Akurat

Maulid Nabi Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Fajar Rizky Ramadhan | 11 September 2024, 10:41 WIB
Maulid Nabi Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

AKURAT.CO Maulid Nabi adalah peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dirayakan oleh banyak umat Islam di seluruh dunia.

Peringatan ini biasanya diadakan pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.

Namun, ada perbedaan pandangan mengenai hukum merayakan Maulid Nabi, baik di kalangan ulama maupun masyarakat.

Dalam artikel ini, kita akan meninjau peringatan Maulid Nabi dari perspektif Al-Qur'an dan Sunnah, serta mendukung dengan dalil-dalil yang akurat.

Perspektif Al-Qur’an tentang Maulid Nabi

Meskipun Al-Qur'an tidak secara eksplisit memerintahkan atau melarang perayaan Maulid Nabi, terdapat beberapa ayat yang mendorong umat Islam untuk mencintai, menghormati, dan meneladani Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: 8 Cara Menyulap Masjid Menjadi Tempat Ibadah Ramah Lingkungan

Salah satu ayat yang sering dikaitkan dengan peringatan Maulid Nabi adalah sebagai berikut:

1. Al-Ahzab (33): 56

اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini menekankan pentingnya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, yang merupakan bentuk penghormatan dan cinta kepada beliau.

Merayakan Maulid Nabi bisa dipandang sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan kecintaan dan penghormatan tersebut.

2. Al-Anbiya (21): 107

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rahmat bagi seluruh alam. Peringatan Maulid Nabi bisa dianggap sebagai peringatan akan rahmat yang telah Allah berikan kepada umat manusia melalui kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Perspektif Sunnah tentang Maulid Nabi

Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, tidak ada perintah yang secara langsung menginstruksikan perayaan Maulid Nabi.

Namun, ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa mengingat hari-hari penting dalam kehidupan Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan, bahkan dianjurkan.

1. Hadits tentang puasa hari Senin

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa pada hari Senin, dan beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ - أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Artinya: "Itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan hari di mana aku diutus (menjadi rasul) atau diturunkan (wahyu) kepadaku." (HR. Muslim no. 1162)

Baca Juga: Pesan-pesan Menyentuh Nabi Muhammad SAW Sebelum Wafat

Dari hadits ini, dapat diambil pemahaman bahwa Rasulullah SAW menganggap hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa, dan beliau memperingatinya dengan berpuasa. Ini menunjukkan bahwa memperingati kelahiran Nabi dengan cara yang baik dan sesuai dengan ajaran Islam adalah dibolehkan.

2. Hadits tentang mencintai Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Artinya: "Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia." (HR. Bukhari no. 15)

Hadits ini menekankan pentingnya mencintai Nabi Muhammad SAW melebihi kecintaan kita kepada yang lainnya. Merayakan Maulid Nabi dapat menjadi salah satu bentuk ekspresi cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW, selama dilakukan dengan cara yang sesuai dengan syariat.

Dari perspektif Al-Qur'an dan Sunnah, meskipun tidak ada perintah langsung untuk merayakan Maulid Nabi, mencintai dan menghormati Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang sangat dianjurkan.

Beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa memperingati peristiwa penting dalam kehidupan Nabi, seperti kelahiran beliau, bisa menjadi salah satu bentuk pengamalan ajaran tersebut.

Namun, penting untuk diingat bahwa perayaan Maulid Nabi harus dilakukan dengan cara yang tidak melanggar syariat dan tetap fokus pada penguatan iman, kecintaan kepada Nabi, dan peningkatan ibadah kepada Allah SWT.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.