Benarkah pada Rebo Wekasan Akan Turun Banyak Musibah di Dunia?

AKURAT.CO Rebo Wekasan, atau Rebo Pungkasan, adalah istilah yang sering digunakan di kalangan masyarakat Jawa untuk menyebut hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Terdapat kepercayaan di sebagian masyarakat bahwa pada hari ini, banyak musibah akan turun ke dunia.
Namun, apakah kepercayaan ini memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam?
Kepercayaan tentang Rebo Wekasan
Di beberapa kalangan, Rebo Wekasan dianggap sebagai hari yang penuh dengan kesialan dan musibah.
Oleh karena itu, beberapa orang melakukan ritual-ritual tertentu, seperti sholat tolak bala atau membaca doa-doa khusus, dengan harapan agar terhindar dari malapetaka.
Namun, dalam ajaran Islam, segala bentuk keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan Hadis harus dikaji ulang.
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik itu kebaikan maupun keburukan, adalah atas kehendak Allah SWT.
Baca Juga: Mayoret Pakai Jilbab Viral Gunakan Rok Pendek dan Berjoget Depan Guru, Apa yang Salah menurut Islam?
Dalil-dalil dalam Al-Qur'an dan Hadis
1. Kepastian Takdir dalam Islam
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
"Katakanlah: 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.'" (QS. At-Taubah: 51)
Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada seorang Muslim sudah tertulis dalam takdir Allah.
Tidak ada hari atau waktu tertentu yang memiliki kekuatan untuk membawa kesialan atau keberuntungan, karena semua itu berada di bawah kehendak Allah.
2. Larangan Tathayyur (Percaya pada Pertanda Buruk)
Rasulullah SAW bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
"Tidak ada penularan (tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (kepercayaan terhadap pertanda buruk), tidak ada shafar (kepercayaan terkait bulan Shafar), dan tidak ada hama." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini dengan tegas menolak berbagai kepercayaan yang mengaitkan bulan Shafar dengan kesialan atau musibah.
Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap Rebo Wekasan sebagai hari yang membawa musibah tidaklah memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.
3. Kepercayaan terhadap Hari-hari Tertentu
Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
"Tathayyur (percaya pada pertanda buruk) itu syirik." (HR. Ahmad)
Baca Juga: Gadis Kenakan Jilbab Viral Lantaran Gunakan Rok Pendek, Ini Respons Al-Qur'an
Menurut para ulama, kepercayaan terhadap hari-hari tertentu sebagai pembawa kesialan bisa mengarah kepada syirik jika seseorang meyakini bahwa hari tersebut memiliki kekuatan tersendiri tanpa kehendak Allah.
Kepercayaan bahwa Rebo Wekasan adalah hari yang dipenuhi musibah tidaklah memiliki dasar yang kuat dalam Islam.
Dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Hadis menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah dan tidak terikat pada waktu atau hari tertentu.
Sebagai Muslim, kita diajarkan untuk senantiasa bertawakal kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala bentuk kepercayaan yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam agama.
Dengan demikian, daripada mengkhawatirkan hari tertentu seperti Rebo Wekasan, lebih baik kita fokus untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, karena hanya dengan itu kita dapat menghindari segala bentuk musibah, baik di dunia maupun di akhirat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









