AKURAT.CO Dalam perdebatan yang melibatkan tokoh publik seperti Silfester Matutina dan Rocky Gerung, tak jarang emosi menjadi salah satu faktor yang mendominasi.
Baru-baru ini, perdebatan antara Silfester dan Rocky menyita perhatian masyarakat, terutama ketika Silfester terlihat terpancing emosi.
Momen ini menjadi sorotan banyak pihak, termasuk kalangan umat Islam yang mempertanyakan bagaimana ajaran Islam menyikapi situasi di mana seseorang mengalami dorongan emosi dalam menghadapi perbedaan pendapat.
Islam Mengajarkan Kesabaran dalam Berdebat
Dalam ajaran Islam, perdebatan atau diskusi seharusnya dilakukan dengan cara yang baik dan penuh hikmah. Allah SWT dalam Al-Qur’an berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik". (QS. An-Nahl: 125).
Baca Juga: Ahmed dan Salmiati Menikah, Ini 5 Hal Penting Sebelum Menikah dengan Orang Berbeda Negara menurut Islam
Ayat ini menekankan bahwa dalam menghadapi perbedaan pendapat atau perdebatan, seorang Muslim diharapkan tetap tenang, penuh hikmah, dan menggunakan cara yang terbaik. Tidak dibenarkan untuk terpancing emosi, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata atau tindakan yang tidak sesuai dengan akhlak Islami.
Menahan Amarah Adalah Tanda Kekuatan Iman
Islam juga memberikan perhatian besar terhadap pengendalian emosi, terutama amarah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
"Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menekankan bahwa kekuatan seseorang bukan diukur dari kemampuan fisik atau keberaniannya dalam menghadapi orang lain, melainkan kemampuannya dalam mengendalikan diri ketika dihadapkan pada situasi yang memancing kemarahan.
Menyikapi Perbedaan dengan Bijak
Islam sangat menghargai perbedaan pendapat, terutama dalam konteks diskusi yang membangun. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap emosional atau mencela orang lain. Allah SWT berfirman:
وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًۭا
"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)
Ayat ini mengajarkan bahwa dalam situasi apa pun, baik dalam keadaan setuju maupun tidak setuju, seorang Muslim harus tetap menjaga lisannya dan berbicara dengan baik kepada siapa pun.
Hikmah dari Kasus Silfester dan Rocky
Dari peristiwa perdebatan antara Silfester Matutina dan Rocky Gerung, umat Islam dapat mengambil pelajaran bahwa emosi seharusnya tidak menjadi faktor dominan dalam menghadapi perbedaan pandangan.
Baca Juga: 5 Manfaat Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia Perspektif Islam
Islam menganjurkan dialog yang konstruktif, penuh hikmah, serta pengendalian diri sebagai tanda kedewasaan dan kekuatan iman. Dalam hal ini, sikap sabar dan pengendalian amarah menjadi kunci utama untuk mencapai diskusi yang produktif dan harmonis.
Semoga setiap perdebatan yang terjadi di ruang publik, termasuk antara tokoh-tokoh nasional, bisa menjadi contoh dialog yang menghormati perbedaan, mengedepankan hikmah, serta menumbuhkan rasa saling menghargai, sesuai dengan ajaran Islam.