AKURAT.CO Rebo Wekasan, juga dikenal sebagai Rabu Pungkasan, adalah hari Rabu terakhir di bulan Safar menurut kalender Hijriah.
Di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jawa, hari ini sering dianggap sebagai hari yang penuh dengan energi negatif atau malapetaka.
Namun, ada pula yang meyakini bahwa Rebo Wekasan dapat menjadi hari yang penuh berkah jika diisi dengan doa-doa dan amalan-amalan tertentu.
Asal Usul Keyakinan Rebo Wekasan
Kepercayaan mengenai Rebo Wekasan berasal dari tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa pada hari ini, Allah SWT menurunkan 320.000 jenis bala' (musibah) ke dunia.
Baca Juga: Anak Kecil yang Meninggal Saat Bayi, Masuk Surga atau Neraka?
Oleh karena itu, banyak yang melakukan ritual tertentu untuk menghindari musibah tersebut, seperti mandi besar, membaca doa-doa khusus, dan melakukan sedekah.
Dalil yang Digunakan
Meskipun kepercayaan ini sangat populer, dalam Islam, tidak ada dalil yang secara khusus menyebutkan bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar merupakan hari nahas. Dalam hadits shahih, Nabi Muhammad SAW bersabda:
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ
(“Tidak ada penyakit yang menular tanpa kehendak Allah, tidak ada kepercayaan buruk terhadap burung, tidak ada kepercayaan buruk terhadap roh, dan tidak ada kepercayaan buruk terhadap bulan Safar.”)
(HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)
Hadits ini menegaskan bahwa Islam tidak mengakui adanya hari atau bulan yang membawa sial. Keyakinan bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar adalah hari nahas bertentangan dengan ajaran Islam yang murni, yang mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT.
Perspektif Ulama
Para ulama besar Islam juga menyatakan bahwa tidak ada landasan syar’i yang mendukung keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari nahas. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Lata'if al-Ma'arif menulis:
مَنْ خُطَّتْ لَهُ السَّعَادَةُ فِي الْأَزَلِ لَا تَضُرُّهُ الْأَيَّامُ وَلَا اللَّيَالِي وَمَنْ خُطَّتْ لَهُ الشَّقَاوَةُ لَا تَنْفَعُهُ الْأَيَّامُ وَلَا اللَّيَالِي
(“Barang siapa yang telah ditentukan kebahagiaannya dalam azali (takdir Allah), maka hari dan malam tidak akan membahayakannya, dan barang siapa yang telah ditentukan kesengsaraannya dalam azali, maka hari dan malam tidak akan bermanfaat baginya.”)
Ini berarti bahwa keyakinan terhadap hari-hari tertentu sebagai hari sial atau nahas tidak memiliki dasar dalam syariat Islam, dan seharusnya ditinggalkan oleh umat Muslim.
Rebo Wekasan sebagai Hari Keberuntungan?
Di sisi lain, beberapa orang percaya bahwa Rebo Wekasan bisa menjadi hari yang penuh berkah jika diisi dengan ibadah dan doa.
Baca Juga: Doa Hari Jumat untuk Para Pengusaha, Agar Usaha Lancar dan Bisnis Sukses
Misalnya, beberapa amalan yang biasa dilakukan pada hari ini termasuk shalat sunnah, membaca doa-doa perlindungan, dan memberikan sedekah kepada yang membutuhkan.
Islam mengajarkan bahwa segala bentuk keberuntungan dan kesialan semata-mata bergantung pada kehendak Allah SWT.
Dengan demikian, bagi mereka yang memanfaatkan hari Rebo Wekasan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, hari ini bisa saja menjadi hari yang penuh keberkahan.
Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari nahas sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat dalam Islam.
Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa hari apapun dapat menjadi penuh berkah jika diisi dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.
Daripada memandang Rebo Wekasan sebagai hari yang membawa kesialan, lebih baik memanfaatkannya untuk memperbanyak amal shalih dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dengan demikian, Rebo Wekasan bukanlah hari yang harus ditakuti, melainkan hari yang bisa menjadi kesempatan untuk meraih keberkahan dan rahmat dari Allah SWT.