi Islam.

 

4. Pendekatan terhadap Hukum Syariah

Visi moderasi menekankan bahwa hukum Islam dapat diadaptasi sesuai dengan konteks zaman dan tempat, sedangkan kelompok konservatif cenderung mendukung penerapan literal dari syariah, termasuk hudud.

Hal ini menjadi poin pertentangan ketika hukum hudud dianggap tidak relevan atau tidak manusiawi oleh sebagian besar pendukung moderasi.

Baca Juga: Pandangan Hukum Islam Membunuh Karena Membela Diri, Apakah Berdosa?

Pendapat Para Tokoh

Menurut Prof. Azyumardi Azra, seorang cendekiawan Islam dan mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, "Moderasi Islam adalah jalan tengah yang mendorong umat untuk tetap menjalankan agama secara penuh, tetapi dengan cara yang relevan dan tidak ekstrem."

Azra menegaskan bahwa Islam harus menjadi agama yang responsif terhadap tantangan zaman tanpa harus kehilangan esensinya.

Dalam konteks ini, pemahaman konservatif yang terlalu kaku dapat dianggap tidak sejalan dengan upaya untuk menjadikan Islam agama yang damai dan inklusif.

Sementara itu, Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama besar dunia Islam, dalam bukunya Fiqh al-Wasatiyyah menyatakan bahwa Islam yang moderat adalah Islam yang mengambil jalan tengah, tidak terlalu ekstrim dalam pengamalan ajaran agama tetapi juga tidak terlalu permisif dalam menerima budaya luar yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Menurut al-Qaradawi, "Islam harus adaptif terhadap perbedaan konteks zaman tanpa mengorbankan prinsip-prinsip fundamental agama."

Penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center (2022) menunjukkan bahwa mayoritas umat Islam di berbagai negara lebih mendukung pendekatan moderat dibandingkan pendekatan ekstrem atau konservatif.

Di Indonesia, survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2021 menunjukkan bahwa 64% masyarakat Muslim lebih mendukung nilai-nilai Islam moderat yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Pemahaman Islam yang konservatif dengan ciri-cirinya seperti penafsiran literal, anti-pluralisme, dan penekanan pada hukuman fisik dapat dianggap bertentangan dengan visi moderasi Islam yang lebih inklusif dan adaptif.

Meski demikian, kedua pendekatan ini tetap menjadi bagian dari dinamika intelektual dalam dunia Islam, dan penting bagi setiap umat untuk terus berdialog dan mencari titik temu yang dapat menyatukan perbedaan ini demi kemajuan bersama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.